Search

Pertemuan Besar SCO: Asia dan Dunia Selatan Tunjukkan Arah Baru Dunia

KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai dengan dihadiri lebih dari 20 pemimpin dunia kini menjadi ajang untuk menunjukkan solidaritas dan mulai tampak tanda-tanda lahirnya dunia multipolar. (Tasnim News)

BERITAALTERNATIF.COM – Pada 12 September 2025, KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) diselenggarakan di Kota Tianjin, Tiongkok. Pertemuan ini digambarkan sebagai pertemuan terbesar sejak organisasi ini berdiri pada 2001.

Lebih dari 20 kepala negara hadir, termasuk dari Tiongkok, Rusia, India, Iran, Pakistan, Belarus, serta negara-negara Asia Tengah. Turut serta juga perwakilan dari organisasi internasional seperti PBB dan ASEAN. Semua ini menjadikan KTT sebagai panggung untuk memperkuat semangat kebersamaan dan kerja sama multilateral.

Agenda utama pertemuan mencakup penguatan kerja sama ekonomi, keamanan, dan teknologi. Salah satu sorotan adalah usulan Tiongkok untuk mendirikan Bank Pembangunan SCO, mengembangkan platform energi, serta memperluas penggunaan sistem digital seperti satelit BeiDou. Beijing, sebagai tuan rumah sekaligus penggerak utama, menawarkan dana hibah sebesar 2 miliar yuan (sekitar 281 juta dolar) dan pinjaman 10 miliar yuan untuk tiga tahun ke depan. Langkah ini memperlihatkan ambisi Tiongkok sebagai pusat stabilitas ekonomi dan teknologi di Asia dan Dunia Selatan.

KTT juga menghasilkan 25 dokumen kerja sama, termasuk Deklarasi Tianjin, strategi pembangunan hingga 2035, dan berbagai kesepakatan di bidang keamanan, pemberantasan narkoba, kecerdasan buatan, serta pembangunan berkelanjutan. Semua ini memperlihatkan upaya serius menciptakan kerangka kerja sama multilateral yang lebih solid.

Banyak pengamat menilai pertemuan ini bukan sekadar forum regional. Lebih jauh, KTT ini mencerminkan perubahan besar dalam tatanan global: dari dominasi unipolar Barat menuju multipolaritas yang dipimpin oleh kekuatan-kekuatan baru di Asia dan Dunia Selatan.

Tiongkok tampil menonjol dengan gagasan bank pembangunan, dana miliaran yuan, serta fokus pada kerja sama energi, digital, dan infrastruktur. Semua itu menempatkan Beijing sebagai penyeimbang ekonomi-politik terhadap kebijakan perdagangan agresif Amerika Serikat.

Sementara itu, AS yang menerapkan tarif tinggi pada mitra dagangnya, termasuk India, dan mengancam sanksi terhadap negara seperti Rusia, semakin dipandang tidak dapat dipercaya. Dalam kondisi seperti ini, Tiongkok menawarkan dirinya sebagai pusat perdagangan dan teknologi alternatif bagi Asia dan Dunia Selatan.

Deklarasi Tianjin yang mengecam serangan militer AS dan Israel terhadap Iran, serta penolakan kolektif terhadap “hegemoni” dan “mentalitas Perang Dingin”, memperlihatkan tekad bersama untuk menata ulang aturan global. Simbol kuat muncul saat Xi Jinping, Vladimir Putin, dan Narendra Modi bergandengan tangan, menunjukkan kebersamaan Timur menghadapi Barat.

Pertemuan Xi dan Modi di sela-sela KTT, yang merupakan kunjungan pertama Modi ke Tiongkok dalam tujuh tahun terakhir, menjadi titik balik penting. Kedua pemimpin menekankan perlunya kerja sama dan bahkan sepakat membuka kembali penerbangan langsung yang sempat terhenti sejak bentrokan perbatasan tahun 2020.

Situasi ini terjadi ketika India tengah menghadapi krisis hubungan terburuk dengan AS dalam 25 tahun terakhir akibat tarif 50% atas impor minyak dari Rusia. Hal itu membuat New Delhi semakin terdorong mempererat hubungan dengan Tiongkok dan tetap mempertahankan kedekatan tradisionalnya dengan Moskow.

Namun, hambatan tetap ada. Sengketa perbatasan Himalaya dan hubungan erat Tiongkok dengan Pakistan membuat India tetap berhati-hati. Bahkan, delegasi India meninggalkan KTT lebih awal sebelum upacara “Hari Kemenangan” digelar, sebagai tanda kehati-hatian tersebut.

Iran, sebagai anggota baru SCO, tampil aktif dengan mengusulkan sistem “rekening khusus SCO” dan menekankan pentingnya pelabuhan Chabahar sebagai jalur strategis yang menghubungkan Tiongkok, Rusia, dan India. Dukungan penuh anggota terhadap Iran atas serangan Barat memperkuat posisi Teheran sebagai pemain kunci dalam struktur baru ini.

Selain itu, usulan seperti dana pertukaran mata uang, transaksi dengan mata uang lokal, dan pembangunan koridor transportasi regional menunjukkan tekad untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS serta membangun sistem keuangan multipolar.

Pertanyaan besar adalah: apakah kebersamaan ini akan menjadi aliansi permanen antara Tiongkok dan India? Potensinya jelas besar, mengingat kedua negara memiliki populasi masif dan ekonomi yang saling melengkapi. Tetapi rasa saling curiga belum sepenuhnya hilang.

Meski begitu, KTT Tianjin memperlihatkan dunia yang sedang bergeser. Dengan 25 dokumen kerja sama, simbol-simbol kebersamaan, dan dukungan terbuka untuk multipolaritas, konferensi ini menunjukkan semakin pudarnya dominasi Barat dan semakin kuatnya suara Asia dan Dunia Selatan di panggung global. (*)

Sumber: Tasnim News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA