BERITAALTERNATIF.COM – Serangan brutal terhadap sebuah pesta pernikahan di Pelabuhan Kuhestak telah menjadi salah satu insiden paling kontroversial dalam beberapa hari terakhir dalam perang Amerika Serikat terhadap Iran. Sementara para pejabat Amerika, alih-alih memberikan penjelasan yang jelas mengenai sasaran serangan, masih mengatakan bahwa insiden tersebut “sedang dalam penyelidikan”. Sikap ini justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan mengenai tanggung jawab Amerika terhadap para korban sipil.
Namun, ketidakjelasan mengenai serangan tersebut tidak hanya berasal dari posisi Washington. Pada saat yang sama, sejumlah kelompok oposisi dan kelompok anti-pemerintah di luar negeri berusaha mengubah fokus persoalan dengan menonjolkan klaim mengenai kedekatan lokasi kejadian dengan sebuah menara telekomunikasi, fasilitas militer, atau bahkan narasi serupa dengan insiden sekolah di Minab. Mereka berupaya menempatkan tanggung jawab atas serangan di bawah bayang-bayang kemungkinan adanya sasaran tertentu di sekitar lokasi kejadian.
Upaya pembentukan narasi tersebut berlangsung ketika laporan media Barat dan analisis para ahli independen menunjukkan bukti mengenai penggunaan amunisi Amerika dan dampaknya di lokasi tempat warga sipil berada. Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa insiden tersebut tidak dapat dijelaskan hanya berdasarkan klaim dari pihak-pihak yang terlibat, sekaligus kembali menegaskan perlunya pertanggungjawaban mengenai siapa yang melakukan serangan dan bagaimana serangan tersebut terjadi.
Pernikahan di Bawah Serangan Amerika
Serangan Amerika terhadap Pelabuhan Kuhestak beberapa malam lalu mengubah pesta pernikahan sebuah keluarga menjadi tempat yang penuh darah. Dalam serangan tersebut, sedikitnya empat warga sipil, termasuk seorang anak, tewas, sementara sedikitnya 68 orang lainnya terluka. Foto-foto yang beredar dari lokasi menunjukkan kehancuran bangunan tempat pesta berlangsung serta berbagai perlengkapan pernikahan yang berserakan di antara reruntuhan.
Sebaliknya, alih-alih memberikan penjelasan yang jelas mengenai sasaran yang diserang di kawasan tersebut, para pejabat Amerika mengatakan bahwa insiden itu sedang diselidiki. Wakil Presiden AS, J.D. Vance, sambil mengklaim bahwa AS tidak dengan sengaja menargetkan warga sipil, mengatakan bahwa masalah tersebut sedang dalam penyelidikan. Namun, sikap ini tetap tidak menjawab pertanyaan mengenai mengapa lokasi tempat keluarga-keluarga berkumpul terkena serangan.
Sementara itu, Bulan Sabit Merah Iran meminta penyelidikan independen terhadap berbagai aspek insiden tersebut. Laporan dari lokasi juga menunjukkan bahwa di samping bangunan tempat pesta berlangsung terdapat sebuah menara telekomunikasi yang juga menjadi sasaran serangan. Kedekatan ini kemudian menjadi salah satu unsur utama dalam narasi mengenai penyebab insiden.
Namun, keberadaan sebuah sasaran militer atau komunikasi di dekat lokasi sipil dengan sendirinya tidak menjelaskan mengapa bangunan tempat pesta pernikahan berlangsung ikut terkena serangan. Pertanyaan utamanya tetap: Apa sebenarnya sasaran operasi tersebut, dan bagaimana serangan yang disebut ditujukan untuk menghancurkan infrastruktur militer justru mengenai lokasi tempat warga sipil berada?
Sumber-Sumber Barat Memperkuat Tuduhan
Bertentangan dengan apa yang berusaha digambarkan oleh sejumlah kelompok oposisi, narasi mengenai serangan Amerika terhadap pesta pernikahan di Kuhestak tidak semata-mata didasarkan pada keterangan pejabat Iran. New York Times, Reuters, dan Associated Press masing-masing telah memeriksa foto, video, serta sisa-sisa amunisi dan menerbitkan bukti yang memperkuat dugaan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh pasukan Amerika.
Dalam penyelidikannya, New York Times menyebut serangan Amerika sebagai penyebab bangunan tempat pesta berlangsung terkena hantaman. Dalam menganalisis gambar dan sisa-sisa persenjataan, surat kabar Amerika tersebut mengutip analisis Trevor Ball, seorang pakar senjata independen dan mantan teknisi pembuangan persenjataan peledak Angkatan Darat AS.
Ia mengidentifikasi sebagian puing yang ditemukan di lokasi sebagai bagian dari amunisi berpemandu buatan Amerika dan mengaitkannya dengan persenjataan yang tidak diketahui berada dalam kepemilikan pasukan Iran.
Reuters melangkah lebih jauh dengan meminta empat pakar persenjataan memeriksa kasus tersebut. Berdasarkan pemeriksaan mereka, tiga pakar menilai bahwa amunisi Amerika merupakan kemungkinan yang besar. Mereka juga menilai pola kerusakan lebih sesuai dengan hantaman langsung amunisi yang diluncurkan dari udara daripada hipotesis bahwa rudal pertahanan udara Iran memantul atau menyimpang dari lintasannya.
Menurut kantor berita Inggris tersebut, dua pejabat Amerika mengonfirmasi bahwa militer Amerika melakukan operasi di kawasan Kuhestak pada malam yang sama dan menargetkan sebuah menara telekomunikasi yang berada dekat dengan lokasi pesta pernikahan.
Associated Press, dalam laporan lapangannya dari Kuhestak, menggambarkan insiden tersebut sebagai serangan udara Amerika. AP melaporkan bahwa para ahli mencurigai penggunaan amunisi berpemandu buatan Amerika, termasuk senjata seperti JSOW dan GBU-39, berdasarkan puing-puing yang ditemukan di lokasi.
Laporan tersebut juga mencatat adanya serangan terpisah terhadap menara telekomunikasi yang berada dekat bangunan tempat pesta berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan menara tersebut tidak serta-merta menjelaskan mengapa bangunan tempat tinggal tersebut ikut terkena serangan.
Media-media lain juga mengikuti kerangka pemberitaan yang serupa. Time memberitakan tentang “serangan terhadap sebuah pesta pernikahan di Iran selatan” dan menekankan bahwa Washington sedang menyelidiki kemungkinan keterlibatan pasukan Amerika. The Guardian juga dalam laporan lapangannya menyebut adanya “serangan Amerika terhadap sebuah pesta pernikahan di Kuhestak”.
Selain itu, personel militer Amerika baru-baru ini mengatakan kepada jaringan televisi Amerika MS NOW bahwa Pentagon telah memerintahkan mereka untuk turut menargetkan fasilitas sipil Iran selama serangan berlangsung.
Pengungkapan ini terjadi setelah dalam serangkaian serangan sebelumnya oleh pihak Amerika-Israel, sejumlah sasaran sipil juga telah menjadi target, termasuk sekolah putri di Minab, rumah sakit, bank, serta kawasan permukiman di Iran.
Keseluruhan laporan tersebut memperjelas satu hal penting: atribusi serangan kepada AS bukan lagi sekadar klaim media Iran yang dapat begitu saja disingkirkan sebagai “narasi Teheran”.
Mulai dari pemeriksaan teknis mengenai amunisi oleh New York Times dan Reuters, laporan lapangan Associated Press, hingga pemberitaan media seperti Time dan The Guardian, telah terbentuk serangkaian bukti independen yang memperkuat narasi bahwa amunisi buatan Amerika secara langsung menghantam lokasi tempat warga sipil berada. Meski demikian, Washington masih menolak menerima tanggung jawab akhir dan menyatakan bahwa insiden tersebut sedang diselidiki.
Pembentukan Narasi setelah Kejahatan
Setelah setiap serangan agresif dan kejahatan terjadi, pertempuran untuk menguasai narasi pun dimulai. Hal yang sama terjadi dalam insiden Kuhestak. Ketika laporan media dan bukti teknis semakin memperkuat pertanyaan mengenai peran Amerika dalam serangan tersebut, upaya untuk mengubah fokus persoalan masih terus berlangsung—mulai dari penegasan Washington bahwa insiden sedang diselidiki hingga penonjolan kemungkinan adanya sasaran di sekitar lokasi yang terkena serangan.
Di sisi lain, sejumlah kelompok oposisi bahkan sebelum hasil penyelidikan diketahui telah mengemukakan narasi untuk menjelaskan dan membenarkan insiden tersebut.
Meskipun kedua kecenderungan ini berasal dari titik yang berbeda, keduanya pada akhirnya bertemu pada satu titik, yaitu mengurangi tekanan untuk meminta pertanggungjawaban pihak yang melakukan serangan.
Contoh yang jelas adalah narasi mengenai menara telekomunikasi. Keberadaan menara tersebut dan fakta bahwa menara itu menjadi sasaran memang merupakan hal yang dapat diselidiki. Namun, kedekatannya dengan lokasi pesta pernikahan saja tidak dapat membenarkan serangan terhadap bangunan tempat warga sipil berada—terutama karena analisis para ahli menilai bahwa kemungkinan bangunan tersebut terkena hantaman langsung lebih besar.
Pola yang sama juga terlihat dalam kasus sekolah Minab. Kedekatan sekolah tersebut dengan sebuah fasilitas militer dijadikan alasan untuk mengalihkan pembahasan dari tanggung jawab pihak penyerang kepada lokasi geografis para korban.
Padahal, dalam prinsip hukum humaniter internasional, kedekatan sebuah tempat sipil dengan sasaran militer tidak secara otomatis mengubah tempat sipil tersebut menjadi sasaran militer.
Pentingnya pembentukan narasi semacam ini terletak pada kemampuannya mengubah kejahatan dari sebuah “persoalan tanggung jawab” menjadi “persoalan pembenaran”.
Dalam kerangka tersebut, cukup dikatakan bahwa serangan dilakukan untuk tujuan lain, bahwa insiden terjadi akibat kesalahan intelijen, atau bahwa korban berada di dekat fasilitas militer. Setelah itu, persoalan utama—yaitu bagaimana sebuah operasi militer menyebabkan kematian warga sipil—menjadi terpinggirkan.
Narasi semacam ini bahkan dapat menjalankan fungsi politiknya tanpa satu pun dari klaim tersebut terbukti. Narasi tersebut dapat mengalihkan perhatian publik dari tuntutan untuk mendapatkan pertanggungjawaban yang jelas.
Karena itu, persoalannya bukan hanya apa yang pada akhirnya akan dikatakan Amerika mengenai serangan tersebut. Persoalan yang lebih penting adalah narasi apa yang akan tertanam dalam opini publik sebelum kebenaran terungkap.
Jika narasi yang bertujuan membenarkan serangan dapat setiap kali melemahkan tanggung jawab dengan menemukan kemungkinan adanya suatu sasaran, maka terbentuk mekanisme yang berbahaya. Dalam mekanisme tersebut, pihak penyerang tidak perlu membuktikan dirinya tidak bersalah; mereka hanya perlu menempatkan korban dalam posisi yang dicurigai.
Mekanisme semacam itu tidak membantu mengungkap kebenaran dan juga tidak memungkinkan tanggung jawab atas serangan tetap berada di tempat yang semestinya—yaitu pada pihak yang melakukan serangan.
HAM di Bawah Reruntuhan Para Pengklaimnya
Tragedi Kuhestak bukan sekadar insiden perang yang menewaskan sejumlah warga sipil. Ini juga merupakan ujian terhadap klaim Barat mengenai hak asasi manusia.
Jika perlindungan terhadap warga sipil merupakan prinsip universal, prinsip tersebut tidak seharusnya berubah berdasarkan kewarganegaraan korban atau identitas pihak yang melakukan serangan.
Pengalaman perang Amerika di Irak dan Afghanistan menunjukkan bahwa kematian warga sipil berulang kali dijelaskan dalam bahasa resmi Washington dengan istilah seperti “kerusakan tambahan” (collateral damage), “kesalahan operasional”, atau “dampak yang tidak disengaja”.
Istilah-istilah tersebut mungkin dapat menggambarkan aspek tertentu dari sebuah operasi militer, tetapi tidak boleh menggantikan pertanggungjawaban mengenai bagaimana serangan tersebut terjadi.
Dari sudut pandang ini, tuntutan untuk melakukan penyelidikan independen terhadap insiden Kuhestak menjadi penting. Jika Washington menyatakan bahwa mereka tidak sengaja menargetkan warga sipil dan bahwa insiden tersebut sedang diselidiki, hasil penyelidikan itu harus memberikan jawaban yang jelas mengenai sasaran operasi, jenis amunisi yang digunakan, serta alasan mengapa lokasi tempat warga sipil berada ikut terkena serangan.
Bulan Sabit Merah Iran juga, melalui langkah yang dinilai terukur, telah meminta Mahkamah Pidana Internasional untuk menyelidiki insiden tersebut. Langkah ini berupaya menggeser persoalan dari sekadar sengketa politik antara Teheran dan Washington menjadi tuntutan hukum mengenai pertanggungjawaban.
Pada akhirnya, Kuhestak dapat menjadi ujian terhadap kredibilitas klaim Barat mengenai hak asasi manusia—bukan ujian mengenai siapa yang paling banyak berbicara tentang hak asasi manusia, melainkan apakah standar yang sama yang dituntut untuk korban-korban lain juga akan diterapkan terhadap korban-korban Iran. (*)
Sumber: Mehr News











