Search

Perkembangan Ukraina | Paket Usulan Kuat Amerika Serikat untuk Rusia demi Penyelesaian Konflik

Rencana Amerika Serikat terkait proses rekonstruksi Ukraina, penegasan Merz mengenai peran Jerman sebagai penjamin keamanan Kyiv, upaya Eropa untuk melemahkan posisi Amerika Serikat dalam mencapai kesepakatan damai, serta pernyataan Vladimir Putin yang menyebut Barat sebagai pihak yang memulai konflik pada tahun 2022, menjadi sejumlah peristiwa paling penting seputar perang Ukraina. (Tasnim News).

BERITAALTERNATIF – Situs berita Axios mengutip seorang pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan namanya melaporkan bahwa pemerintah Amerika Serikat berencana dalam waktu dekat mendatangi Rusia dengan sebuah paket usulan kuat untuk menyelesaikan krisis Ukraina.

Dalam laporan tersebut disebutkan: “Misinya adalah menyusun paket usulan terkuat yang mungkin, sehingga dapat diajukan sebuah rencana kepada Rusia yang memungkinkan berakhirnya konflik militer di Ukraina.”

Situs berita itu menambahkan bahwa Amerika Serikat ingin menyampaikan paket usulan tersebut sesegera mungkin kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Sementara itu, harian Politico pada Rabu, mengutip sumber-sumber yang mengetahui persoalan ini, mengungkapkan bahwa pihak Rusia dan Amerika Serikat kemungkinan akan menggelar perundingan mengenai penyelesaian konflik Ukraina pada akhir pekan, 20 dan 21 Desember, di kota Miami. Berdasarkan informasi tersebut, jika pertemuan ini terlaksana, Kirill Dmitriev, utusan khusus Presiden Rusia untuk kerja sama investasi dan ekonomi dengan negara-negara asing, akan hadir dalam delegasi Rusia. Dari pihak Amerika Serikat, delegasi akan diikuti oleh Steven Witkoff, utusan khusus Presiden Amerika Serikat, serta Jared Kushner, menantu Donald Trump.

Namun demikian, surat kabar tersebut mencatat bahwa peluang tercapainya kesepakatan yang juga dapat diterima oleh pihak Ukraina dinilai “sangat rendah”.

Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu menyambut baik kemajuan yang dicapai dalam perundingan dengan pemerintahan Donald Trump. Dalam pidatonya pada sebuah pertemuan di Kementerian Pertahanan Rusia, Putin menegaskan bahwa Moskow mendukung terbentuknya kerja sama yang saling menguntungkan dan setara dengan Washington.

Berikut ini rangkuman perkembangan terkait hari ke seribu tiga ratus sembilan puluh empat perang Ukraina.

Amerika Serikat Ingin Mendapatkan 50 Persen Keuntungan dari Rekonstruksi Ukraina

Seymour Hersh, analis dan jurnalis senior Amerika Serikat, berpendapat bahwa pihak Amerika menginginkan 50 persen dari keuntungan yang dihasilkan oleh seluruh kontraktor yang terlibat dalam proyek rekonstruksi Ukraina. Menurutnya, lembaga yang bertanggung jawab atas rekonstruksi tersebut akan berada di bawah kepemimpinan utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Steven Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner.

Analis Amerika itu mengatakan bahwa kedua tokoh tersebut bersikeras agar Amerika Serikat menerima 50 persen dari keuntungan setiap perusahaan yang terlibat dalam rekonstruksi Ukraina di bawah manajemen Amerika.

Hersh menambahkan bahwa lembaga tersebut, di bawah pengelolaan Witkoff dan Kushner, akan bertanggung jawab memilih kontraktor serta mengatur distribusi aliran keuangan.

Putin Menuduh Barat sebagai Pemicu Konflik Militer di Ukraina

Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu sore, dalam pertemuan dengan para pejabat Kementerian Pertahanan, menyatakan bahwa negara-negara Barat memulai konflik militer di Ukraina pada tahun 2022 dan bahwa Rusia sejak saat itu berupaya mengakhirinya. Ia mengatakan bahwa bukan Rusia yang memulai perang pada tahun tersebut, melainkan kekuatan destruktif di Ukraina dengan dukungan Barat, dan pada kenyataannya Barat sendiri yang memicu perang ini, sementara Rusia hanya berusaha menghentikan dan mengakhirinya.

Putin mengingatkan bahwa Moskow pada awalnya berusaha menyelesaikan konflik melalui cara-cara damai dan perundingan di Minsk, namun setelah menyadari bahwa pihaknya telah ditipu, Rusia terpaksa menempuh jalur militer untuk mencapai solusi. Ia juga menuduh Barat secara sadar meningkatkan eskalasi ketegangan.

Presiden Rusia menambahkan bahwa semua pihak mengira Rusia akan dihancurkan dan diporak-porandakan dalam waktu singkat, dan bahwa negara-negara Eropa segera mengikuti langkah-langkah pemerintahan Amerika Serikat sebelumnya dengan harapan dapat mengambil keuntungan dari runtuhnya Rusia. Ia menyebut tindakan Uni Eropa sebagai upaya untuk “membalas dendam” dan merebut kembali apa yang mereka anggap telah hilang selama bertahun-tahun. Putin juga menyatakan bahwa jika Donald Trump saat itu menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, kemungkinan besar proses tersebut tidak akan dibiarkan terjadi. Ia menegaskan bahwa seluruh upaya Barat untuk melemahkan Rusia telah gagal.

Upaya Eropa Menghalangi Penyelesaian Konflik Ukraina oleh Trump

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Rabu di Moskow mengatakan bahwa Uni Eropa berupaya melemahkan langkah-langkah Donald Trump dalam menyelesaikan konflik Ukraina, termasuk melalui penyitaan aset Rusia yang dibekukan.

Lavrov menyatakan bahwa Rusia mengutuk praktik penerapan langkah-langkah koersif sepihak yang merusak norma hukum internasional. Ia menambahkan bahwa hal ini kini terlihat jelas dalam krisis Ukraina, ketika Eropa berusaha melemahkan kecenderungan konstruktif pemerintahan Donald Trump, termasuk dengan merampas aset Rusia yang sebelumnya dinyatakan kebal dan tidak dapat disentuh.

Lavrov menegaskan bahwa Uni Eropa telah melampaui seluruh norma dan prinsip yang dapat dibayangkan dalam sistem hubungan internasional terkait isu aset Rusia, dan bahwa Eropa juga melakukan banyak tindakan lain yang merusak prinsip-prinsip yang selama ini mereka sendiri promosikan, termasuk dalam kerangka globalisasi.

Amerika Serikat Berniat Menggunakan Aset Rusia untuk Perdamaian Ukraina

Harian Washington Post melaporkan bahwa pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyampaikan kepada negara-negara Eropa bahwa mereka berniat menggunakan aset Rusia yang dibekukan untuk menyelesaikan konflik Ukraina. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Eropa menerima pesan yang jelas bahwa Amerika Serikat ingin memanfaatkan aset tersebut untuk mencapai kesepakatan mengenai Ukraina.

Menurut laporan ini, Washington memberikan tekanan aktif kepada negara-negara dan para pemimpin Eropa agar menyetujui penggunaan aset Rusia yang dibekukan sebagai jaminan pinjaman bagi Ukraina. Pemerintah Amerika Serikat memandang langkah ini sebagai bagian penting dari proses penyelesaian damai, meskipun diakui bahwa kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan ketegangan antara Amerika Serikat dan Eropa.

Penegasan Merz tentang Peran Jerman sebagai Penjamin Keamanan Ukraina

Kanselir Jerman Friedrich Merz dalam pidatonya di parlemen menyatakan bahwa Jerman, bersama negara-negara anggota NATO lainnya, harus menjadi bagian dari penjamin keamanan Ukraina setelah konflik berakhir. Ia mengatakan bahwa Jerman harus berkontribusi dalam memberikan jaminan keamanan kepada Ukraina setelah tercapainya gencatan senjata.

Merz menambahkan bahwa rincian partisipasi tersebut perlu dibahas pada waktu yang tepat, dan menyatakan harapan agar proses diplomatik yang telah dimulai dapat berlanjut hingga tuntas. Ia sebelumnya, pada 15 Desember dalam konferensi pers bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, menyatakan bahwa Kyiv memiliki peluang untuk mencapai “perdamaian sejati” dan bahwa setelah lebih dari tujuh jam pembicaraan, kemajuan diplomatik terbesar telah dicapai.

Peringatan Hungaria dan Sikap China

Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto memperingatkan tentang meningkatnya “fanatisme militer” di Eropa Barat dan menyatakan bahwa para pemimpin kawasan tersebut berusaha melemahkan dialog antara Moskow dan Washington. Ia mengatakan bahwa Budapest mendukung inisiatif perdamaian, namun harus menyaksikan upaya sebagian pemimpin Eropa Barat yang menghambat perundingan tingkat tinggi Rusia dan Amerika Serikat.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menegaskan bahwa Beijing menentang penggunaan sepihak aset Rusia yang dibekukan untuk membantu Ukraina. Ia menyatakan bahwa China secara konsisten menentang sanksi sepihak yang melanggar hukum internasional dan tidak disetujui oleh Dewan Keamanan PBB, serta menekankan bahwa semua pihak harus menciptakan kondisi yang kondusif bagi perundingan damai dan solusi politik bagi krisis Ukraina. (*)

Sumber: Tasnim News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA