Search

Perbedaan Dasar antara Iran dan Amerika Serikat

Pernyataan terbaru Ayatollah Khamenei menegaskan satu poin fundamental yang membentuk empat dekade ketegangan kedua negara: perbedaan antara Iran dan Amerika Serikat bukan sekadar perselisihan politik yang bisa dinegosiasikan, melainkan benturan dua cara pandang terhadap dunia. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF – Salah satu tema utama dalam pernyataan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, pada 3 November adalah penekanan beliau terhadap “perbedaan inheren antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat.” Beliau menyatakan dengan jelas bahwa pertentangan antara sifat arogan Amerika dengan karakter revolusi Islam yang menginginkan kemandirian bukanlah pertentangan taktis atau sementara, tetapi berakar dari dua pandangan dan dua cara memandang kehidupan yang sama sekali berbeda. Interpretasi langsung dari pernyataan ini adalah bahwa persoalan Iran dan Amerika bukanlah sekadar sengketa politik antarnegara yang dapat diselesaikan melalui negosiasi atau senyuman diplomatik; konflik ini merupakan benturan antara dua pandangan tentang “manusia, kekuasaan, dan kebebasan.”

Di satu sisi terdapat cara pandang Amerika, yang berlandaskan pada humanisme dan kebebasan manusia tanpa batas; sebuah pandangan yang dalam praktiknya berujung pada pengutamaan kekuasaan. Dalam kerangka itu, segala cara bisa dibenarkan demi mempertahankan dominasi dan kepentingan—mulai dari perang, pendudukan negara lain, pembunuhan warga sipil tak berdosa, genosida, pelanggaran hak asasi manusia, hingga campur tangan dalam urusan dalam negeri negara-negara lain. Inilah watak arogan yang membuat Amerika menganggap dirinya sebagai “poros dunia” dan merasa tidak memiliki batas moral maupun kemanusiaan dalam mencapai tujuannya.

Berhadapan dengan itu, Republik Islam Iran, yang berlandaskan ajaran Islam dan keyakinan nasional, memandang bahwa kekuasaan bukanlah alat untuk mendominasi, tetapi sarana untuk menjaga martabat. Kekuasaan dalam pandangan ini harus mengabdi kepada manusia dan bergerak dalam koridor moral ilahi. Dalam cara pandang ini, manusia memiliki martabat bawaan, dan masyarakat harus dibangun berdasarkan tugas-tugas ilahi, ajaran para nabi, serta secara khusus tuntunan Rasulullah (SAW). Karena itu, kekuasaan dalam logika Revolusi Islam bertujuan “mengangkat derajat manusia” dan bukan merendahkannya.

Pertentangan dua cara pandang ini—yang satu lahir dari pemikiran liberal Barat yang menurun, dan yang lain tumbuh dari spiritualitas Islam serta semangat kemandirian—membuat perbedaan antara Iran dan Amerika bukan hanya tidak mungkin diselesaikan, tetapi justru semakin mengakar dan mendalam.

Salah satu manifestasi paling mencolok dari perbedaan ini adalah sikap terhadap rezim Zionis. Demi menjaga rezim palsu dan penjajah tersebut, Amerika menganggap segala bentuk kejahatan sebagai sesuatu yang dapat diterima—mulai dari dukungan senjata hingga dukungan terhadap persenjataan nuklir, menutup mata terhadap pembantaian rakyat Palestina, dan mendukung agresi terhadap negara-negara di kawasan. Amerika memandang kelangsungan hidupnya berkaitan dengan terus dipertahankannya kehidupan buatan rezim ini.

Sementara itu, Republik Islam Iran sama sekali tidak mengakui legitimasi Israel dan menganggapnya sebagai tumor kanker di jantung dunia Islam, yang dibentuk melalui kekerasan dan pendudukan atas tanah Palestina, Suriah, dan Lebanon.

Karena itu, Pemimpin Revolusi Islam menegaskan bahwa syarat bagi adanya kerja sama dengan Amerika Serikat adalah Amerika harus menghentikan dukungannya terhadap rezim Zionis, mengakhiri kejahatannya, dan berhenti mencampuri urusan dalam negeri negara lain—termasuk Iran. Dengan kata lain, Amerika harus meninggalkan sikap arogan agar tercipta dasar bagi kerja sama antara kedua negara. Tentu saja hal ini tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat dan memerlukan perubahan fundamental dalam struktur serta sifat sistem politik Amerika; sebuah poin yang ditegaskan secara jelas oleh Pemimpin Revolusi.

Pernyataan beliau kembali mengingatkan bahwa perbedaan Iran dengan Amerika bukanlah perbedaan antara dua pemerintahan, melainkan konfrontasi antara dua front: front kekuasaan dan dominasi berhadapan dengan front martabat manusia dan kemandirian. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Sayyid Ali Hadi

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA