BERITAALTERNATIF.COM – Pengamat Timur Tengah, Ismail Amin Pasannai, mempertanyakan konsistensi sikap pihak-pihak yang mengaku mendukung perjuangan Palestina, terutama dalam konteks eskalasi konflik antara Iran dan Israel.
Dalam pernyataannya, Ismail mengajukan pertanyaan mendasar: jika dalam perang kali ini Israel mengalami kekalahan dan rezimnya runtuh, apakah genosida terhadap warga Gaza akan berhenti? Dan apakah kondisi tersebut akan membuka peluang lebih besar bagi kemerdekaan Palestina?
Menurutnya, rekam jejak Iran sejak menjadi Republik Islam menunjukkan dukungan konsisten terhadap perjuangan Palestina.
Dia menilai, apabila Iran berada di posisi unggul dalam konfrontasi dengan Israel, maka peluang kemerdekaan Palestina akan semakin terbuka.
“Jika Iran menang, genosida di Gaza sangat mungkin berhenti. Dalam dua hari terakhir saja, ketika Iran melancarkan 14 gelombang serangan ke Israel, tidak ada laporan serangan besar Israel ke Gaza. Artinya, warga Gaza bisa tidur tanpa dentuman bom. Dua hari tanpa serangan saja sudah menjadi kebahagiaan bagi mereka,” ujarnya dalam video yang disebar di akun Facebooknya yang dikutip media ini pada Selasa (3/3/2026).
Ia menyebut kondisi tersebut seharusnya menjadi bahan refleksi bagi pihak-pihak yang selama ini menyerukan solidaritas untuk Palestina, namun enggan menunjukkan dukungan terhadap Iran dalam konflik regional saat ini.
Ismail juga menanggapi kritik terhadap Iran terkait keterlibatannya di Suriah pada masa pemerintahan Bashar al-Assad.
Dia menjelaskan bahwa kehadiran Iran di Suriah dilakukan atas permintaan pemerintah yang sah saat itu.
“Secara hukum internasional, Iran membantu pemerintah Suriah atas undangan resmi. Yang diperangi adalah kelompok pemberontak, bukan umat Islam secara umum,” tegasnya.
Ia menilai narasi yang menyebut Iran memerangi umat Islam di Suriah merupakan penyederhanaan yang dibangun oleh pihak-pihak yang mendukung kelompok pemberontak.
Sebagai perbandingan, Ismail menyinggung operasi kontra-terorisme di Indonesia oleh Densus 88. “Ketika Densus 88 menindak teroris yang kebetulan beragama Islam, apakah lantas disebut menembaki umat Islam? Tentu tidak. Yang ditembak adalah pelaku teror, bukan agamanya,” ujarnya.
Dia juga menyoroti konflik di Yaman. Ia menyebut bahwa mantan Presiden Yaman, Abdrabbuh Mansur Hadi, pernah meminta bantuan kepada Arab Saudi untuk menghadapi Houthi.
Namun, menurutnya, ketika serangan koalisi Saudi menimbulkan banyak korban sipil, narasi yang berkembang tidak menyebutnya sebagai pembantaian terhadap umat Islam.
“Ini yang saya sebut standar ganda. Ketika Iran membantu Suriah melawan pemberontak, disebut memerangi umat Islam. Tetapi ketika Saudi menggempur Yaman dan korban sipil berjatuhan, tidak ada narasi bahwa Saudi membantai umat Islam,” katanya.
Ia juga menyinggung peran Uni Emirat Arab dalam konflik di Sudan, yang menurutnya juga jarang dikaitkan dengan narasi serupa.
Di akhir pernyataannya, Ismail kembali menegaskan pertanyaan yang ia tujukan kepada publik.
“Jika ada kemungkinan genosida di Gaza berhenti dan peluang kemerdekaan Palestina terbuka lebih lebar, mengapa tidak mendukung pihak yang berpotensi mewujudkannya? Apa alasannya? Karena perbedaan mazhab?” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai dinamika geopolitik Timur Tengah, solidaritas terhadap Palestina, serta sikap negara-negara dan kelompok masyarakat terhadap konflik yang terus berkembang di kawasan tersebut. (*)
Penulis & Editor: Ufqil Mubin












