Search

Strategi Keluar dari Kebodohan Kebijakan Perang Trump terhadap Iran

Trump, yang tampaknya bingung membedakan kebijakan iklim dengan ramalan cuaca, menuduh PM Inggris Keir Starmer “menghancurkan negara dengan turbin angin” sambil mempromosikan minyak Laut Utara seolah-olah itu obat mujarab. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Awal bulan ini, Presiden Amerika Serikat yang disebut penulis sebagai “pikun”, Donald Trump, mengatakan bahwa Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sedang “menghancurkan negaranya dengan turbin angin” dalam ocehan khasnya yang membingungkan mengenai kebijakan energi hijau pemerintah Inggris.

Trump tampaknya tidak menyadari bahwa Sir Keir sedang berjuang mempertahankan karier politiknya setelah hasil pemilu yang buruk, di mana partai sayap kanan Reform UK memperoleh lonjakan besar kursi di dewan-dewan lokal Inggris dan nasionalis Wales, Plaid Cymru, untuk pertama kalinya mengalahkan Partai Buruh.

Ketika ditanya apakah perdana menteri Inggris itu sebaiknya mengikuti tuntutan anggota partai dan menterinya sendiri untuk mundur, Trump menjawab:

“Itu terserah dia, tapi sejak hari pertama saya sudah bilang kepadanya, kamu sedang dihancurkan oleh masalah energi… Buka Laut Utara. Kalian punya salah satu sumber energi terbesar di dunia.”

Penghuni Gedung Oval itu lalu melanjutkan pembicaraan mengenai dua topik favoritnya:

“Kalian punya salah satu ladang minyak terbesar di dunia, dan kalian tidak menggunakannya. Mereka tidak diizinkan menggunakannya, padahal itu salah satu minyak terbaik di dunia. Buka eksplorasi minyak di Laut Utara dan bersikap keras terhadap imigrasi. Eropa sangat dirugikan oleh imigrasi di seluruh kawasan.”

“Salah satu minyak terbaik di dunia.” Mungkin hanya kalah dari minyak zaitun dan minyak rambut. (Laut Utara memang memiliki minyak berkualitas tinggi, tetapi rincian RUU Kemandirian Energi Inggris yang diumumkan sehari kemudian sama sekali tidak menunjukkan bahwa intervensi Trump didengar atau disambut.)

Seperti biasa, ocehan berulang Donald “Tantrump” memperlihatkan obsesinya pada sumber daya alam dan imigrasi—minyak dan ICE. Plutokrat xenofobik ini sekali lagi menunjukkan kecintaannya pada bahan bakar fosil yang begitu obsesif sehingga bukan hanya mendorongnya meremehkan ancaman perubahan iklim, tetapi juga secara paradoks menyeretnya ke dalam konflik yang mengganggu pasokan “emas hitam” yang sangat ia dambakan, hampir sebesar kecintaannya pada emas sungguhan.

Konflik itu pada gilirannya telah merusak ekonomi global dan menghancurkan kehidupan jutaan warga sipil di kawasan tersebut serta miliaran orang lainnya di seluruh dunia.

Masih harus dilihat apakah obsesinya terhadap eksplorasi sumber daya alam akan membuat Trump melancarkan tekanan serupa terhadap Kanada, Greenland, Kepulauan Falkland, atau Laut Utara.

Trump kali ini tidak menyalahkan Starmer— sebagaimana biasanya—karena gagal mendukung perang kontroversialnya di Timur Tengah. Namun ketika ia bersiap menaiki Air Force One menuju Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping, mungkin ada hal lain yang lebih mendesak dalam pikirannya.

Presiden AS Richard Nixon terbang ke China pada 1972 untuk memperbaiki hubungan ekonomi, politik, dan diplomatik antara kedua negara, sekaligus berusaha melepaskan AS dari intervensi panjang dan bencana di Vietnam.

Namun, meski ada kemiripan konteks dan tujuan perjalanan mereka, kunjungan Trump tampaknya tidak akan menjadi sejarah besar seperti kunjungan Nixon. (Dua tahun kemudian, Nixon dipaksa mundur akibat skandal terbesar yang pernah mengguncang Gedung Putih kala itu—rangkaian kebohongan dan kejahatan. Mungkin ada kesamaan di sana juga.)

Sementara itu, mantan figur televisi kecil Amerika dan “Menteri Perang” Trump, Pete Hegseth, terus membuat atasannya terlihat relatif waras dan membuat pemerintahan Trump tampak segila dan sekejam kenyataannya.

Ia tidak hanya terus menyangkal besarnya jumlah korban—bahkan mengabaikan kematian anak-anak—dalam konflik ilegal tersebut, tetapi juga menyerukan agar militer AS tidak menunjukkan “belas kasihan ataupun ampunan” kepada musuh negara mereka.

Sikap macho dari seorang pengganggu bodoh dan tidak berpengetahuan itu dikecam para politisi senior dan komentator Amerika sebagai seruan kepada militer AS untuk melakukan kejahatan perang.

Tampak luar biasa bahwa individu yang begitu dimanjakan, arogan, tidak berperasaan, dan bodoh bisa memperoleh pengaruh dan kekuasaan sebesar itu. Namun kehadiran mereka di panggung dunia seharusnya tidak dianggap sebagai argumen melawan demokrasi rasional, melainkan alasan untuk segera memulihkannya.

Keir Starmer, dengan segala kekurangannya, melihat perang Trump dan mengatakan bahwa itu bukan urusan Inggris. Dengan melakukan itu, ia untuk sekali ini secara cerdas memahami, mencerminkan, dan memimpin suasana hati publik Inggris dengan jelas.

Politisi dari semua partai arus utama di Inggris pun terpaksa mengikuti sikap moralnya. Ia mengambil posisi etis yang masih sangat diharapkan banyak orang di partainya dan di seluruh negeri—sesuatu yang mereka harapkan dulu dilakukan pendahulunya, Tony Blair, lebih dari dua puluh tahun lalu.

Ketika George W. Bush melancarkan invasi ke Irak, ia tidak memiliki strategi keluar. Perang Trump melawan Iran—seperti perang tarif dan serangannya terhadap kebebasan rakyatnya sendiri—juga memiliki cacat fatal yang serupa.

Mungkin ada pihak-pihak di dalam pemerintahan Trump sendiri, dan lebih luas lagi di dunia politik Amerika, yang kini diam-diam menyusun strategi untuk “jalan keluar” pemimpin mereka saat ini, sebagaimana lawan-lawan Keir Starmer di partainya sendiri.

Semakin banyak pihak di dunia merasa bahwa hal itu perlu terjadi secepat mungkin. (*)

Penulis: Alex Roberts
Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA