Search

Aktivis Pro Palestina Ditahan Israel, Pemimpin Dunia Layangkan Kecaman Keras

Sejumlah negara Eropa mengecam perlakuan Israel terhadap para aktivis armada bantuan Gaza yang ditahan setelah muncul rekaman yang memperlihatkan para tahanan diborgol di atas kapal bantuan yang dicegat. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, mengecam keras perlakuan terhadap para aktivis pro-Palestina yang ditahan oleh pasukan Israel setelah pembajakan Armada Global Sumud. Ia menyebut rekaman yang dirilis Ben-Gvir tidak sesuai dengan martabat manusia.

Armada tersebut, yang berangkat dari Turki pekan lalu, berupaya menantang blokade panjang Israel terhadap Gaza dengan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina yang terkepung itu. Pasukan Israel mencegat konvoi sebelum mencapai Gaza dan menahan ratusan aktivis di atas kapal.

Ketegangan meningkat setelah Ben-Gvir mengunggah video di X yang memperlihatkan para tahanan berlutut dengan tangan diborgol ke belakang sementara lagu kebangsaan Israel diputar di latar belakang. Rekaman lain menunjukkan menteri sayap kanan itu mengibarkan bendera Israel di dekat para aktivis yang ditahan.

Menanggapi gambar-gambar tersebut, Meloni menuntut pembebasan segera warga negara Italia yang ditahan oleh otoritas Israel dan meminta Tel Aviv menyampaikan permintaan maaf.

“Tidak dapat diterima bahwa para demonstran ini, yang di antaranya banyak warga Italia, diperlakukan dengan cara yang melanggar martabat manusia,” kata Meloni dalam sebuah pernyataan.

“Italia juga menuntut permintaan maaf atas perlakuan yang diberikan kepada para demonstran ini dan atas pengabaian total terhadap permintaan tegas pemerintah Italia,” tambahnya.

Protes dari Spanyol

Pada Senin, Spanyol memanggil kuasa usaha Israel dan menyampaikan apa yang disebut Menteri Luar Negeri Jose Manuel Albares sebagai “protes resmi dan keras” atas pencegatan armada menuju Gaza, yang disebutnya sebagai “pelanggaran baru terhadap hukum internasional”.

Berbicara dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelaty, di Madrid, Albares mengatakan pasukan Israel telah mencegat Armada Global Sumud dan bahwa otoritas Spanyol memantau situasi dengan ketat.

“Saya tidak memiliki jumlah pasti warga Spanyol, tetapi sekitar 45 orang,” kata Albares, seraya menambahkan bahwa antara “satu hingga dua lusin” warga Spanyol di kapal kemungkinan saat ini ditahan oleh otoritas Israel.

Albares mengatakan Spanyol telah menjalin kontak dengan pemerintah lain yang warganya juga berada di kapal.

Menteri tersebut menyebut pencegatan itu sebagai “pelanggaran baru terhadap hukum internasional” dan mengatakan dirinya belum mengetahui bagaimana otoritas Israel akan memperlakukan para tahanan, tetapi menegaskan bahwa tindakan itu sendiri merupakan “aksi yang tidak dapat diterima dan penahanan ilegal”.

Ia mengatakan Madrid mengikuti perkembangan “menit demi menit” dan menggambarkan armada itu sebagai “damai”.

Kecaman Prancis

Insiden itu juga memicu kecaman dari Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, yang mengatakan Prancis telah memanggil duta besar Israel terkait masalah tersebut.

“Keselamatan warga negara kami adalah prioritas yang terus dijaga,” tulis Barrot di X.

“Apa pun pandangan seseorang tentang armada ini—dan kami telah beberapa kali menyatakan ketidaksetujuan terhadap inisiatif ini—warga negara kami yang ikut serta harus diperlakukan dengan hormat dan dibebaskan secepat mungkin.”

Belanda Panggil Duta Besar

Belanda akan memanggil duta besar Israel untuk membahas perlakuan “tidak dapat diterima” terhadap para aktivis armada Gaza yang ditahan, kata Menteri Luar Negeri Belanda, Tom Berendsen, pada Rabu.

“Gambar-gambar yang dibagikan oleh Menteri ekstremis Ben-Gvir tentang para aktivis armada yang ditahan sangat mengejutkan dan tidak dapat diterima,” kata Berendsen di X.

“Perlakuan terhadap tahanan ini melanggar martabat dasar manusia. Saya telah menyampaikan hal ini langsung kepada kolega Israel saya, Gideon Saar, dan akan memanggil duta besar Israel,” ujarnya.

Kanada akan Panggil Duta Besar Israel

Kanada juga mengatakan akan memanggil duta besar Israel untuk menyampaikan protes setelah Ben-Gvir membagikan video yang mengejek para aktivis armada Gaza yang ditahan, kata Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand.

“Apa yang kami lihat, termasuk video yang dibagikan oleh Itamar Ben-Gvir, sangat mengganggu dan sama sekali tidak dapat diterima,” katanya kepada wartawan melalui konferensi telepon.

“Ini adalah masalah yang kami tanggapi dengan sangat serius. Ini berkaitan dengan perlakuan manusiawi terhadap warga sipil, dan saya dapat memastikan bahwa kami bertindak dengan urgensi penuh,” lanjutnya.

Menlu Inggris “Sangat Terkejut”

Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, mengatakan dirinya “sangat terkejut” oleh video Ben-Gvir.

Dalam unggahan di X, Cooper menjelaskan bahwa Inggris telah berhubungan dengan keluarga sejumlah warga negara Inggris yang terlibat dan memberikan bantuan konsuler.

“Kami telah menuntut penjelasan dari otoritas Israel dan menegaskan kewajiban mereka untuk melindungi hak-hak warga negara kami dan semua pihak yang terlibat,” kata Cooper.

Israel mencegat armada itu di perairan internasional pada Selasa sebelum memindahkan mereka yang berada di kapal ke pelabuhan Israel. Kanada mengatakan pada Rabu bahwa mereka akan memanggil duta besar Israel.

Iran Kecam Penculikan dan Sanksi

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, juga mengecam pencegatan tersebut dan sanksi AS.

“Rezim Israel menghentikan kapal bantuan kemanusiaan menuju Gaza; Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada orang-orang yang terkait dengan armada bantuan dan menyebut kolaborasi ini sebagai ‘keamanan’,” tulis Gharibabadi di X.

“Dalam logika yang terbalik ini, makanan dan obat-obatan menjadi ancaman, bantuan kemanusiaan menjadi kejahatan, dan pengepungan yang membuat anak-anak kelaparan diberi label ulang sebagai ‘pertahanan’,” tegasnya.

“Hukum internasional jelas: membuat warga sipil kelaparan, menghalangi bantuan kemanusiaan, dan menghukum kolektif suatu populasi adalah kejahatan, bukan kebijakan keamanan. Ketika rezim Israel takut pada kapal bantuan dan Washington menjatuhkan sanksi kepada mereka yang mencoba mengirimkan bantuan, ini bukan soal keamanan; ini tentang menyembunyikan kejahatan,” lanjutnya.

Kerusakan Reputasi Israel

Kontroversi ini memicu kritik publik yang jarang terjadi dari dalam pemerintahan Israel sendiri. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengambil jarak dari tindakan Ben-Gvir dan mengatakan perlakuan terhadap para tahanan bertentangan dengan norma Israel.

“Cara Menteri Ben Gvir menangani para aktivis armada tidak sesuai dengan nilai dan norma Israel. Saya telah menginstruksikan otoritas terkait untuk mendeportasi para provokator (aktivis) secepat mungkin,” kata Netanyahu.

Komentar Netanyahu muncul ketika ia sendiri menghadapi surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional terkait dugaan kejahatan perang yang berkaitan dengan genosida Gaza.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, juga mengkritik video tersebut dan menuduh Ben-Gvir merusak posisi diplomatik Israel.

“Anda dengan sadar telah merugikan negara kami melalui pertunjukan memalukan ini, dan ini bukan pertama kalinya. Anda telah menghancurkan upaya besar, profesional, dan sukses yang dilakukan banyak pihak, mulai dari tentara IDF hingga staf Kementerian Luar Negeri dan lainnya. Tidak, Anda bukan wajah Israel,” tulis Sa’ar di X.

Menurut otoritas Israel, sekitar 430 aktivis di atas armada dipindahkan ke pelabuhan Israel setelah pencegatan. Kelompok hak asasi Adalah mengatakan beberapa tahanan telah tiba di pelabuhan Isdud dan ditahan di sana.

Sanksi terhadap Armada Meningkat

Sementara itu, Office of Foreign Assets Control (OFAC) mengumumkan sanksi terhadap empat aktivis yang terkait dengan jaringan penyelenggara armada.

Washington menuduh individu yang menjadi target terlibat dalam upaya mendukung misi armada yang mencoba menembus blokade Gaza. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, membela langkah tersebut dengan menyatakan:

“Armada pro-teroris yang mencoba mencapai Gaza adalah upaya konyol untuk merusak kemajuan sukses Presiden Trump menuju perdamaian jangka panjang di kawasan.”

Sanksi tersebut menargetkan Saif Hashim Kamel Abukishek dan Hisham Abdallah Sulayman Abu Mahfuz dari Popular Conference for Palestinians Abroad, serta Mohammed Khatib dan Jaldia Abubakra Aueda dari Samidoun.

87 Aktivis Mulai Mogok Makan

Sebagai tanggapan, Armada Global Sumud mengatakan sedikitnya 87 aktivis telah memulai aksi mogok makan untuk memprotes penculikan mereka oleh pasukan Israel.

“Sebagai protes atas penculikan ilegal mereka dan solidaritas terhadap lebih dari 9.500 tahanan Palestina yang berada di penjara Israel, sedikitnya 87 peserta berkomitmen melakukan mogok makan,” kata armada itu dalam pernyataan di X.

Kelompok itu menambahkan bahwa “untuk kedua kalinya dalam tiga minggu, tentara paling bermoral telah menculik rekan-rekan kami dari perairan internasional.”

Mereka juga menuntut “semua sandera rezim Israel dibebaskan… blokade Gaza dicabut, dan semua tahanan Palestina dibebaskan.” (*)

Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA