Search

Pengamat: Iran akan Menolak Gencatan Senjata

Keseimbangan pengaruh kini berpihak pada Iran. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Pengamat politik internasional, Samuel Geddes, berpendapat bahwa setelah melampaui garis merah paling utama Iran, Washington dan Tel Aviv telah menghilangkan seluruh insentif bagi Teheran untuk menahan diri. Keseimbangan pengaruh kini berpihak pada Iran seiring eskalasi regional yang terus meningkat.

Teheran kemungkinan besar akan menolak seruan gencatan senjata dari AS dan Israel sampai kawasan tersebut benar-benar mengalami perubahan besar.

Baik Presiden AS Donald Trump maupun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini berada dalam posisi yang sangat rentan. Mereka telah memberikan kepada lawan ideologis terbesar mereka sarana dan pembenaran untuk menimbulkan kerusakan maksimal, sekaligus menetapkan syarat gencatan senjata yang bisa menjadikan konflik ini sebagai titik balik dalam sejarah modern.

Trump tampaknya percaya—atas dorongan Netanyahu—bahwa membunuh Pemimpin Iran akan menekan Teheran agar melunakkan posisi negosiasinya terkait program nuklir. Namun yang terjadi justru sebaliknya: tindakan itu menghancurkan hampir satu dekade sikap menahan diri Iran di tengah provokasi yang terus-menerus.

Trump kini membuat Washington dan Tel Aviv justru lebih putus asa untuk mengakhiri perang dibandingkan Iran. Selain membalas pembunuhan Pemimpin Revolusi, Teheran juga berupaya menagih “utang” dari strategi “maximum pressure” Trump secara penuh.

Sejak penarikan Trump dari kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action pada 2018, Teheran berusaha membatasi eskalasi, terutama setelah pembunuhan komandan Pasukan Quds Qassem Soleimani pada 2020 serta berbagai serangan lain di berbagai arena sejak peristiwa Badai Al-Aqsa pada Oktober 2023.

Sebaliknya, kepentingan politik domestik Netanyahu mendorong arah yang berbeda. Ia secara sengaja memperpanjang serangan genosida di Gaza, memperluas konflik ke Tepi Barat, Lebanon, Suriah, Yaman, Irak, dan sejak 2024 juga Iran, ketika Israel membom konsulat Iran di Damaskus. Setelah itu, Israel juga membunuh pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran serta sebagian besar pimpinan Hizbullah.

Melampaui Garis Merah Utama

Pada Juni tahun lalu, Netanyahu berhasil mencapai tujuan lamanya dengan menarik Washington langsung ke dalam permusuhan dengan Iran ketika Israel membom fasilitas nuklir Natanz, Fordow, dan Isfahan.

Kini, menurut Geddes, Israel telah melampaui garis merah paling besar dengan serangan udara yang menewaskan Pemimpin Revolusi Iran, Ali Khamenei.

Sumber militer AS dan Israel sendiri sebelumnya telah mengakui bahwa persediaan amunisi pertahanan rudal mereka berada pada tingkat yang sangat rendah. Perang langsung selama 12 hari antara Iran dan Israel tahun lalu telah menguras sistem pertahanan Iron Dome, arrow missile defense system, dan David’s Sling, sebelum Washington turun tangan memaksakan gencatan senjata.

Kini, ketika Iran dan Hizbullah mulai meluncurkan arsenal mereka, kemampuan Israel, pasukan AS, dan negara-negara Teluk untuk menghindari pukulan besar kemungkinan hanya bisa bertahan dalam hitungan hari, bukan minggu.

Pasokan global amunisi ini juga semakin terbebani karena pengiriman besar ke Ukraina, sehingga tidak cukup untuk memasok kembali medan konflik Asia Barat sebelum akhir minggu ini. Kondisi ini berpotensi membuka kerentanan besar bagi aset Barat di kawasan maupun secara global selama bertahun-tahun ke depan.

Dampak Ekonomi dan Energi Global

Hanya pada hari ketiga perang, lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz praktis terhenti.

Di Arab Saudi, kilang minyak Ras Tanura Refinery, salah satu yang paling penting di dunia, terkena serangan drone dan menghentikan operasinya.

Bahkan tanpa serangan langsung terhadap infrastruktur energi lainnya, produsen minyak di negara-negara Teluk kemungkinan harus menghentikan produksi dalam waktu tiga minggu karena keterbatasan kapasitas penyimpanan.

Indikator ekonomi favorit Trump, yakni pasar saham, kini menghadapi potensi guncangan energi yang belum pernah terjadi sejak 1973, dan bahkan bisa melampaui krisis tersebut.

Kondisi ekonomi AS yang rapuh, ditambah dampak global dari kebijakan tarifnya, berpotensi mendorong ekonomi menuju resesi atau bahkan depresi. Hal ini dapat mengguncang sistem petrodolar sekaligus status Dolar AS sebagai mata uang cadangan global.

Syarat yang Bisa Dipaksakan Iran

Jika rudal Iran terus menghantam target militer dan ekonomi vital di Israel setiap hari serta menimbulkan korban besar pada pasukan AS dari Mediterania Timur hingga Laut Arab, Republik Islam Iran berpotensi memaksakan syarat luar biasa hanya sebagai imbalan untuk menghentikan perang.

Iran secara realistis dapat menuntut pencabutan tanpa syarat seluruh sanksi Barat, bukan hanya terhadap Iran, tetapi juga terhadap Yaman, Lebanon, dan Gaza. Iran juga dapat memaksakan penghentian ekspansi militer Netanyahu di kawasan, termasuk penarikan Israel dari Gaza, wilayah Lebanon, dan Suriah, serta membangun kembali keseimbangan deterensi yang menjamin stabilitas jangka panjang.

Sebagai alternatif, Iran juga dapat meniru langkah Ansarullah pada awal 2025 dengan membuat gencatan senjata terpisah dengan Washington, sambil tetap memberi ruang bagi serangan besar-besaran terhadap Israel.

Jika eskalasi konflik tidak terlebih dahulu mencapai titik tersebut, Iran bahkan bisa menuntut penarikan definitif pasukan AS dari kawasan Teluk, yang pada akhirnya akan mengakhiri dominasi Amerika di kawasan dan secara tidak langsung juga di dunia. (*)

Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA