Oleh: Abdul Karim*
“Sejarah selalu menuntut para penguasa untuk kembali menghadapi dirinya sendiri, bahkan setelah mereka dihapus dari panggung kekuasaan.”
Desas-desus kemunculan seorang mantan penguasa selalu lebih dari sekadar berita; ia adalah getaran politik yang berlapis, membawa kepentingan, trauma kolektif, dan kalkulasi kekuatan yang tak kasatmata. Kemunculan kembali Bashar Assad ke media, jika benar-benar terjadi, menandai bukan sekadar cerita pribadi seorang eks-presiden, melainkan pertemuan kepentingan yang rumit antara kekuatan besar, aktor regional, dan denyut sosial Suriah pasca-rezim. Di tengah transisi politik yang rapuh, rumor itu bagaikan kilatan di cakrawala—tidak hanya mengundang perhatian publik Suriah, tetapi juga memaksa dunia membaca ulang peta kekuasaan di Timur Tengah.
Fakta bahwa kemunculan ini dibingkai dalam konteks suaka kemanusiaan Rusia menempatkannya dalam jalur analisis yang berbeda. Suaka kemanusiaan bukanlah pengasingan permanen; ia adalah jeda dalam sejarah, sebuah ruang liminal di mana seorang penguasa tidak lagi berkuasa namun belum sepenuhnya lenyap. Di sinilah permainan geopolitik dimulai. Rusia, dengan kepentingan strategisnya di Tartus dan Hmeimim, tak hanya melindungi seorang mantan sekutu, tetapi juga menjaga simbol: Assad bukan sekadar individu, ia adalah cermin keberadaan Rusia di Suriah. Memberikan suaka kemanusiaan kepadanya berarti memegang kunci narasi, sebuah kartu yang dapat dimainkan pada waktu yang paling menguntungkan.
Namun, rumor ini tidak lahir dalam isolasi. Penurunan popularitas otoritas transisi Ahmad al-Sharaa, pelanggaran berdarah terhadap komunitas Druze di Sweida, serta konflik antarsuku membentuk latar sosial yang rapuh. Dalam kondisi seperti ini, bayangan seorang mantan presiden, bahkan yang telah jatuh, dapat menjadi simbol stabilitas bagi sebagian dan ancaman bagi yang lain. Inilah paradoks politik pascakonflik: kejatuhan seorang penguasa tidak otomatis menghapus makna simboliknya. Justru dalam kekosongan legitimasi baru, figur lama kadang kembali sebagai hantu sejarah yang tak terselesaikan.
Pertanyaan tentang saluran media yang akan menjadi panggung kemunculan Assad membuka lapisan lain. Jika ia muncul di saluran Arab berbasis Teluk atau didukung Teluk, maka narasi ini bukan lagi sekadar persoalan internal Suriah, melainkan arena rekonsiliasi atau persaingan pengaruh regional. Dalam konteks ini, media bukan hanya perantara pesan, tetapi instrumen geopolitik. Kemunculan itu sendiri, lebih dari kata-kata yang akan diucapkan, akan dibaca sebagai sinyal: siapa yang mengontrol narasi Assad pascarezim, dan untuk kepentingan siapa cerita ini ditulis ulang?
Rusia memainkan peran ganda. Di satu sisi, ia menawarkan perlindungan, menjaga Assad tetap hidup secara politik. Di sisi lain, dengan tetap menyebutnya penerima suaka kemanusiaan, bukan politik, Rusia menjaga jarak formal, seolah menempatkan Assad sebagai pion sementara yang bisa dilepaskan bila konstelasi berubah. Ini adalah strategi khas kekuatan besar dalam arena anarkis: melindungi sambil tetap membuka ruang negosiasi. Kehadiran pangkalan militer di Tartus dan Hmeimim mempertegas bahwa ini bukan hanya soal individu, tetapi tentang infrastruktur kekuasaan yang menopang ambisi global.
Di sisi Suriah, dinamika internal pascarezim membentuk medan politik yang cair. Penurunan hubungan Damaskus dengan Moskow, pembatalan kontrak pelabuhan Tartus, dan pergeseran ke Dubai Ports World bukan sekadar langkah ekonomi, melainkan pernyataan politik. Dengan mencetak mata uang di Jerman dan UEA alih-alih Rusia, otoritas transisi mengirim sinyal bahwa peta aliansi sedang digambar ulang. Dalam lanskap seperti ini, kemunculan Assad bisa menjadi katalis yang memicu kembali tarik-menarik pengaruh antara blok-blok kekuatan yang sedang membentuk Suriah baru.
Ada lapisan psikologis kolektif yang tidak boleh diabaikan. Bagi sebagian masyarakat, Assad bukan sekadar penguasa lama, tetapi representasi masa lalu yang penuh luka. Bagi sebagian lainnya, ia adalah simbol kontinuitas negara di tengah kekacauan. Kemunculan di media, dengan atau tanpa pengakuan, akan membangkitkan memori kolektif itu. Dalam masyarakat pascaperang, memori bukan hanya soal sejarah, tetapi juga tentang siapa yang berhak menulis masa depan. Dengan demikian, wawancara ini bukan sekadar media event, melainkan ritual politik yang dapat membentuk ulang imajinasi nasional.
Pertemuan Menteri Luar Negeri sementara Suriah Asaad al-Sheibani dengan Sergei Lavrov menambahkan dimensi realpolitik. Ketika rumor kemunculan Assad beredar bersamaan dengan kunjungan diplomatik, kita melihat orkestrasi narasi yang tidak kebetulan. Politik internasional jarang memberi ruang bagi momen acak; timing adalah bagian dari strategi. Dalam hal ini, rumor tentang Assad bisa dibaca sebagai pesan Rusia kepada otoritas transisi: kendali atas narasi Suriah belum sepenuhnya pindah. Bahkan ketika kontrak pelabuhan dibatalkan, simbol kekuasaan lama masih berada di tangan Moskow.
Di balik semua ini, ada pertanyaan eksistensial: apa arti kembali ke panggung bagi seorang penguasa yang telah jatuh? Apakah ia benar-benar kembali untuk memimpin, atau sekadar menjadi alat dalam permainan yang lebih besar? Dalam politik kekuatan besar, individu sering kali menjadi representasi kepentingan struktural. Namun, dalam konteks Suriah, di mana negara dan identitas kolektif telah terkoyak, kemunculan seorang individu bisa memiliki resonansi yang melampaui kalkulasi realis. Ia bisa menjadi titik temu antara trauma masa lalu dan harapan masa depan.
Jika Rusia benar-benar merencanakan kemunculan ini, maka kita melihat strategi jangka panjang: mempertahankan pengaruh di Timur Tengah dengan memanfaatkan simbol lama untuk menegosiasikan realitas baru. Namun, jika kemunculan itu lebih didorong oleh dinamika internal Suriah atau bahkan tekanan dari negara-negara Teluk, maka ini adalah tanda bahwa peta kekuatan sedang mengalami reposisi besar-besaran. Dalam kedua skenario, Assad menjadi cermin: bukan hanya dari dirinya sendiri, tetapi dari seluruh dinamika geopolitik kawasan.
Israel, dengan keterlibatannya dalam perundingan mengenai situasi di Sweida, menambahkan lapisan lain. Ketika Moskow dan Tel Aviv sepakat dalam pengaturan wilayah Suriah selatan, kita melihat bahwa Suriah pascarezim bukan lagi entitas yang berdiri sendiri, melainkan persilangan kepentingan regional dan global. Kemunculan Assad di tengah konteks ini bukan sekadar cerita personal, tetapi bagian dari desain yang lebih besar.
Akhirnya, rumor ini, entah benar atau tidak, telah berhasil membuka kembali diskusi tentang siapa yang mengendalikan narasi Suriah. Dalam politik, sering kali rumor lebih penting daripada fakta karena ia membentuk ekspektasi, memengaruhi kalkulasi, dan menciptakan ruang kemungkinan. Assad, yang pernah menjadi simbol kekuasaan otoriter, kini menjadi simbol ambiguitas: antara masa lalu dan masa depan, antara kekuasaan individu dan struktur global, antara tragedi dan strategi.
Jika ia benar-benar muncul di media, dunia akan menunggu bukan hanya kata-katanya, tetapi juga keheningan di antaranya. Dalam keheningan itu, tersimpan pamoring—perpaduan kepentingan, memori, dan kekuatan yang akan menentukan babak berikutnya dari sejarah Suriah dan posisi Rusia di Timur Tengah. (*Pengamat Timur Tengah)
Daftar Pustaka
Mearsheimer, John J. The Tragedy of Great Power Politics. Updated Edition. New York: W. W. Norton & Company, 2014.
Danahar, Paul. The New Middle East: The World After the Arab Spring. London: Bloomsbury Press, 2013.












