Search

Palestina Pasti Merdeka

Oleh : Ahmad Fauzi

BERITAALTERNATIF.COM – 78 tahun merupakan waktu yang panjang dan berat bagi bangsa palestina yang diusir ditanahnya sendiri. Hidup tanpa kepastian dan masa depan. Mereka terkatung-katung tanpa arah dan tujuan. Keadaan mereka dipenuhi dengan kekhawatiran yang mendalam, agresi yang brutal dan teror yang sedemikian rupa bahkan penyiksaan demi penyiksaan yang tidak terbayangkan oleh kita semua.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang dan papan adalah sesuatu yang sukar untuk dilakukan apalagi untuk membangun ekonomi secara keseluruhan. Membuat perkumpulan adalah perbuatan yang terlarang. Mereka diaggap pesakitan dan terasingkan di tempat kelahirannya sendiri.

Sementara pihak agresor dengan legitimasi global terus menerus melakukan tindakan yang tidak manusiawi, membakar kebun milik mereka, menghancurkan rumah – rumah yang dihuni, membombardir fasilitas rumah sakit, sarana ibadah, gedung – gedung sekolah hingga kejahatan paling brutal dengan merenggut nyawa – nyawa yang tak berdosa. Kejahatan ini dilakukan dari waktu ke waktu dilakukan.

Sejarah singkat
Palestina merupakan salah satu wilayah dikawasan timur tengah yang mempunyai berbagai macam kelompok etinis dan agama, Mayoritas beragama Islam dan bersuku Arab. pada zaman Arab Islam (324-638 M) wilayah ini dibawah kekuasaan kekhalifahan islam, lalu tahun 1099 – 1291 M tentara salib kristen eropa merebut dan menguasai sebagian wilayah palestina. pada tahun 1291 – 1516 M palestina berada dibawah kesultanan Mamluk yang berpusat di mesir dan pada tahun 1516 – 1917 wilayah palestina menjadi bagian dari kekaisaran utsmaniyah.

Setelah Utsmaniyah yang berbasis di Turki itu runtuh, maka wilayah palestina yang mestinya berdiri sendiri, saat itu jatuh di tangan induk kolonialisme yaitu kerajaan inggris (mandat britania) karena dianggap pemenang perang Dunia I, hingga tak berselang terbitkah deklarasi balfour (tahun 1917) yang semena – mena mem-backing entitas zionis agar menjadikan tanah palestina sebagai Negara bagi orang – orang yahudi. Semenjak itulah komunitas global yahudi berbondong – bondong mulai berdatangan dan merebut tanah – tanah milik masyarakat pribumi.

Pada tahun 1947 – 1948 berakhirlah mandat britania, sementara pada saat itu Negara israel telah berdiri, pada kisaran tahun itu pula PBB Memutuskan untuk membagi wilayah mandat palestina, hal ini ditentang keras oleh negara – negara di timur tengah karena kaum transmigran yahudi mendapat 55% dari tanah tersebut. Maka terjadilah perang Israel-Arab. akibat perang ini, banyak warga palestina yang mengungsi dan wilayahnya terbagi – bagi. Alhasil Israel menang pada perang tersebut dan merebut 70% dari luas tanah di Palestina. Selang 19 tahun, tepatnya tahun 1967 meletuslah perang enam hari, Israel memperluas wilayahnya dan merebut Tepi Barat, Jalur Gaza dan Yarusalem timur.

Perjuangan Tiada Henti
Sementara itu Rakyat palestina tidak pernah mundur, mereka melakukan berbagaimacam cara untuk melakukan pelawanan. Mereka mendirikan berbagai organisasi seperti Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) oleh Yasser Arafat, Popular Democratic Front for the Liberation of Palestine (DFLP) tahun 1969, Jihad Islam Palestina (PIJ) tahun 1981, Harakah al-Muqawamah al-islamyah (Hamas) tahun 1987 dan perkumpulan lainnya. Dengan kekuatan nasionalisme dan nilai – nilai patriotik maka muncullah spirit rakyat palestina untuk melakukan perlawanan atas pendudukan Israel, maka terjadilah intifada pertama (1987-1993) dan intifada kedua (2000 – 2005).

Seiring berjalannya waktu dimana Zionis yang dibantu oleh Amerika, Inggris dan negara – negara eropa lainnya telah memperkuat hubungannya dengan negara – negara yang ada di timur tengah seperti Turki, Jordan, Mesir, UAE, Bahrain, Maroko, Sudan dan lain – lain terlihat semakin mesra, membuat Rakyat Palestina semakin terasingkan di kawasan hingga puncaknya terdapat kabar bahwa Negara – Negara arab seperti Arab Saudi, Oman, Qatar dan lain – lain akan melakukan normalisasi dengan rezim zionis, dalam kondisi yang terus menerus dikucilkan maka tidak ada pilihan lain untuk melawan penjajah secara total melalui operasi Badai Al-Aqsa oleh para pejuang palestina (7 Oktober 2023).

Akibat operasi itu, Israel mengalami kerugian yang besar, yang tidak pernah terbayangkan dalam sejarah berdirinya negara ilegal tersebut. Rezim zionis kehilangan lebih dari 15 ribu tentaranya, 78 ribu terluka, ratusan pemukim israel yang disandera dan berbagai kerusakan infrastruktur militer lainnya.

Badai Al-Aqsa sebagaimana namanya, dalam sekejap melibas kesombongan zionis untuk menguasai tanah palestina secara total. Hamas dan Gerakan Perlawanan lainnya berhasil membungkam arogansi Israel dan sekutunya.

Merasa kecolongan dan malu atas kekalahan tersebut, Israel yang dibantu persenjataan, militer dan finansial oleh Amerika melakukan tidakan – tindakan yang membabi buta dengan membunuh nyawa masyarakat sipil termasuk anak – anak. Semenjak peristiwa 7 Oktober 2023 – sekarang, tercatat lebih dari 50.208 korban jiwa, 113.910 warga palestina terluka. Dari segi infrastruktur berkisar 360 Ribu bagunan rusak, termasuk 649 fasilitas kesehatan, 305 sekolah dan Universitas, 290 masjid, 3 gereja dan fasilitas umum lainnya.

Kejahatan demi kejahatan dilakukan oleh rezim zionis yang dipimpin Benjamin Nenyahu membongkar sifat asli dari negara – negara di berbagai belahan dunia. Amerika yang mecitrakan dirinya sebagai penegak HAM justru pelanggar utama Hak Asasi Manusia. Mayoritas negara – negara arab tak berkutik menghadapi kebejatan Israel begitu pula negara – negara muslim lainnya, hanya melontarkan retorika dan kecaman yang tak begitu berarti. Bukti nyata ketidakberdayaan Negara-negara yang tergabung di Peserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) adalah tidak adanya langkah nyata untuk menghentikan dan menghukum kejahatan yang telah dilakukan Israel.

Disisi lain, Para Pejuang palestina tentu tidak tinggal diam, mereka menghimpun kekuatan dunia untuk meraih kemerdekaannya. Setelah diabaikan oleh negara – negara arab yang telah menjalin hubungan dengan Israel maka Para Pejuang tersebut mendapatkan dukungan oleh Republik Islam Iran yang jauh – jauh hari, pada awal revolusi Islam Iran, tepatnya pada tahun 1979 telah menggaungkan hari Al-Quds Dunia yang dicetuskan Imam Khomaini, yaitu hari Pembebasan Palestina dari cengkraman zionisme. Hari dimana setiap tahunnya, pada hari jumat terakhir bulan Ramadan, rakyat Iran melakukan Demonstrasi dan seminar – seminar umum dengan menggalang kekuatan global untuk mendukung Rakyat Palestina. Tidak hanya sekedar perayaan yang bersifat momentum, Republik Islam Iran melalui pernyataan para Pejuang Palestina telah memberikan dukungan berupa persenjataan, pendidikan dan penunjang lainnya secara konsisten agar Kemerdekaan Palestina bisa terwujud.

Saat ini, aliansi yang di pimpin oleh Iran yang diberi nama poros perlawanan itu telah terbukti memberikan dampak yang signifikan bagi perjuangan rakyat Palestina. Iran sendiri telah menembakkan Rudal dan Drone pada Operasi Janji Sejati 1 dan 2 langsung kejantung Israel, Hizbullah yang berbasis di Lebanon pada awal Genosida yang dilakukan Israel terhadap warga gaza telah meluluhlantahkan situs-situs militer Israel diperbatasan hingga mengorbakan nyawa para petinggi Hizbullah termasuk Sayid Hasan Nasrullah. Begitu pula Poros Perlawanan yang berada di Irak. Hingga kini Negara Yaman tampil dengan gagah berani menghentikan kepentingan Israel, Amerika dan Inggris di Laut Merah. Gerakan Ansarullah Yaman yang dipimpin oleh Sayid Abdul Malik Al-Haothi beberapa waktu terakhir juga telah mengirimkan rudal jelajahnya di Kota – kota penting membuat banyak kerugian bagi Israel. Sementara dari Hamas sendiri kehilangan petinggi – petinggi penting yaitu Ismail Haniyeh, Yahya Sinwar dan para pejuang lainnya.

Israel terbukti tidak bisa mengalahkan Hamas dan Para pejuang Palestina lainnya, untuk melampiaskan kekesalannya atas ketidak mampuanna itu, Zionis hanya bisa melakukan tindakan – tindakan pengecut dengan membunuh rakyat sipil dan menghancurkan aset warga pribumi palestina.

Namun, kita lihat bersama diberbagai platform media bahwa semakin hari, dukungan terhadap para pejuang dan rakyat palestina semakin menguat. Kejahatan yang dilakukan oleh Rezim Zionis semakin membuka mata masyarakat dunia untuk turut serta dalam membela Palestina yang tertindas. Rakyat dunia melakukan Boykot terhadap produk – produk yang terafiliasi dengan Israel, mereka turun kejalan melakukan demonstrasi, teatrikal di tempat – tempat umum, Menggalan bantuan dana, medis, bahkan kebutuhan pokok untuk saudaranya di palestina, Negara – negara yang sebelumnya apatis menjadi mantap untuk mendukung kemerdekaan palestina.

Kita meyakini kekuatan Israel dan Aliansinya semakin hari semakin melemah, rezim apartheid itu akan mendapatkan hukuman atas apa yang mereka lakukan.
Hingga pada akhirnya sebentar lagi Insyallah Rakyat Palestina akan menang, mereka akan melakukan konsesnsus bersama untuk membentuk Negaranya sendiri dan mengusir Imigran – imigran yahudi ketempat asalnya. (*Ceo Berita Alternatif)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA