Opini

BBM Ibarat Rendang

Oleh: Arcandra Tahar*

Dalam beberapa tulisan terdahulu, kami pernah membahas tentang refinery margin dan cracking spread yang menjadi dasar perhitungan harga BBM.

Secara sederhana, refinery margin adalah ongkos untuk mengubah minyak mentah menjadi BBM (Pertalite, Pertamax, diesel dll). Secara perhitungan, refinery margin adalah selisih antara harga BBM yang dihasilkan kilang dengan harga minyak mentah.

Menurut data yang kami peroleh, dalam 5 tahun terakhir refinery margin berada dalam kisaran di bawah $10/bbl. Namun, pada bulan Mei, Juni dan Juli tahun 2022 ini, refinery margin di Singapura bisa mencapai $30/bbl. Sementara refinery margin di Eropa dan Amerika Serikat jauh lebih tinggi lagi.

Kalau kita buat perhitungan sederhana, dengan harga minyak mentah $70/bbl maka harga BBM yang dihasilkan dengan refinery margin $30/bbl menjadi $100/bbl. Sementara jika menggunakan asumsi refinery margin dalam 5 tahun terakhir, maka harga BBM hanya $80/bbl. Artinya di tahun 2022 ini harga BBM menjadi semakin mahal akibat naiknya refinery margin di berbagai kilang di dunia.

Kenapa lonjakan refinery margin sebanyak 300% ini bisa terjadi? Bukankah biaya untuk mengolah minyak mentah menjadi BBM hampir sama? Mari kita cermati bagaimana harga minyak mentah dan BBM terbentuk.

Harga minyak mentah mengikuti harga acuan (index) seperti Brent dan West Texas Intermediate (WTI). Banyak faktor yang mempengaruhi harga index ini seperti supply, demand, perang dan lain-lain. Di sisi lain, harga BBM ditentukan oleh jenis BBM apa yang dibutuhkan pada waktu tertentu. Misalnya, pada saat musim panas banyak orang yang traveling menggunakan mobil yang berbahan bakar Ron 92, di mana harga pada saat itu bisa lebih mahal dibandingkan diesel. Jadi, pergerakan harga Ron 92 tidak mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia.

Untuk memproduksi BBM tak ubahnya seperti restoran padang yang membuat rendang. Bahan baku utama rendang adalah daging sapi atau kerbau. Harga sapi misalnya ditentukan oleh supply demand pada waktu tertentu. Pada saat hari raya Iduladha, kebutuhan sapi akan meningkat sehingga harganya akan naik. Tapi apakah ongkos untuk membuat rendang akan naik pada saat itu? Belum tentu.

Perbedaan antara harga jual rendang dengan harga daging sapi dinamakan dengan dapur margin (seperti refinery margin). Dapur margin ini bisa jadi ditentukan oleh banyaknya permintaan rendang pada saat tertentu. Misalnya acara wisuda yang memerlukan 10 ton rendang. Daging sapi tersedia tapi rendangnya tidak cukup. Maka dapur margin untuk membuat rendang menjadi naik untuk memenuhi kebutuhan wisuda.

Bisa dibayangkan, kalau dalam 5 tahun terakhir dapur margin untuk membuat rendang misalnya hanya Rp 100 ribu/kg sekarang menjadi Rp 300 ribu/kg. Ditambah lagi kalau pada saat yang bersamaan harga daging sapi juga ikut naik. Konsumen yang membutuhkan rendang tentunya akan semakin terbebani.

Kalau kita punya acara yang anggarannya terbatas dan harus menyediakan menu rendang setiap saat, maka membeli rendang yang siap santap mungkin akan mahal. Agar fluktuasi harga rendang lebih terjamin, salah satu solusi yang tepat adalah membuat dapur sendiri yang tidak saja bisa membuat rendang, tapi juga bisa membuat masakan padang yang lain. Tentunya butuh investasi dan kesabaran agar bisa membuat dapur yang memberikan margin yang baik.

Dalam konteks pemenuhan BBM, dengan refinery margin yang sangat tinggi pada tahun ini dan bisa jadi tahun-tahun yang akan datang, strategi yang teliti, cermat dan cerdas sangat dibutuhkan dalam masa transisi menuju net-zero emisi tahun 2050 atau 2060. Membuat “restoran padang” sendiri yang memungkinan produksi “rendang” menjadi lebih efisien perlu untuk dipikirkan, direncanakan dan segera diwujudkan.

Realitasnya dunia masih memerlukan energi fosil paling tidak hingga 30 tahun lagi. Namun demikian, pengembangan energi terbarukan juga jangan sampai terabaikan. (*Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top