Search

Operasi Pasar Murah Disperindag Kukar Libatkan Kelompok Wanita Tani Tenggarong

Sekretaris KWT Kecamatan Tenggarong, Indriati, saat diwawancarai awak media Berita Alternatif di sela-sela kegiatan Gerakan Pasar Murah di Creative Park Tenggarong pada Kamis, 12 Februari 2026. (Berita Alternatif/Ufqil Mubin)

BERITAALTERNATIF.COM — Keterlibatan Kelompok Wanita Tani (KWT) dalam kegiatan operasi pasar murah yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Kartanegara (Kukar) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menjadi salah satu upaya nyata menjaga stabilitas harga sekaligus menguntungkan petani lokal.

Sekretaris KWT Kecamatan Tenggarong, Indriati, mengatakan produk yang dijual dalam kegiatan tersebut merupakan hasil panen langsung dari para petani binaan KWT di sejumlah wilayah, seperti Rapak Lambur, Bukit Biru, dan Maluhu.

“Yang kami jual di sini macam-macam sayuran. Ini semua hasil teman-teman di lapangan. Ada dari Rapak Lambur, Bukit Biru, Maluhu, kita kumpul jadi satu,” ujarnya saat ditemui awak media Berita Alternatif di Creative Park Tenggarong pada Kamis (12/2/3036).

Menurutnya, perbedaan utama antara produk yang dijual KWT dalam gerakan pasar murah dengan pasar tradisional terletak pada rantai distribusi. Sayuran dipasarkan langsung oleh petani tanpa melalui tengkulak, sehingga harga bisa lebih murah.

“Karena kita dari petani langsung, tidak ada mata rantainya. Kalau di pasar kan ada tengkulak, jadi harganya otomatis berbeda,” jelasnya.

Dia mencontohkan harga cabai di tingkat petani bisa berkisar Rp 75 ribu per kilogram, namun di pasar bisa mencapai Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu per kilogram akibat adanya rantai distribusi tambahan.

Dalam kegiatan pasar murah, KWT menjual sayuran dengan harga yang lebih terjangkau. Beberapa komoditas bahkan dijual Rp 5 ribu per setengah kilogram, sementara di pasar harga satu kilogram bisa mencapai belasan ribu rupiah.

“Kalau kami jualnya murah saja: Rp 5 ribu. Ini setengah kilo. Kalau di pasar kan bisa dua belasan ribu per kilo,” katanya.

Indriati menyebut, selama ini para petani KWT rutin memasarkan hasil panen melalui kegiatan Car Free Day (CFD) setiap pekan serta berkeliling mengikuti pasar malam. Dengan adanya operasi pasar murah yang difasilitasi pemerintah, peluang pemasaran menjadi lebih luas.

“Harapannya dengan adanya ini mereka bisa lebih banyak memasarkan. Biasanya cuma di CFD atau ikut pasar malam. Kalau di sini kan pengunjungnya lebih banyak,” ujarnya.

Dia menilai kegiatan seperti ini menguntungkan petani karena mereka dapat menjual langsung kepada masyarakat dengan harga yang lebih adil dibandingkan jika menjual ke tengkulak.

“Kalau bagi mereka lebih menguntungkan, karena bisa langsung jual ke masyarakat. Daripada jual ke tengkulak yang harganya lebih murah,” tambahnya.

Sebelumnya, Plt Kepala Disperindag Kukar, Sayyid Fathullah, menegaskan bahwa operasi pasar murah digelar menjelang Ramadan sebagai langkah menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi daerah.

Melalui keterlibatan KWT dan petani lokal, pemerintah tidak hanya berupaya menstabilkan harga bahan pokok, tetapi juga memperkuat distribusi pangan dari produsen langsung ke konsumen tanpa perantara panjang.

Indriati juga mengungkapkan bahwa KWT mendapat dukungan dari pemerintah berupa bantuan sarana pertanian seperti pupuk dan perlengkapan pendukung lainnya.

Bersinergi dengan TPID, dan kelompok tani, ia berharap operasi pasar murah diharapkan tidak hanya membantu masyarakat mendapatkan bahan pangan dengan harga terjangkau, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani lokal di Kukar. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA