Search

Muara Syakwasangka, saat Curiga Merasa Cerdas

Penulis. (Berita Alternatif via penulis)

Oleh: Alamsyah Manu*

Catatan kecil untuk mereka yang terlalu khawatir pada kebaikan orang lain.

Ketika empati dicurigai, dunia kehilangan gema hatinya, dan yang tersisa hanyalah kesepian yang merasa paling waspada.

Belakangan, ada tren baru di kalangan yang merasa tercerahkan, yaitu mencurigai semua kebaikan, terutama yang melibatkan rekening. Mereka yakin, di balik setiap donasi ada tangan kapitalis, dan di balik setiap QRIS ada niat tersembunyi.

Kita patut kagum pada daya cipta imajinasi semacam ini. Begitu canggihnya, hingga malaikat pencatat amal pun mungkin suatu hari akan diminta audit eksternal oleh Rocky Gerung. Atau mungkin audit itu hanya akan menanyakan seperti ini, siapa yang menulis prasangka ini tanpa bukti? Sebuah pertanyaan sederhana yang sering luput dari kemegahan retorika.

Retorika Kecurigaan sebagai Estetika

Penulis yang sibuk menguliti donasi seringkali bukan sedang membongkar kebohongan, melainkan sedang menikmati aroma kecurigaan dirinya sendiri. Dia menulis bukan untuk mencari kebenaran, tapi agar tampak lebih jernih dari mereka yang masih punya harapan.

Begitu asyiknya dengan kata “pengkhianatan”, sampai lupa bahwa sebagian besar orang yang berdonasi bahkan tak sempat berpikir sejauh itu, bahkan mereka hanya ingin membantu. Namun di mata sang pencuriga ini, ketulusan tanpa footnote dianggap naif, dan empati tanpa nota dianggap bodoh.

Lucunya, mereka tetap mengakui donasi itu perlu, tapi dengan nada penuh syarat:

“Perlu, tapi audit dulu.”

“Baik, tapi jangan militansi.”

“Mulia, tapi jangan terlalu percaya.”

Kebaikan, bagi mereka, hanyalah proyek bersyarat yang harus lewat prosedur skeptisisme.

Dan ketika kebaikan harus lulus uji moral sebelum diizinkan bernapas, kita sedang menukar belas kasih dengan sertifikat. Itu bukan kehati-hatian, itu birokrasi kemanusiaan.

Militansi Kecurigaan

Ironis, ketika mereka menuding “militansi teologis” sebagai penggerak donasi, teks mereka sendiri justru menjadi bentuk militansi skeptisisme. Sebuah perang sunyi melawan apa pun yang terlihat terlalu tulus.

Kita diajak mencurigai semua orang, tetapi diminta mempercayai mereka sebagai pihak paling jujur di ruangan. Sebuah paradoks yang bahkan Nietzsche pun mungkin akan geleng-geleng kepala di liang kubur sana, bagaimana bisa seseorang menyerukan rasionalitas sambil menebar paranoia?

Retorika mereka berbau heroik, padahal lebih mirip agenda estetik, mereka mempraktikkan keberanian moral dari sofa, sambil menuntut korban iman dari orang lain.

Audit Moral: Siapa Mengaudit Sang Pengaudit?

Salah satu kutipan yang tampak gagah dan mewah adalah ajakan audit eksternal untuk lembaga donasi. Ide bagus, tentu saja. Tapi mari ajukan pertanyaan kecil dan sederhana, siapa yang akan mengaudit moral penulis ketika menuduh empati sebagai modus bisnis?

Kritik yang sehat memerlukan bukti, bukan prasangka yang dibungkus gaya literer. Sebab bila semua kebaikan dianggap tipu daya, yang rusak bukan lembaga donasinya, melainkan tatanan kepercayaan sosial masyarakat kita sendiri.

Dan jika Martin Luther berkata, “Setiap pengkhianatan berawal dari kepercayaan,” mungkin kini perlu kita tambahkan kalimat ini, “Setiap kecurigaan berawal dari kesepian.”

Tuduhan tanpa nama adalah ramuan ampuh untuk membuat moral terasa benar sekaligus tak dapat diuji, seperti mantra yang menimbulkan efek, tapi menghindari verifikasi.

Sindrom “Saya Tidak Anti Donasi, tapi…”

Kalimat seperti itu selalu jadi tanda bahaya. Sama seperti orang yang berkata “Saya tidak rasis, tapi…”, kita tahu apa yang akan datang setelahnya.

Mereka ingin dunia ini ideal menurutnya, semua orang dermawan, tapi tanpa ada lembaga, panitia, atau struktur sosial. Singkatnya adalah, donasi, tapi tanpa manusia. Dan kalau ada yang masih berani percaya, mereka dicemooh karena terlalu “polos”.

Padahal, justru dari kepolosan itulah kemanusiaan menemukan daya hidupnya.

Pernyataan “bukan anti, tapi….” adalah parasit retoris, dengan meminjam kredibilitas moral tanpa mau menerima konsekuensi logis dari klaimnya sendiri.

Catatan Penutup

Benar, ada oknum dalam dunia donasi. Tapi kalau satu-dua perahu bocor, bukan berarti lautnya busuk. Empati tak perlu disterilkan lewat paranoia, dan kebaikan tak harus lulus uji skeptisisme.

Lebih berbahaya dari “empati yang diretas” adalah ketika kepercayaan dimiskinkan. Sebab di dunia yang kehilangan kepercayaan, semua niat baik akan tampak seperti jebakan, dan semua derita orang lain terlihat seperti panggung sandiwara.

Mereka yang sibuk mencurigai kebaikan bukan sedang menjaga moral publik. Mereka hanya takut kalah telanjang di hadapan ketulusan yang tak memerlukan argumen.

Kecurigaan mungkin membuatmu tampak bijak, tetapi hanya kepercayaan yang membuat manusia tetap manusia.

Skeptisisme yang dijadikan gaya hidup akan menjadikan pemiliknya tampak luhur, sampai dia menyadari bahwa yang dia pelihara sebenarnya bukan kewaspadaan, melainkan rasa malu karena tak mampu percaya, hatta terhadap dirinya sendiri. (*Pengurus DPD ABI Kabupaten Penajam Paser Utara)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA