Oleh: Abdul Karim*
“Strategi Iran tidak pernah tentang kemenangan cepat. Ini tentang ketahanan, infiltrasi, dan kesiapan menghadapi perang yang panjang.” David Crist
Peringatan dari Avigdor Lieberman bahwa Iran benar-benar serius untuk membalas kejahatan Israel bukan sekadar retorika politik kampanye atau histeria media. Ketika seorang tokoh selevel mantan Menteri Perang Israel, yang juga pemimpin partai ultranasionalis, menyampaikan bahwa Iran “bukan sekadar mengancam secara verbal”, itu mencerminkan perubahan kualitas dalam kalkulasi strategis Tel Aviv. Ada kesadaran genting bahwa konfrontasi langsung—bukan lagi perang melalui proksi—semakin tak terelakkan. Dan lebih dari itu, konfrontasi tersebut akan berlangsung dalam arsitektur keamanan regional baru yang tak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh kekuatan hegemonik Barat.
Buku The Twilight War karya David Crist menggambarkan dengan gamblang bagaimana AS, Israel, dan Iran telah berada dalam tarian strategis yang kompleks sejak Revolusi Islam 1979. Sebuah konflik yang secara formal tak pernah dinyatakan sebagai perang, namun berkepanjangan, melebar, dan terus bermetamorfosis. Dalam bab-bab awalnya, Crist memaparkan bagaimana Teheran mengembangkan pola respons yang menekankan pada “strategic patience“, membangun kekuatan poros perlawanan di Irak, Lebanon, dan kemudian Suriah serta Yaman. Ketahanan ini bukan sekadar reaktif, melainkan bagian dari doktrin strategis Iran yang memperhitungkan jangka panjang—termasuk kemungkinan konfrontasi terbuka dengan Israel sebagai akibat dari kesombongan Zionis yang terus menyerang, baik secara langsung maupun melalui sabotase, sanksi, dan operasi bayangan.
Lieberman menyebut bahwa Iran tidak akan menunggu terlalu lama. Ini beresonansi dengan babak baru yang digambarkan oleh Trita Parsi dalam Losing an Enemy, yakni saat Iran bukan lagi sekadar bertahan, tetapi berusaha menata ulang lanskap geopolitik kawasan. Diplomasi, dalam kerangka ini, bukan semata alat damai, tapi mekanisme pengalihan medan konflik: dari medan militer ke medan hukum internasional, ekonomi, dan opini global. Ketika Iran menandatangani kesepakatan nuklir JCPOA dengan kekuatan dunia, banyak pihak di Israel melihat itu sebagai kelemahan; padahal sebagaimana Parsi tunjukkan, itu adalah bagian dari strategi Iran untuk memecah konsensus anti-Iran di Barat, membebaskan diri dari isolasi ekonomi, dan mendapatkan kembali ruang napas untuk mengembangkan kemampuan deterrence konvensional.
Namun sejak pemerintahan Trump menarik diri dari JCPOA, dan Israel secara terbuka meningkatkan serangan terhadap target-target Iran di Suriah serta sabotase terhadap instalasi nuklir Iran, ritme strategis berubah. Bukan hanya karena diplomasi macet, tetapi karena kesabaran strategis Iran pun mulai menemukan batas. Dalam analisis Crist, “Iran bukan bangsa yang melupakan pelanggaran terhadap martabat nasional mereka. Mereka mengingat, dan mereka menunggu.” Maka ketika Lieberman mengatakan “ini bukan sekadar ancaman verbal,” dia sedang mengakui pola itu. Iran telah membangun jaringan logistik, sistem komando gabungan dengan kelompok perlawanan, dan jalur distribusi rudal presisi tinggi—semua bukan untuk permainan simbolik, melainkan persiapan struktur resistensi regional yang siap membalas dalam skala luas.
Kekhawatiran Israel bukan semata tentang senjata nuklir. Crist menguraikan secara rinci bagaimana intelijen dan militer AS berkali-kali mendapati bahwa yang paling mengkhawatirkan dari Iran adalah kemampuannya membentuk “theater-wide deterrence”—yakni kemampuan untuk menyerang balik dari berbagai titik di berbagai zona, dari Lebanon hingga Teluk Persia. Rudal balistik Iran, yang terus dikembangkan meski JCPOA membatasi program nuklir, dipandang sebagai pilar utama strategi ini. Lieberman mungkin membual bahwa program nuklir Iran terpukul berat, namun pengakuannya bahwa Iran dapat membangun kembali kapabilitasnya secara penuh menunjukkan pemahaman mendalam: bahwa penghancuran fisik tidak pernah cukup untuk mencegah Iran, selama tekad dan kecanggihan politik tetap terjaga.
Dalam The Twilight War, ada satu kutipan tajam: “Iran’s strength lies not only in its arsenal, but in its belief that it has nothing to lose.” Ini menjadi penting dalam konteks pernyataan Lieberman tentang “kompleksitas dan biaya tinggi” dari konflik berikutnya. Sebab bagi Iran, biaya itu sudah mereka bayar sejak lama—dalam bentuk embargo, pembunuhan ilmuwan, perang delapan tahun dengan Irak, dan tekanan psikologis yang berkepanjangan. Apa yang belum dibayar Israel adalah kerentanan strategis mereka sendiri. Dan itulah yang menghantui para perencana militer Tel Aviv sekarang.
Apa yang membuat konflik selanjutnya berbahaya bukan sekadar soal senjata atau rudal, tapi tentang bagaimana Iran membangun “arsitektur resistensi terdesentralisasi”—sebuah gagasan yang ditelusuri Parsi dalam berbagai penjelasan tentang pengaruh Iran di luar perbatasannya. Hizbullah di Lebanon bukan hanya alat pukul, tapi juga representasi keberhasilan Iran mengubah perlawanan lokal menjadi aktor geopolitik regional. Hal serupa berkembang di Irak, Yaman, dan bahkan Palestina. Yang tidak dipahami oleh banyak perencana Barat, dan kini mulai dipahami oleh tokoh seperti Lieberman, adalah bahwa proyek resistensi Iran tak berdiri di atas komando tunggal, tetapi pada kesalingterkaitan ideologis dan strategis antarjaringan.
David Crist menulis bahwa setiap kali AS atau Israel mengira mereka telah memojokkan Iran, Teheran justru muncul dengan manuver tak terduga, “shifting the battlefield to where the enemy is weakest.” Jika selama ini Israel merasa unggul dalam hal teknologi dan jaringan mata-mata, Iran kini mengejar ketertinggalan itu dengan pendekatan yang hybrid: menggabungkan peperangan konvensional, serangan siber, diplomasi global, dan pengaruh budaya. Maka pernyataan Lieberman bisa dibaca sebagai alarm bagi Barat: bukan hanya tentang kapan Iran membalas, tetapi bagaimana ia akan melakukannya, dalam skala dan bentuk yang tidak bisa diantisipasi oleh pendekatan militer klasik.
Ketakutan Israel juga menyiratkan satu hal lain: berakhirnya doktrin keunggulan strategis mutlak di kawasan. Sejak 1970-an, kebijakan AS adalah menjamin bahwa Israel memiliki superioritas militer terhadap semua tetangganya. Namun dalam dekade terakhir, meskipun secara kuantitatif Israel masih unggul, secara kualitatif keunggulan itu mulai tergerus oleh semangat juang dan kemampuan adaptasi aktor-aktor resistensi yang disponsori Iran. Kegagalan demi kegagalan dalam menundukkan Gaza, meningkatnya ketergantungan pada teknologi seperti Iron Dome, dan ketakutan menghadapi “perang multi-front” adalah indikator bahwa dominasi mutlak Israel kini tinggal mitos.
Dalam horizon waktu tiga tahun seperti disebut Lieberman, kemungkinan besar yang kita saksikan bukan hanya ledakan konfrontasi konvensional, tetapi mungkin juga perubahan paradigma keamanan regional. Dalam Losing an Enemy, Parsi menggambarkan bahwa keberhasilan diplomasi Iran bukan hanya karena retorika, tetapi karena “willingness to endure pain in pursuit of national dignity.” Maka dalam membaca dinamika Iran-Israel hari ini, kita tidak sedang berbicara tentang siapa yang memiliki lebih banyak jet tempur atau rudal jarak jauh, melainkan siapa yang lebih siap menanggung beban jangka panjang untuk mewujudkan visinya atas kawasan.
Pernyataan Lieberman, dalam kerangka itu, adalah pengakuan. Sebuah pengakuan bahwa Israel tidak siap menghadapi jenis konflik yang dimainkan oleh Iran: konflik berbasis sejarah panjang, jaringan kesetiaan, dan determinasi ideologis. Dan justru karena itu, peringatan ini menjadi penting. Sebab sebagaimana Crist tulis, “wars that begin without understanding the enemy’s resolve are doomed to end in strategic folly.” Dunia mungkin sedang melangkah ke dalam salah satu babak paling berbahaya di kawasan Timur Tengah. Dan seperti biasa, semua dimulai dengan kata-kata. Tapi berbeda dari sebelumnya, kini kata-kata itu lahir dari ketakutan yang nyata. (*Pengamat Timur Tengah)
Daftar Pustaka
Crist, David. The Twilight War: The Secret History of America’s Thirty-Year Conflict with Iran. New York: Penguin Group (USA), 2012.
Parsi, Trita. Losing an Enemy: Obama, Iran, and the Triumph of Diplomacy. New Haven: Yale University Press, 2017.












