Search

Menghidupkan Nurani Kemanusiaan dan Spirit Perlawanan di Hari Al-Quds Internasional Tahun 2026

Ketua Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar, Ahmad Fauzi. (Dok. penulis)

Oleh: Ahmad Fauzi*

Saudara-saudara yang saya muliakan, sebelum saya menyampaikan pandangan terkait aksi yang dilaksanakan hari ini, izinkan saya terlebih dahulu menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat dan para pengguna jalan yang melintas. Selama kurang lebih 22 tahun, setiap Jumat terakhir di bulan Ramadhan kegiatan ini selalu dilaksanakan. Dalam pelaksanaannya, tentu ada ketidaknyamanan yang mungkin dirasakan oleh sebagian saudara-saudara kita.

Permohonan maaf juga kami sampaikan kepada para aparat yang hari ini menjaga kelancaran lalu lintas dan keamanan kegiatan. Dedikasi serta kesabaran mereka patut diapresiasi, karena tanpa dukungan tersebut kegiatan ini tentu tidak dapat berjalan dengan baik.

Perlu ditegaskan bahwa apa yang kita lakukan hari ini bukanlah untuk menunjuk-nunjuk pihak tertentu, bukan pula untuk mencari perhatian atau sekadar menampilkan diri seolah-olah menjadi pembela Palestina. Aksi ini merupakan langkah kecil untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam diri kita.

Apa yang menjadi dasar dari langkah ini sejatinya sejalan dengan prinsip yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, terdapat sebuah pernyataan moral yang sangat kuat: penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Kalimat tersebut bukan sekadar rangkaian kata dalam dokumen konstitusi. Ia adalah fondasi moral yang menjadi ruh kemerdekaan Indonesia. Spirit inilah yang menggerakkan kita untuk tetap bersuara ketika melihat penindasan dan ketidakadilan di berbagai belahan dunia.

Bangsa Indonesia memahami arti penjajahan bukan dari teori, melainkan dari pengalaman sejarah. Selama lebih dari tiga setengah abad, bangsa ini mengalami eksploitasi, penindasan, serta perampasan hak-hak kemanusiaan oleh kekuatan kolonial. Pengalaman pahit itulah yang membentuk kesadaran kolektif bahwa penjajahan, dalam bentuk apa pun, tidak boleh dibiarkan.

Namun sejarah juga menunjukkan bahwa kolonialisme tidak benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk. Pada masa lalu, kolonialisme dikenal dengan doktrin gold, glory, and gospel—sebuah semangat penaklukan demi kekayaan, kejayaan, dan pengaruh. Melalui doktrin tersebut, banyak bangsa di dunia dijajah secara sistematis dan militeristik.

Di era modern, kolonialisme bermetamorfosis menjadi neokolonialisme atau imperialisme baru. Penjajahan tidak selalu hadir melalui pendudukan militer, tetapi melalui dominasi ekonomi, pengaruh politik, serta penguasaan terhadap sumber daya alam dan manusia suatu negara.

Dalam praktiknya, sistem ini sering memanfaatkan elite-elite lokal yang korup untuk menguasai kekayaan bangsa mereka sendiri. Sumber daya alam yang seharusnya menjadi milik rakyat justru dinikmati oleh segelintir kelompok demi kepentingan materialisme dan hedonisme.

Di tengah realitas tersebut, sejarah manusia selalu memperlihatkan adanya dua poros besar yang terus berhadapan. Dalam bahasa moral dan spiritual, dua poros ini sering digambarkan sebagai pertarungan antara kelompok mustakbirin dan mustad’afin.

Mustakbirin adalah kelompok yang arogan dan merasa memiliki kekuasaan untuk menindas pihak lain. Dalam narasi sejarah keagamaan, figur-figur seperti Fir’aun sering dijadikan simbol dari kelompok yang sombong dan menindas.

Sebaliknya, mustad’afin adalah kelompok yang dilemahkan—mereka yang tertindas namun tetap berjuang mempertahankan martabat dan kemanusiaannya. Sepanjang sejarah, kelompok ini sering menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.

Dalam konteks geopolitik saat ini, banyak pihak melihat munculnya berbagai gerakan perlawanan yang berusaha menentang dominasi kekuatan global yang dianggap menindas. Di antara negara-negara yang sering disebut dalam diskursus tersebut adalah Iran, yang oleh sebagian kalangan dipandang sebagai salah satu simbol perlawanan terhadap dominasi kekuatan besar.

Terlepas dari berbagai perdebatan politik yang ada, satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa konflik global hari ini semakin membuka kesadaran masyarakat dunia. Melalui perkembangan teknologi informasi, masyarakat kini memiliki akses luas terhadap berbagai sumber pengetahuan yang memungkinkan mereka menilai sendiri mana yang dianggap benar dan mana yang keliru.

Banyak peristiwa yang terjadi di berbagai belahan dunia juga menunjukkan bahwa perjuangan untuk keadilan sering kali menuntut pengorbanan besar. Mereka yang gugur dalam konflik sering dipandang oleh para pendukungnya sebagai simbol pengorbanan demi mempertahankan martabat dan keyakinan.

Dalam keyakinan banyak orang, kemenangan tidak selalu datang secara instan. Ia hadir melalui proses panjang—pelan namun pasti, terorganisir, dan penuh kesabaran.

Bagi masyarakat Indonesia, yang paling penting bukan sekadar mengikuti arus konflik global, tetapi menegaskan kembali posisi moral kita. Apakah kita berada di pihak yang membela keadilan dan kemerdekaan, atau justru diam terhadap berbagai bentuk penindasan.

Dalam konteks itulah berbagai kegiatan solidaritas internasional seperti Quds Day sering dipandang sebagai momentum untuk mengingatkan kembali pentingnya keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak untuk kembali merenungkan posisi mereka di tengah konflik dunia. Apakah kita hanya menjadi penonton, atau ikut menyuarakan solidaritas bagi mereka yang tertindas.

Perjuangan ini tentu tidak selalu dilakukan melalui aksi besar. Ia juga dapat dilakukan melalui berbagai cara yang sederhana: menyampaikan pandangan di ruang publik, memanfaatkan media sosial secara bijak, serta mendorong para pemimpin dan pemangku kebijakan agar lebih peka terhadap isu-isu keadilan global.

Memang tidak sedikit yang memandang aksi-aksi solidaritas seperti ini sebagai sesuatu yang tidak penting. Ada yang berpendapat bahwa masyarakat seharusnya fokus pada urusan pribadi atau pekerjaan masing-masing. Namun pertanyaannya sederhana: apakah kehidupan manusia hanya diukur dari kepentingan perut semata?

Jika orientasi hidup hanya berpusat pada kepentingan material, maka sangat mungkin manusia kehilangan sensitivitas terhadap penderitaan orang lain. Sebaliknya, jika orientasi hidup juga mencakup nilai kemanusiaan, maka kepedulian terhadap keadilan akan tetap menjadi bagian dari kehidupan kita.

Pada akhirnya, aksi solidaritas seperti yang dilakukan hari ini adalah pengingat bahwa kemanusiaan tidak boleh berhenti pada batas-batas negara. Selama masih ada penindasan di dunia, selama masih ada bangsa yang memperjuangkan kemerdekaannya, maka suara solidaritas tidak boleh padam.

Karena pada dasarnya, perjuangan melawan ketidakadilan bukan hanya tentang politik atau geopolitik. Ia adalah tentang menjaga agar nurani kemanusiaan tetap hidup dalam diri kita semua. (*Ketua Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA