Search

Mengenali Tanda dan Bahaya Heat Stress bagi Pekerja

Penulis. (Berita Alternatif via penulis opini)

Oleh: Meity Moga Layuk*

Di tengah perubahan iklim global yang kian terasa, suhu udara di berbagai daerah di dunia, termasuk Indonesia, semakin meningkat. Perubahan ini tidak hanya mengganggu kenyamanan sehari-hari, tetapi juga membawa bahaya serius bagi kesehatan, khususnya para pekerja di luar ruangan. Salah satu masalah yang sering dianggap remeh adalah tekanan panas atau heat stress. Banyak orang meremehkan rasa haus dan berkeringat sebagai hal yang wajar saat bekerja di bawah terik matahari, padahal hal itu bisa menjadi tanda awal dari kondisi berbahaya yang bisa mengancam nyawa jika tidak segera diatasi.

Lalu apa itu heat stress? Heat stress terjadi ketika tubuh tidak mampu mengatur suhu dalam karena terpapar panas berlebihan, baik dari lingkungan maupun dari aktivitas fisik yang terlalu berat.
Tubuh manusia memiliki cara alami untuk mendinginkan diri melalui keringat. Namun, ketika suhu terlalu panas, udara kering, atau pekerjaan terlalu berat, mekanisme ini akan kurang efektif.

Akibatnya, panas menumpuk di dalam tubuh dan menyebabkan gangguan pada sistem fisiologi.
Para pekerja seperti buruh bangunan, petani, pengemudi ojek online, hingga pekerja pabrik yang sering terpapar suhu panas di mesin, memiliki risiko tinggi mengalami heat stress.

Tapi sayangnya, banyak dari mereka belum menyadari bahwa gejala awal seperti merasa haus, lelah, atau pusing bukan hanya tanda capek biasa, melainkan peringatan dari tubuh yang tidak boleh diabaikan.

Kesadaran pekerja maupun perusahaan terhadap bahaya heat stress masih rendah. Padahal, tanda-tanda awalnya jelas jika diperhatikan. Gejala ringan umumnya terdiri dari merasa sangat haus dan mulut kering; mengeluarkan keringat berlebihan tetapi tubuh masih terasa panas; pusing, sakit kepala, dan kesulitan berkonsentrasi; kelelahan yang datang lebih cepat dari biasanya.

Jika tidak segera ditangani, gejala tersebut bisa berkembang menjadi kondisi lebih berat, seperti kelelahan akibat panas (heat exhaustion) dengan gejala seperti tubuh terasa lemah, kulit pucat, mual, hingga pingsan.

Jika terus berlanjut, bisa terjadi heat stroke yang merupakan kondisi darurat medis. Ciri-cirinya antara lain suhu tubuh melebihi 40°C, kebingungan, kejang, hingga koma. Pada tahap ini, nyawa pekerja sangat terancam.

Ironisnya, sebagian besar pekerja sering mengabaikan gejala ini dengan alasan seperti “sudah terbiasa bekerja di panas” atau “hanya lelah sejenak”. Padahal, setiap kali tubuh dipaksa melebihi batas kemampuannya, risiko kerusakan organ dalam jangka panjang semakin berbahaya.

Ada beberapa faktor yang membuat pekerja rentan mengalami heat stress. Pertama, kondisi lingkungan kerja yang panas dan lembap, seperti di area proyek konstruksi, tambang, atau lahan pertanian, memperparah risiko. Kedua, produktivitas yang tinggi dan aktivitas fisik terus-menerus membuat tubuh pekerja lebih rentan. Ketiga, minimnya fasilitas seperti tempat istirahat yang sejuk, akses air minum yang cukup, serta kebijakan perusahaan yang kurang memperhatikan keselamatan kerja.

Selain faktor lingkungan, kondisi individu juga memengaruhi. Usia, kesehatan, dan kebiasaan hidup pekerja berperan besar. Pekerja dengan riwayat penyakit jantung, obesitas, atau dehidrasi lebih rentan mengalami dampak heat stress. Konsumsi kafein atau alkohol sebelum bekerja juga bisa memperburuk kondisi tubuh saat terpapar panas.

Heat stress bukan hanya mengancam kesehatan individu, tetapi juga mengurangi produktivitas dan menimbulkan risiko kecelakaan kerja.

Pekerja yang terkena heat stress cenderung kehilangan fokus dan kemampuan konsentrasi, sehingga rentan terhadap kecelakaan. Dalam jangka panjang, paparan panas secara berulang dapat merusak organ tubuh dan menurunkan kualitas hidup.

Dari sisi perusahaan, mengabaikan heat stress bisa menyebabkan kerugian besar, seperti penurunan produktivitas, peningkatan biaya kesehatan, hingga gugatan hukum. Oleh karena itu, menganggap heat stress sebagai isu kecil adalah kesalahan yang bisa membahayakan nyawa.

Menghadapi heat stress bukan hanya tanggung jawab pekerja, tetapi juga perusahaan dan pemerintah. Berikut beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan:

Pertama, pendidikan dan kesadaran. Perlu memahami tanda-tanda heat stress dan cara mencegahnya. Edukasi tentang pentingnya hidrasi, istirahat teratur, serta pengenalan gejala awal dapat menyelamatkan nyawa.

Kedua, akses air minum dan tempat istirahat. Perusahaan wajib menyediakan air minum dan tempat istirahat yang nyaman. Karyawan sebaiknya minum air secara rutin, bukan menunggu haus.

Ketiga, penyesuaian jam kerja. Di daerah dengan suhu ekstrem, mengatur jam kerja lebih pagi atau menghindari jam siang yang terik bisa menjadi solusi.

Keempat, perlengkapan dan pakaian kerja. Pakaian yang ringan, longgar, dan menyerap keringat bisa membantu tubuh mengatasi panas. Di sektor tertentu, alat pelindung yang memiliki teknologi pendingin sudah mulai diterapkan.

Kelima, kebijakan pemerintah. Regulasi ketenagakerjaan perlu lebih ketat terkait heat stress. Pemerintah harus memperkuat pengawasan terhadap standar keselamatan kerja untuk melindungi pekerja.

Heat stress bukan hanya masalah kelelahan tubuh akibat bekerja di suhu panas, tetapi juga merupakan ancaman serius yang dapat mengganggu kesehatan bahkan nyawa pekerja. Tidak hanya orang yang menjadi bagian dari populasi, tetapi juga objek dan benda-benda alam lain. Populasi bukan sekadar jumlah, melainkan keseluruhan elemen yang terlibat.

Saatnya kita mengubah cara berpikir: bekerja keras tidak berarti mengorbankan keselamatan. Mengenali, mencegah, dan mengatasi heat stress harus menjadi budaya bersama di tempat kerja. Dengan demikian, pekerja dapat bekerja secara aman, produktif, dan tetap sehat tanpa terus-menerus terpapar panas yang makin terik. (*Mahasiswa Magister Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA