Search

Mengapa Iran Menyerang Aset Strategis Amerika Serikat di Negara-Negara Teluk?

Israel didukung dari berbagai segi oleh Amerika Serikat. Hal ini membuat Iran berperang dengan kekuatan besar yang saling menopang antara satu dengan yang lain. (Al Mayadeen)

Oleh: Amro Allan*

Ketika pusat yang menopang suatu sistem berada di bawah tekanan nyata, instrumen regionalnya juga menjadi lebih rentan. Ini bukan sekadar retorika, melainkan urutan strategis.

Mudah untuk menjelaskan meningkatnya serangan Iran terhadap negara-negara Teluk secara sempit dalam istilah operasional. Sistem peringatan dini, jaringan radar, dan infrastruktur militer yang berbasis di kawasan Teluk dapat membantu mendeteksi, mencegat, atau memfasilitasi serangan terhadap Iran, sehingga menjadikannya target yang jelas dalam masa perang.

Penjelasan itu tidak salah. Namun, tidak lengkap. Itu tidak sepenuhnya menjelaskan mengapa pola serangan ini muncul dalam perang saat ini, maupun logika strategis yang lebih dalam di baliknya. Untuk memahaminya, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, transformasi yang dialami Israel sejak 7 Oktober 2023. Kedua, struktur lebih luas dari perjuangan Arab-Islam melawan tatanan AS-Israel di kawasan.

Sejak 7 Oktober, Israel tidak lagi berperang sebagai “negara” yang terlibat dalam putaran terbatas penangkalan. Ia berperang sebagai “negara” yang merasa menghadapi ancaman eksistensial. Perubahan ini lebih penting daripada yang diakui banyak pengamat. Lawan yang berperang demi kelangsungan hidupnya tidak menghitung penderitaan dengan cara yang sama seperti pihak yang berperang demi prestise, pengaruh, atau posisi regional.

Toleransinya terhadap kerugian meningkat. Kerusakan yang dulu bisa memicu krisis internal atau mendorong de-eskalasi kini lebih mudah diserap. Hal ini sudah terlihat dalam perang Israel di Gaza dan Lebanon, di mana tingkat kehancuran, risiko, dan ekspansi strategis yang dulu dianggap tidak dapat diterima secara politik kini justru dianggap sebagai kebutuhan perang.

Inilah yang tampaknya dipahami Iran dalam konflik saat ini. Dalam konfrontasi ini, Israel mungkin justru lebih mampu menyerap hukuman langsung dibandingkan Amerika Serikat (AS). Israel, dalam pemahamannya sendiri, sedang berperang untuk eksistensi. AS tidak. Washington berperang demi kekuatan, posisi, dan dominasi strategis. Ia berperang untuk mempertahankan hegemoni, bukan kelangsungan hidup.

Perbedaan ini sangat menentukan. Negara yang berperang demi hegemoni sering kali kurang mampu menahan perang berkepanjangan dibandingkan negara yang berada di bawah tekanan ancaman eksistensial. Di dalam AS sendiri, terdapat kelompok berpengaruh yang tidak melihat perang ini sebagai kebutuhan strategis yang tak terhindarkan. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa Washington terseret lebih dalam ke dalam konfrontasi oleh kalkulasi Israel, bukan karena kepentingan nasional Amerika yang mendesak. Jika demikian, maka mata rantai yang lebih lemah—dalam hal toleransi politik terhadap biaya jangka panjang—bisa jadi adalah Washington, bukan Tel Aviv.

Bahkan jika Iran meningkatkan serangannya terhadap Israel, itu belum tentu menjadi jalan tercepat untuk mengakhiri perang atau mengubah arah konflik secara menentukan. Jalur yang lebih berdampak adalah dengan menargetkan pusat gravitasi sebenarnya dalam konfrontasi ini: kekuatan Amerika itu sendiri, baik secara militer maupun strategis, serta arsitektur regional yang menjadi saluran proyeksi kekuatan tersebut—di sinilah kawasan Teluk menjadi penting.

Masalahnya bukan sekadar adanya pangkalan Amerika di Teluk yang dapat digunakan dalam perang melawan Iran, meskipun itu saja sudah cukup menjadikannya relevan secara militer. Masalah yang lebih dalam adalah bahwa sejumlah negara Teluk, pada tingkat strategis, telah menerima integrasi ke dalam jaringan kekuatan Amerika di kawasan. Mereka bukan sekadar negara tetangga yang kebetulan berada dekat medan perang. Mereka terintegrasi, dalam berbagai tingkat, ke dalam infrastruktur dominasi AS: pangkalan, sistem pertahanan, aliansi, rantai pasok, dan jaringan komando.

Dalam perang sebesar ini, niat yang dinyatakan menjadi kurang penting dibandingkan posisi nyata. Di sinilah banyak komentar moralistik gagal melihat inti masalah. Dalam konfrontasi menentukan, pertanyaan utama bukanlah apakah suatu negara mengklaim diri sebagai moderat, pencinta damai, atau enggan berperang.

Pertanyaan utamanya adalah posisi negara itu dalam struktur konflik yang lebih besar: tatanan mana yang didukungnya? Kekuatan mana yang ditampungnya? Kedalaman strategis pihak mana yang dilindunginya? Dalam situasi seperti ini, ruang ambiguitas menyempit drastis. Yang tersisa adalah posisi strategis.

Dari sudut pandang tersebut, menyerang kepentingan dan instrumen pengaruh Amerika di Teluk bukanlah eskalasi yang tidak dapat dijelaskan. Itu adalah pembacaan langsung terhadap bagaimana perang ini sebenarnya disusun. Ini bukan hanya soal radar, pencegatan, atau kenyamanan medan tempur, melainkan tentang sumber kekuatan dalam konflik itu sendiri.

Pada tingkat struktural, persoalan ini menjadi semakin jelas: “Israel” tidak dapat dikalahkan, atau bahkan dilemahkan secara berkelanjutan, tanpa terlebih dahulu melemahkan AS, atau setidaknya mengurangi kemampuannya untuk mempersenjatai, melindungi, memasok, dan menopang Israel. Pengalaman dua tahun terakhir sudah menunjukkan hal ini. Ketahanan Israel di kawasan tidak terpisahkan dari dukungan terbuka Amerika: militer, politik, intelijen, dan diplomatik. Tanpa dukungan itu, kemampuannya untuk mempertahankan perang jangka panjang akan menurun drastis.

Itulah sebabnya strategi Iran tidak hanya menargetkan manifestasi langsung dari perang, tetapi juga struktur kekuatan yang memungkinkannya. AS adalah sumber utama kekuatan tersebut—aktor yang mempersenjatai, melindungi, dan mempertahankan tatanan regional tempat Israel beroperasi. Israel mungkin merupakan instrumen paling terlihat dari tatanan itu, tetapi bukan fondasi utamanya.

Selama Washington masih mampu menopang sistem tersebut, menyerang Israel saja tidak akan mengubah keseimbangan secara fundamental. Namun, ketika pusat yang menopang sistem itu berada di bawah tekanan nyata, instrumen regionalnya juga akan menjadi lebih rentan. Ini bukan retorika, melainkan urutan strategis yang ditentukan oleh sifat konflik itu sendiri.

Karena alasan yang sama, tidak cukup untuk sekadar mengecam serangan Iran terhadap negara-negara Teluk seolah-olah itu hanya kesalahan moral atau pelanggaran etika regional. Bahasa seperti itu menggantikan analisis dengan emosi. Ia mendorong pembaca untuk fokus pada ketidaknyamanan emosional, sambil mengabaikan struktur yang membentuk medan perang sejak awal.

Jika seseorang bersikeras bahwa serangan Iran ke Teluk adalah keliru, maka ia harus mampu memberikan pembacaan strategis yang serius untuk mendukung penilaian tersebut. Ia harus menjelaskan mengapa wilayah yang menampung, memungkinkan, atau melindungi proyeksi kekuatan militer Amerika seharusnya dianggap netral secara politik dan tidak boleh disentuh secara strategis. Ia juga harus menjelaskan mengapa perang yang dijalankan melalui sistem regional seharusnya hanya dijawab di salah satu front yang terlihat. Ini bukan argumen yang mudah, karena berarti menolak arsitektur dasar konflik itu sendiri.

Serangan Iran ke Teluk bukanlah pengalihan dari perang, juga bukan tanda kebingungan tentang siapa musuhnya. Itu mencerminkan kesimpulan yang lebih keras: bahwa perang terhadap Iran dijalankan melalui tatanan regional Amerika-Israel yang lebih luas, dan bahwa respons yang serius harus menghadapi tatanan tersebut di titik-titik di mana ia hadir secara operasional dan rentan secara strategis. (*)

Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA