Search

Maftucha Kenang Detik-Detik Kebakaran yang Menghanguskan Puluhan Rumah di Tenggarong

Maftucha (pertama dari kiri di baris depan) berfoto bersama para pejabat pemerintahan Kukar. (Berita Alternatif/Rifa'i)

BERITAALTERNATIF.COM – Maftucha (46), warga RT 33, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), masih mengingat jelas detik-detik kebakaran yang menghanguskan lebih dari 50 rumah di kawasan tersebut pada Senin, 5 Oktober 2026.

Saat kejadian, dia sedang bersiap berangkat berjualan martabak. Ia mengaku tidak menyangka kepulan asap hitam yang pertama kali dilihatnya akan berkembang menjadi kobaran api besar dan dengan cepat menjalar ke rumah-rumah di sekitarnya.

“Awalnya saya mau jualan. Jual martabak. Pas itu saya sudah mau berangkat,” kata Maftucha saat mengisahkan peristiwa tersebut pada Rabu (7/9/2026).

Saat itu, ia sudah mau berangkat berjualan. Tiba-tiba terdengar teriakan dari warga yang berada di belakang rumahnya.

“Saya mau berangkat, tiba-tiba orang belakang saya teriak-teriak, orang samping rumah, belakang rumah, teriak-teriak kebakaran,” ujarnya.

Mendengar teriakan tersebut, dia langsung keluar rumah mengikuti warga yang berlari ke arah depan. Dari sana, ia mencoba melihat sumber kebakaran.

“Waktu itu saya lari ke depan. Naik ke depan melihati kebakaran,” tuturnya.

Namun, ketika pertama kali melihat ke arah sumber api, Maftucha belum melihat kobaran api yang besar. Dia hanya melihat kepulan asap hitam. “Cuma kayak asap hitam aja,” katanya.

Saat itu, dia baru menyadari bahwa suaminya masih berada di dalam rumah dan sedang mandi.

Ia pun langsung kembali ke belakang rumah untuk memberitahukan kondisi tersebut.

“Baru ingat saya, suami saya lagi mandi. Saya langsung lari ke belakang lagi. Saya langsung ketuk-ketuk pintu kamar mandi,” bebernya.

Setelah diberi tahu, suaminya langsung keluar dari kamar mandi dan menanyakan lokasi kebakaran.

Dalam situasi panik tersebut, Maftucha dan suaminya berusaha menyelamatkan kendaraan yang mereka miliki.

Dia mengeluarkan sepeda motor, sementara suaminya berusaha menyelamatkan mobil.

“Langsung bapaknya keluar. Saya langsung menyelamatkan motor saja. Bapaknya langsung menyelamatkan mobil,” tuturnya.

Namun, kondisi berubah dengan sangat cepat. Api yang sebelumnya hanya terlihat seperti asap hitam tiba-tiba membesar.

“Tahu-tahu semakin besar apinya. Kayak sekejap, langsung besar betul. Padahal tadi saya lihat pertama masih asap hitam,” katanya.

Ia memperkirakan jarak rumahnya dengan titik awal kebakaran sekitar dua rumah. Dari rumahnya, Maftucha dapat melihat bagian belakang rumah warga yang berada di dekat titik api.

Saat dirinya berusaha mengeluarkan kendaraan, api sudah mulai terlihat di belakang rumah.

“Saya itu sempat keluarkan motor dua, terus barang-barang sedikit aja,’” ujarnya.

Kondisi semakin sulit karena angin pada saat itu bertiup cukup kencang. Menurutnya, angin turut membuat api dengan cepat menjalar ke rumah-rumah lain.

“Tetangga saya itu enggak sempat ngeluarkan apa-apa, soalnya kayak cepat betul itu. Karena mungkin angin itu, anginnya pas lagi deras-derasnya,” katanya.

Kebakaran tersebut terjadi sekitar pukul 16.45 Wita. Saat itu, Maftucha memang sedang bersiap berangkat berjualan martabak. “Saya kan jualan martabak sore,” tuturnya.

Dalam kepanikan itu, dia bersama keluarganya berusaha menyelamatkan barang-barang yang dianggap penting.

Ia mengatakan, keluarganya terdiri dari dirinya, suami, dua anak, serta anggota keluarga lainnya.

“Kami itu berlima. Cuma namanya orang panik melihati api, enggak sempat keluarkan yang lain selain kendaraan,” ujarnya.

Dua sepeda motornya yang diparkir cukup dekat dengan lokasi kebakaran bahkan mengalami kerusakan akibat panas yang sangat tinggi.

“Saking dekatnya sama rumah kebakaran itu, leleh motor,” katanya.

Bahkan, sepeda motor yang berada lebih jauh juga mengalami bagian yang meleleh karena panas dari kobaran api.

“Jangankan motor saya, motor yang agak jauh meleleh juga, karena saking panasnya api itu,” tuturnya.

Mayoritas Rumah Terbuat dari Kayu

Para korban kebakaran mencari barang-barang berharga setelah kebakaran. (Berita Alternatif/Rifa’i)

Maftucha menjelaskan bahwa rumahnya merupakan rumah kayu. Banyak rumah di kawasan yang terdampak kebakaran juga menggunakan material kayu sehingga api dapat dengan cepat merambat.

“Di sini banyak yang kebakaran ini kebanyakan rumah kayu. Mungkin karena itu, jadi cepat kebakar,” ujarnya.

Ia dan keluarganya telah tinggal di rumah tersebut sejak 2014. Rumah itu dibeli dan kemudian direnovasi.

Dia mengaku kepanikan membuat dirinya tidak sempat memikirkan untuk menyelamatkan pakaian dan barang-barang lainnya.

“Enggak kebayang menyelamatkan segala pakaian,” ujarnya.

Rumahnya justru menjadi salah satu rumah yang terakhir terdampak api. Api tidak langsung datang dari belakang, melainkan menjalar dari samping.

Ia menyebut posisi rumahnya berada di ujung kawasan permukiman. Di belakang rumahnya terdapat rumah lain yang menjadi bagian dari kawasan yang pertama kali terdampak. “Rumah saya paling ujung,” katanya.

Posisi tersebut, menurut Maftucha, membuat rumahnya sempat bertahan lebih lama dibandingkan rumah-rumah lainnya.

“Punya saya terakhir kebakar. Mungkin karena paling ujung,” ujarnya.

Namun, kobaran api yang semakin besar akhirnya membuat keluarganya harus menjauh dari rumah.

“Begitu api itu membesar, akhirnya kami minggir semua. Jauh-jauh dari rumah, karena apinya besar,” tuturnya.

Api Menjalar Cepat ke Berbagai Arah

Warga yang terdampak kebakaran mengumpulkan puing-puing yang terbakar dalam insiden kebakaran di Kelurahan Melayu. (Berita Alternatif/Ahmad Rifa’i)

Maftucha mengatakan, titik awal kebakaran berada di kawasan yang relatif berada di tengah permukiman. Kondisi tersebut membuat api dengan cepat menjalar ke berbagai arah.

Menurut dia, api dapat bergerak ke kanan dan kiri serta ke berbagai arah lainnya.

“Cepat menyebar apinya. Ke kanan bisa, ke kiri bisa. Jadi, cepat bener apinya nyebar,” ujarnya.

Ia juga mengingat bahwa ketika kebakaran mulai membesar, warga mulai berlarian menyelamatkan diri. Namun, pada awal kejadian, kondisi belum seramai ketika api sudah membesar.

“Waktu pertama-pertama enggak ada yang panik. Waktu sudah terbakar, besar apinya, baru semuanya panik,” katanya.

Maftucha mengaku sangat terpukul melihat rumahnya yang selama bertahun-tahun ditempati akhirnya habis dilalap api. “Tahu-tahu rumah sudah kayak gitu,” tuturnya.

Ia mengatakan, perasaan tersebut semakin berat ketika dirinya kembali melihat kondisi rumah setelah kebakaran.

“Kayak mimpi gitu. Sedih. Pokoknya enggak nyangka,” katanya.

Berharap Bantuan Pemerintah

Untuk sementara waktu, Maftucha bersama keluarganya memilih mengontrak rumah. Lokasi tempat tinggal sementara tersebut berada di gang belakang dan relatif dekat dengan tempatnya berjualan.

“Dekat dengan tempat jualan. Jadi enak gitu. Saya jualan di sebelah SD Muhammadiyah,” ujarnya.

Dia berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait dapat memberikan bantuan kepada para korban kebakaran, terutama untuk memenuhi kebutuhan mendesak setelah kehilangan tempat tinggal dan berbagai barang milik mereka. “Kita butuh bantuan secepatnya,” ucapnya.

Maftucha juga menyampaikan bahwa kebutuhan anak-anaknya untuk tetap bersekolah menjadi perhatian keluarganya.

Dia berharap bantuan juga dapat membantu memenuhi kebutuhan sekolah, termasuk seragam.

Kini, ia hanya bisa berusaha melanjutkan kehidupannya bersama keluarga setelah kehilangan rumah dan sebagian besar harta benda dalam waktu yang sangat singkat.

“Kalau ada rezekinya pengen dibangun lagi. Cuma kita kan usaha, sambil jalan,” tuturnya.

Bagi Maftucha, peristiwa tersebut menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.

Dia mengaku tidak pernah membayangkan rumah yang telah ditempatinya sejak 2014 dapat hilang hanya dalam hitungan waktu yang sangat singkat. “Kayak enggak percaya,” tuturnya. (*)

Penulis: Ahmad Rifa’i
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA