Search

Lurah Baru Optimistis Bangun Kelurahan Lewat Penguatan Masjid, Pendidikan, dan Kolaborasi Warga

Lurah Baru Bayu Ramanda Bani Nugraha berfoto bersama di sela-sela tinjauan lapangan Lomba Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat tahun 2025. (Berita Alternatif/Ulwan Murtadha)

BERITAALTERNATIF.COM – Dengan berbagai keterbatasan ruang, wilayah, sumber daya manusia, dan infrastruktur, Kelurahan Baru, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur justru berhasil mencatat kemajuan signifikan dalam satu hingga satu setengah tahun terakhir.

Sejumlah strategi yang dirancang oleh Lurah Baru, Bayu Ramanda Bani Nugraha, kini mulai menunjukkan hasil nyata dan bahkan mendapat pengakuan dari pemerintah pusat.

Salah satu terobosan utama adalah penguatan peran rumah ibadah, khususnya masjid, sebagai pusat pembinaan sosial dan spiritual masyarakat. Beberapa masjid seperti Masjid Kyai Haji Muhammad Sadjid, Masjid Baiturrahman, dan masjid lainnya di Kelurahan Baru menjadi model penerapan masjid ramah musafir, dan kini mulai ditiru oleh masjid-masjid lain. Langgar-langgar kecil yang sebelumnya kurang aktif kini menunjukkan perkembangan.

“Sebagai manusia dan hamba Tuhan, potensi yang kita miliki harus dimaksimalkan untuk memberi manfaat,” tegas Bayu kepada awak media Berita Alternatif di kantornya baru-baru ini.

Strategi ini sejalan dengan indikator penilaian Lomba Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM), khususnya pada aspek sosial.

Di sektor ekonomi, kegiatan Festival Kampung Kuliner menjadi contoh sukses pemberdayaan warga. Tahun ini, festival dilaksanakan tanpa anggaran dari APBD, namun antusiasme masyarakat tetap sangat tinggi.

Menurut laporan panitia, produk UMKM habis terjual bahkan sebelum waktu isya. Festival ini kini resmi masuk kalender kegiatan kepariwisataan daerah.

Kelurahan Baru juga berkembang menjadi kawasan pendidikan terpadu, mulai dari jenjang KB, TK, SD, SMP, SMA hingga SMK. Kehadiran Sekolah Islam Terpadu Nurul Ilmi menjadi magnet utama.

“Lalu lintas padat setiap pagi, terutama saat hujan, bahkan sering mengalahkan kawasan pusat seni,” ungkapnya.

Fenomena tersebut dinilai menjadi bukti potensi ekonomi dari aktivitas pendidikan, mulai dari hunian kos hingga aktivitas belanja pelajar.

Saat ini Kelurahan Baru mengikuti lomba tingkat nasional berbasis regulasi resmi melalui Permendagri tentang BBGRM.

Bayu menyebut momen tersebut sangat istimewa, karena berbeda dengan lomba berbasis inovasi individu.

“Ini bukan tentang saya pribadi, tapi tentang kerja bersama masyarakat,” tegasnya.

Dia mengaku tak pernah membayangkan bisa sampai sejauh ini. Baginya, yang terpenting adalah meninggalkan warisan dan legacy.

“Jabatan ini tidak mungkin kita pegang selamanya. Setidaknya ada warisan yang kita tinggalkan. Itu bagian dari anak tangga perjalanan kita,” ujarnya.

Ia mengaku jarang duduk lama di kantor. Lebih banyak waktu dihabiskan untuk turun ke lapangan, keliling, dan berdiskusi langsung dengan para RT.

Dari 18 RT di Kelurahan Baru, enam di antaranya adalah rekan kerja almarhum ayahnya. Jika dahulu mereka dipimpin oleh sang ayah, kini mereka bekerja bersamanya.

“Bukan berarti saya pimpinan mereka, saya justru menganggap mereka sebagai partner. Dengan cara itu akselerasi lebih enak, bukan dengan birokrasi yang kaku,” jelasnya.

Bayu juga menekankan pentingnya pendekatan humanis dibanding teknokratis, mengingat wilayahnya masih mengandalkan nilai kemasyarakatan dan kedekatan personal.

Dia menyebut 70–80 persen penerimaan masyarakat terhadap dirinya berasal dari reputasi almarhum ayahnya, yang dulu juga menjadi panutan masyarakat.

“Ini bukan sekadar bonus, ini adalah rezeki dan amanah yang harus dijaga,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan yang dilakukan tidak dibatasi waktu. Beberapa fondasi telah dibangun sejak pemimpin sebelumnya, dan kini dilanjutkan dengan visi yang lebih adaptif terhadap regulasi.

“Dulu ada teman-teman yang tidak bisa mengetik, sekarang harus bisa. Yang dulu pekerjaannya hanya sebatas ini, sekarang harus lebih dari itu,” ungkapnya.

Mayoritas pegawai Kelurahan Baru kini berusia kepala tiga hingga mendekati pensiun. Namun kemajuan mereka dinilai signifikan dibanding masa lalu.

Meski berbagai keterbatasan masih ada, Bayu tetap optimistis bisa terus memajukan Kelurahan Baru.

“Selama tugas yang diberikan pemerintah dijalankan dengan sungguh-sungguh, tidak akan ada kekurangan ilmu. Yang dibutuhkan hanya keseriusan,” tandasnya.

Dengan strategi berbasis spiritual community, penguatan ekonomi melalui kegiatan budaya, pengembangan kawasan pendidikan, dan pendekatan kepemimpinan egaliter, Bayu menargetkan Kelurahan Baru sebagai kawasan maju berbasis kolaborasi dan nilai sosial.

“Ini perjalanan bersama. Yang penting bukan saya, tapi keberlanjutannya,” tutupnya. (*)

Penulis: Ulwan Murtadha
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA