Search

Longsor di Gunung Pegat Tenggarong: Rumah Hancur, Korban Tunggu Uluran Pemerintah

Korban tanah longsor di Jalan Gunung Pegang Kelurahan Melayu Kecamatan Tenggarong. (Berita Alternatif/Ufqil Mubin)

BERITAALTERNATIF.COM – Bencana tanah longsor kembali mengguncang warga Jalan Gunung Pegat, RT 35, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Peristiwa yang terjadi pada malam hari tanggal 28 Mei 2025 itu menyisakan duka mendalam, terutama bagi Linda Wahyuni (53), salah satu korban yang rumahnya hancur total.

Kejadian bermula sekitar pukul 10 malam, ketika air secara tiba-tiba mulai masuk ke dalam rumah Linda.

“Biasanya enggak pernah air masuk, makanya saya bingung. Saya pikir air tumpah. Ternyata pas buka pintu, air itu seperti dibuang, deras sekali,” ungkapnya kepada awak media pada Rabu (2/7/2025).

Situasi memburuk menjelang subuh. Sekitar pukul 6 pagi, bagian depan rumahnya mulai runtuh sedikit demi sedikit. “Saya langsung bangunin anak-anak. Saya bilang, sudah, kita ambil barang yang penting. Saya tahu, kalau enggak diselamatkan sekarang, kita susah nanti,” kenangnya.

Sebelum sempat mandi, ia mendengar suara seperti ledakan besar disusul dengan suara retakan tanah yang semakin keras. “Saya langsung lari turun, enggak pamit ke tetangga. Pokoknya kami lari, saya bawa anak-anak ke rumah kakak,” katanya dengan nada getir.

Menurut Linda, keretakan mulai terasa jelas sekitar pukul 7 pagi, lalu semakin renggang hingga jam 3 sore. Di malam harinya, rumah sudah benar-benar hancur.

“Hari Rabu itu saya baru berani lihat lagi. Tetangga sampai dobrak pintu rumah karena saya takut masuk sendiri. Pak Lurah juga turun langsung ke lokasi,” ungkapnya.

Kini, ia dan dua anaknya mengungsi di rumah keluarganya di dekat Bengkel Al-Jabar Jalan Kartini Tenggarong.

Kehidupan mereka jauh dari kata mudah. Linda tidak lagi bekerja karena kondisi kesehatan yang memburuk sejak lima tahun terakhir.

“Dulu saya bantu-bantu di katering, tapi sekarang enggak kuat. Anak saya yang besar, Dea Alessia (25), yang jadi tulang punggung keluarga. Yang kecil, Miranda Aulia, baru lulus SMP dan mau masuk SMA,” jelasnya.

Yang paling memilukan, rumah yang hancur itu baru mereka tempati selama satu setengah tahun. “Rumah itu bangunan 10 tahun. Dulu milik orang lain. Setelah dia meninggal, istrinya jual rumah ke saya. Saya beli pakai uang warisan dari kakak setelah 30 tahun cuma nyewa sana-sini,” katanya. Rumah itu ia beli seharga Rp 245 juta.

Surat-surat rumah sudah lengkap, termasuk PPAT dan proses balik nama yang sedang berjalan. Namun kini, bangunan itu hanya tinggal puing. “Sudah tidak mungkin dibangun lagi. Tanahnya pun sudah tidak bisa ditempati,” tambahnya.

Linda berharap pemerintah bisa memberikan bantuan dan solusi pemukiman yang layak. “Kalau bisa, pemerintah bantu meringankan beban kami. Saya sudah tidak bekerja, kakak-kakak saya banyak yang janda, dan bapak di sana hanya mengandalkan hasil kebun. Anak-anak saya yang tanggung hidup kami,” tuturnya lirih.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kukar disebut telah melakukan peninjauan dan evakuasi awal. Namun kejelasan terkait bantuan jangka panjang bagi korban, termasuk relokasi atau santunan, masih sangat dinantikan. (*)

Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA