Search

Kisah Perjuangan Sehari-hari Rakyat Gaza untuk Bertahan Hidup

Masyarakat Gaza berusaha mendapatkan makanan. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Gaza yang berada dalam kepungan tanpa akhir kini semakin dekat pada kematian, setahap demi setahap. Laporan ini merupakan kisah rakyat Gaza yang setiap hari harus berjuang melawan haus dan penyakit demi bertahan hidup.

Kantor Berita Mehr melaporkan: Jalur Gaza telah bertahun-tahun berada dalam blokade ketat oleh rezim penjajah Israel. Sebuah pengepungan yang tidak hanya melumpuhkan perekonomian, tetapi juga menghancurkan elemen-elemen paling dasar dari kehidupan. Salah satu aspek paling menyakitkan dari penderitaan ini adalah kelangkaan air bersih—sebuah krisis yang menurut organisasi hak asasi manusia telah berubah menjadi bencana kemanusiaan.

Laporan-laporan dari Al Jazeera menggambarkan kesaksian para ibu, dokter, guru, pekerja, dan anak-anak di Gaza—rakyat yang setiap hari berjuang melawan kehausan dan penyakit demi bertahan hidup.

Media memperingatkan bahwa lebih dari 97% air dalam jaringan distribusi air Gaza tidak layak untuk diminum. Kandungan garam yang tinggi, nitrat, bakteri, dan logam berat seperti timbal dan sulfur menjadikan air ini ancaman serius bagi kesehatan publik. Sejak blokade dimulai pada tahun 2007, Israel sangat membatasi masuknya peralatan yang dibutuhkan untuk memperbaiki atau membangun kembali infrastruktur air. Pembatasan ini, ditambah dengan kehancuran luas infrastruktur air akibat serangan militer—terutama sejak tahun 2023—telah memperburuk situasi secara drastis.

Kekurangan bahan bakar dan listrik menyebabkan stasiun pompa air dan instalasi pengolahan air tidak bisa berfungsi. Akibatnya, banyak warga Gaza terpaksa menggunakan air yang tercemar dan tidak higienis, yang meningkatkan risiko penyakit menular secara signifikan. Menurut Bushra Khalili, Kepala Kebijakan Oxfam di Gaza, sebagian warga bahkan hidup tanpa setetes air bersih pun, dalam kondisi yang tidak manusiawi.

Menunggu Sebuah Tangki Air

Salah satu kisah paling menyedihkan datang dari para ibu yang kesulitan memperoleh air bersih untuk anak-anak mereka. Fatima, seorang ibu berusia 32 tahun di kamp pengungsi Nuseirat mengatakan:

“Kami menunggu berhari-hari, berharap sebuah tangki air akan datang ke kamp. Kadang airnya sangat kotor hingga tidak bisa kami berikan kepada anak-anak, tapi kami tidak punya pilihan.”

Fatima menjelaskan bahwa anak-anaknya telah beberapa kali mengalami diare dan infeksi saluran pencernaan akibat air kotor. Laporan Al Jazeera juga menyebutkan bahwa pada tahun 2024, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 3.150 kasus penyakit akibat air tercemar, yang sebagian besar menimpa anak-anak.

Anak-anak, sebagai kelompok paling rentan dalam krisis ini, menderita penyakit seperti diare dan infeksi kulit. Seorang dokter di Rumah Sakit Al-Shifa mengatakan:

“Setiap hari kami menerima anak-anak yang mengalami malnutrisi dan gangguan pencernaan akibat kekurangan air dan penggunaan air tercemar. Ini adalah tragedi yang sebenarnya bisa dicegah jika ada akses ke air bersih.”

Bertahan di Tengah Kepungan

Muhammad, seorang pekerja bangunan berusia 45 tahun di Gaza utara berkata:

“Sebelum perang, kami masih bisa mendapatkan air dari sumur-sumur lokal. Sekarang, sebagian besar sumur sudah hancur. Saya harus berjalan beberapa kilometer setiap hari untuk mencari air bagi keluarga saya.”

Ia menambahkan bahwa terkadang mereka terpaksa menggunakan air asin dari laut untuk mandi, yang menyebabkan masalah kulit pada keluarganya.

Kisah-kisah ini menunjukkan perjuangan tanpa henti rakyat Gaza untuk bertahan dalam situasi di mana bahkan kebutuhan manusia paling dasar seperti air telah menjadi tantangan harian. Hani Mahmoud menyebut Gaza sebagai “kamp kerja paksa raksasa,” tempat di mana orang harus mengantre berjam-jam atau mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan satu liter air bersih.

Krisis air ini tidak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental warga Gaza. Sarah, seorang guru berusia 28 tahun berkata:

“Kami bahkan tidak bisa lagi memikirkan masa depan. Ketika kami tidak punya air untuk diminum, bagaimana mungkin kami bisa berpikir tentang pelajaran dan sekolah?”

Anak-anaknya sering bertanya kenapa mereka tidak bisa mandi seperti anak-anak lain di dunia. Ia hanya bisa terdiam. Situasi begitu parah hingga 90% anak-anak di rumah sakit Gaza menunjukkan gejala trauma dan stres pasca bencana, yang sebagian besar disebabkan oleh kekurangan air dan kondisi tidak higienis.

Krisis air di Gaza bukan sekadar masalah kesehatan, tapi juga memiliki dampak lingkungan dan kemanusiaan yang luas. Hancurnya sistem pembuangan limbah menyebabkan air limbah mentah mengalir ke danau dan pantai Gaza, membahayakan ekosistem laut dan meningkatkan risiko wabah penyakit menular.

Oxfam dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa penyakit akibat air tercemar di Gaza terus meningkat.

Blokade dan pembatasan terhadap bantuan kemanusiaan juga telah menghancurkan harapan untuk membangun kembali infrastruktur air. Dari awal gencatan senjata sementara pada tahun 2024 hingga Januari 2025, hanya 7.926 truk bantuan yang berhasil masuk ke Gaza—kebanyakan berupa makanan, bukan peralatan untuk memperbaiki sistem air. Hal ini membuat konsep “ketahanan air” menjadi impian yang tak terjangkau di Gaza.

Upaya Internasional

UNICEF pada Juni 2024 menandatangani perjanjian dengan Israel untuk membangun kembali fasilitas desalinasi, tetapi upaya tersebut belum membuahkan hasil karena blokade dan serangan militer terus berlangsung. Organisasi seperti Human Rights Watch dan Amnesty International berulang kali menyatakan bahwa membatasi akses warga Gaza terhadap air bersih merupakan bentuk hukuman kolektif dan pelanggaran hak asasi manusia.

Namun hambatan politik dan militer masih menjadi penghalang utama. Israel menghalangi masuknya peralatan penting, dan bantuan kemanusiaan secara sistematis dibatasi. Bahkan pusat distribusi bantuan dijadikan target serangan, berubah menjadi “perangkap kematian” bagi warga sipil.

Krisis air di Gaza bukan sekadar krisis lingkungan. Ini adalah bencana kemanusiaan yang berakar pada pengepungan, penghancuran infrastruktur, dan kebijakan pembatasan yang disengaja. Kisah para ibu, anak-anak, dan pekerja Gaza memperlihatkan kedalaman penderitaan dan keteguhan mereka dalam menghadapi krisis ini.

Ibu-ibu yang berdiri berjam-jam untuk memperoleh air bersih bagi anak-anak mereka, anak-anak yang sakit akibat air tercemar, dan keluarga yang berjuang dalam keputusasaan hanya untuk tetap hidup—semuanya menggambarkan kenyataan pahit di Gaza.

Untuk mengatasi krisis ini, diperlukan tindakan internasional yang segera dan tegas: Mengakhiri blokade, mengizinkan masuknya peralatan rekonstruksi, dan menjamin akses ke air bersih sebagai hak dasar manusia. Gaza menunggu dunia untuk bertindak. (*)

Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA