Search

Kesuksesan Abadi

Penulis. (Dok. Berita Alternatif)

Oleh: Ahmad Fauzi*

Memiliki rumah mewah, makanan berlimpah, pakaian anggun nan mahal, kosmetik tanpa batas, kendaraan dengan nilai di atas rata-rata, perhiasan berkilauan, tanah di mana-mana, hingga relasi bisnis yang mengantarkan seseorang pada jabatan publik dan ketenaran, kerap dianggap sebagai tolak ukur kesuksesan dalam karier.

Mendapatkan pujian dari orang lain, haus pengakuan atas pencapaian, merasa paling berperan dalam kehidupan orang lain, hingga berusaha mengendalikan pribadi seseorang seolah-olah tanpa dirinya orang itu tidak berharga, merupakan dampak psikologis negatif dari mengejar kesuksesan materialistis. Tidak jarang, hal ini mendorong seseorang menerjang batas norma demi terlihat memukau.

Mengejar pencapaian yang menguntungkan, menganggap pertemanan dan persaudaraan hanya sebatas urusan transaksional, serta menjauhi orang-orang yang berada dalam kesulitan, menjadi potret nyata kehidupan sebagian orang. Bahkan, kedermawanan yang mereka tunjukkan pun sering kali hanya dijadikan investasi. Mereka memandang rendah orang yang tidak berharta sebagai beban. Pada akhirnya, orang semacam ini terjebak dalam ruang individualistik, sibuk menumpuk harta benda, merasa kuat, dan bertindak semena-mena. Meski berada di tengah keramaian, ia akan selalu merasa sendiri, menghabiskan biaya besar untuk membeli pengakuan, namun tetap tidak mencapai kebahagiaan sejati.

Pribadi seperti ini banyak kita jumpai dalam realitas kehidupan. Kesuksesan yang melahirkan pribadi individualistik semacam itu hanya membawa malapetaka dan berdampak luas pada sendi-sendi kehidupan, yaitu meningkatnya kesenjangan sosial dan ekonomi.

Kesenjangan sosial dan ekonomi adalah kondisi ketidakseimbangan dalam masyarakat dari segi pengetahuan maupun pendapatan. Perbedaan mencolok dalam akses, distribusi, pemanfaatan sumber daya, peluang, dan hasil aktivitas ekonomi serta sosial mengakibatkan meningkatnya kemiskinan dan pengangguran.

Badan Pusat Statistik Indonesia merilis jumlah penduduk miskin pada tahun 2024 mencapai 24,06 juta orang atau 8,57% dengan pendapatan per bulan di bawah Rp 595.242. Sementara itu, Bank Dunia mendefinisikan kemiskinan dengan standar pendapatan di bawah Rp 1,15 juta per bulan. Artinya, sekitar 171,8 juta orang atau 60% penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan.

Penduduk dengan pengeluaran menengah, yakni Rp 2 juta–Rp 10 juta per bulan, berjumlah 47,85 juta orang atau sekitar 17,13%. Sedangkan penduduk dengan pengeluaran di atas Rp 10 juta per bulan hanya sekitar 1 juta orang atau 0,38%.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa kesenjangan di Indonesia sangat parah. Kekayaan alam hanya dinikmati segelintir orang, sementara jumlah penduduk miskin semakin sulit dikendalikan. Hal ini memicu kecemburuan sosial dan konflik.

Perbedaan mencolok tersebut menimbulkan frustrasi, kecemburuan, dan ketidakpuasan antarmasyarakat. Kelompok miskin merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah. Misalnya, dalam akses pendidikan dan kesehatan, orang kaya lebih mudah mendapatkannya, sementara orang miskin terbelit birokrasi. Jika hal ini terus berlanjut, konflik akan semakin membesar.

Kesenjangan juga menghambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Ketimpangan ekstrem menurunkan daya beli masyarakat, menghambat investasi, dan menciptakan ketidakstabilan. Tidak heran jika pada akhirnya hal ini meningkatkan kriminalitas serta mengancam keamanan negara.

Kerusuhan, penjarahan, dan tindakan ilegal bukanlah tanpa sebab, melainkan akumulasi persoalan kehidupan masyarakat yang menyaksikan praktik kaum elit. Mereka yang pengangguran, terlilit utang, dan kesulitan mencari nafkah akan mencari cara sesuai kemampuan. Bagi yang tidak kuat secara ideologis, kondisi ini mendorong mereka melanggar norma kemanusiaan, bahkan meniru perilaku elit dengan merampas sesuatu yang bukan haknya. Jika terus berlanjut, hukum alam akan berlaku: yang kuat memangsa yang lemah. Lalu, apa bedanya kita dengan binatang?

Fenomena ini juga terlihat di dunia politik, pejabat pemerintah, pejabat BUMN/BUMD, penegak hukum, publik figur, bahkan pengusaha swasta. Mereka saling menjatuhkan demi kekuasaan yang dianggap sebagai simbol kesuksesan. Karena merasa memiliki kekuatan, mereka rela mengorbankan hak publik. Tidak heran banyak orang beranggapan bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar abadi.

Mayoritas dari kita berpandangan bahwa dunia ini diciptakan untuk mengulang-ulang pertumpahan darah dan kekacauan akibat perbuatan manusia. Hidup dianggap sekadar urusan dunia, tanpa memikirkan bekal yang bisa dibawa ke alam setelahnya. Asupan materialistik membuat banyak orang lupa bahwa kehidupan dunia ini fana, sehingga mereka mati-matian mengejar kesuksesan yang sesungguhnya tidak abadi.

Lalu, bagaimana dengan kesuksesan abadi? Secara etimologi, kata “sukses” berasal dari bahasa Latin successus yang berakar pada succedere, berarti mengikuti dari bawah atau memperoleh hasil yang baik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sukses berarti berhasil atau beruntung.

Kesuksesan adalah kata netral yang maknanya sangat dipengaruhi oleh ideologi penggunanya. Jika dilekatkan pada materialisme, kesuksesan hanya berumur pendek. Kejayaan bertahan selama harta dan kedudukan masih ada. Begitu hilang, nilai dirinya pun lenyap. Bahkan, bila menggunakan kewenangan untuk hal-hal fatal, namanya dikenang sebagai orang tercela. Contohnya, Karun yang kaya raya lalu terkubur, Firaun yang berkuasa lalu tenggelam, Adolf Hitler yang berkuasa lalu tumbang, hingga Benjamin Netanyahu yang pongah dan haus darah akan selalu dikutuk umat manusia. Fenomena ini juga tampak pada tokoh-tokoh kecil yang koruptif dan kriminal di berbagai belahan dunia.

Namun, bagi mereka yang orientasinya melampaui materi dan menjadikan harta atau kekuasaan hanya sebagai alat untuk tujuan mulia, tanpa kekayaan dan jabatan pun mereka tetap memberi manfaat, bahkan setelah jasadnya tiada. Banyak contoh manusia seperti ini yang namanya tetap diagungkan dari zaman ke zaman, misalnya Rasulullah Saww, para nabi, pejuang kaum tertindas, pahlawan kemerdekaan, pelayan masyarakat, dan tokoh lainnya. Mereka tidak silau dengan materi maupun kekuasaan, tetapi tetap dibutuhkan karena prinsip hidup yang luhur.

Mengejar kesuksesan dengan memahami substansi penciptaan akan mengubah perilaku manusia. Dari yang awalnya haus pengakuan menjadi pribadi yang bermanfaat, dari yang semula menghamburkan uang demi ketenangan palsu menjadi pribadi yang matang secara pemahaman, dari yang terbiasa dengan intrik berubah menjadi pembawa harmoni. Inilah pentingnya memahami hakikat penciptaan.

Akhirnya, dari perjalanan hidup manusia yang beragam ini dapat disimpulkan bahwa kesuksesan tidak selalu berarti kaya atau berkuasa. Justru semakin ditonjolkan kekayaan dan kekuasaan tanpa kebermanfaatan bagi sesama dan alam semesta, semakin besar persoalan baru yang lahir. Ingat kata Paman Ben kepada Peter Parker, “With great power comes great responsibility.” (*CEO Berita Alternatif)

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA