Oleh: Aswin Susanto*
Permasalahan soal pekerja yang mengeluhkan sering mengalami kelelahan setelah over night shift menjadi masalah utama dalam dunia kerja. Salah satu yang sering dijumpai yaitu kelelahan pekerja setelah over night shift di perusahaan tambang menjadi isu yang sangat penting dan berpotensi berdampak besar pada keselamatan dan kesehatan pekerja.
Shift kerja merupakan suatu sistem yang diterapkan perusahaan untuk meningkatkan produksi secara maksimal dan keberlanjutan dengan bekerja selama 24 jam dalam sehari. Selain itu, upaya ini juga sebagai usaha mengoptimalkan daya kerja mesin-mesin industri dan meningkatkan keuntungan bagi perusahaan.
Hal ini akan berdampak buruk pada pekerja sehingga menimbulkan kelelahan mental atau stres. Adnan (Marcelia, 2014) mengemukakan bahwa sistem shift kerja dapat berdampak baik dan buruk. Dampak baiknya adalah memaksimalkan sumber daya yang ada, memberikan lingkungan kerja yang sepi khususnya shift malam dan memberikan waktu libur yang banyak. Sedangkan dampak burukmya adalah penurunan kinerja, keselamatan kerja dan masalah kesehatan.
Tidak semua pekerja dapat menyesuaikan diri dengan sistem shift kerja karena membutuhkan banyak sekali penyesuaian waktu, seperti waktu tidur, waktu makan dan waktu berkumpul bersama keluarga. Aspek-aspek shift kerja menurut (Abu Hanan Hammasin, 2021) meliputi aspek fisiologi, aspek psikologi, aspek kinerja dan aspek domestik sosial.
Berikut beberapa faktor yang dapat menimbulkan kelelahan pekerja setelah over night shift di perusahaan tambang:
Pertama, dampak kelelahan. Kelelahan pekerja setelah over night shift di perusahaan tambang bisa memiliki dampak yang signifikan pada keselamatan dan kesehatan pekerja. Kelelahan dapat menyebabkan penurunan konsentrasi, penurunan reaksi, dan penurunan kemampuan untuk melakukan tugas-tugas yang memerlukan perhatian dan konsentrasi tinggi. Hal ini dapat meningkatkan risiko kecelakaan dan insiden di tempat kerja, terutama di industri tambang yang memiliki risiko tinggi. Menurut Diplo et al. (2011), untuk mengatasi malah dampak kelelahan bekerja, dapat dilakukan beberapa upaya sebagai berikut: disesuaikan kapasitas kerja dengan fisik, redesain kondisi kerja yang ergonomis, bekerja dengan sikap alamiah, kerja dengan dinamis, kerja lebih variasi, redesain lingkungan kerja, reorganisasi kerja, kebutuhan kalori seimbang, istirahat setiap 2 jam sekali dengan sedikit kudapan.
Kedua, faktor penyebab kelelahan. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kelelahan pekerja setelah over night shift di perusahaan tambang, antara lain:
Salah satu, jadwal kerja. Jadwal kerja yang tidak teratur dan over night shift dapat menyebabkan kelelahan. Pekerja yang bekerja pada malam hari dapat mengalami gangguan tidur dan kelelahan karena tubuh mereka tidak dirancang untuk bekerja pada malam hari.
Kemudian, kurangnya istirahat. Kurangnya waktu istirahat dan tidur yang cukup dapat menyebabkan kelelahan. Pekerja yang tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup dapat mengalami kelelahan dan penurunan produktivitas.
Selain itu, stres kerja. Stres kerja yang tinggi dapat menyebabkan kelelahan. Pekerja yang mengalami stres kerja yang tinggi dapat mengalami kelelahan dan penurunan motivasi.
Ketiga, strategi mengatasi kelelahan. Untuk mengatasi kelelahan pekerja setelah over night shift di industri tambang, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan, antara lain:
Salah satunya, pengaturan jadwal kerja. Mengatur jadwal kerja yang lebih teratur dan memadai untuk memastikan pekerja mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Perusahaan dapat mempertimbangkan untuk mengatur jadwal kerja yang lebih fleksibel dan memungkinkan pekerja untuk mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Kemudian, fasilitas kesehatan. Menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai untuk pekerja, seperti ruang istirahat dan fasilitas kesehatan. Perusahaan dapat menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai untuk pekerja, seperti ruang istirahat dan fasilitas kesehatan, untuk membantu pekerja mengatasi kelelahan.
Lalu, pendidikan dan pelatihan. Memberikan pendidikan dan pelatihan kepada pekerja tentang manajemen kelelahan dan keselamatan kerja. Perusahaan dapat memberikan pendidikan dan pelatihan kepada pekerja tentang manajemen kelelahan dan keselamatan kerja untuk membantu pekerja mengatasi kelelahan dan meningkatkan keselamatan kerja.
Terakhir, pengawasan dan pemantauan. Mengawasi dan memantau kondisi pekerja untuk memastikan keselamatan dan kesehatan mereka. Perusahaan dapat mengawasi dan memantau kondisi pekerja untuk memastikan keselamatan dan kesehatan mereka dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengatasi kelelahan.
Keempat, pentingnya peran perusahaan. Perusahaan memiliki peran yang sangat penting dalam mengatasi kelelahan pekerja setelah over night shift di industri tambang. Perusahaan harus memiliki kebijakan yang jelas tentang manajemen kelelahan dan keselamatan kerja, serta menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai untuk pekerja.
Perusahaan juga harus mengawasi dan memantau kondisi pekerja untuk memastikan keselamatan dan kesehatan mereka, serta mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengatasi kelelahan. Dengan demikian, perusahaan dapat membantu pekerja mengatasi kelelahan dan meningkatkan keselamatan kerja.
Kesimpulannya, kelelahan pekerja setelah over night shift di industri tambang merupakan isu yang sangat penting dan berpotensi berdampak besar pada keselamatan dan kesehatan pekerja. Perusahaan harus memiliki kebijakan yang jelas tentang manajemen kelelahan dan keselamatan kerja, serta menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai untuk pekerja.
Dengan demikian, perusahaan dapat membantu pekerja mengatasi kelelahan dan meningkatkan keselamatan kerja. Oleh karena itu, perusahaan harus memprioritaskan keselamatan dan kesehatan pekerja dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengatasi kelelahan. (*Mahasiswa Magister Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman)
Referensi
Abu Hanan Hammasin. (2021). Hubungan Antara Shift Kerja Dan Tingkat Insomnia Pada Perawat Di Rumah Sakit Pelabuhan Palembang Tahun 2020 Skripsi.
Diplo, P., Ke, F., Khusus, L., Bagi Operato, K., Najib, M. R., Hiperkes, O. I., & Keselamatan, D. (2011). Manajemen Alat Bera Tunas in Bum or Unit Site Ah N Kerja Maret.












