Search

Kekhawatiran Publik dan Pejabat Amerika Serikat atas Perang Panjang dengan Iran

Pemerintahan Trump kesulitan membenarkan perang terhadap Iran seiring meningkatnya korban di pihak AS dan sejumlah Republikan MAGA mulai mempertanyakan cakupan serta strategi konflik tersebut. (Al Mayadeen)

BERITAALTERNATIF.COM – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan kesulitan menjual perang melawan Iran kepada publik Amerika dan basis politiknya. Para pejabat senior disebut-sebut berupaya keras menjelaskan alasan di balik aksi militer tersebut, empat hari sejak perang dimulai.

Laporan Politico pada Selasa (3/3/2026) mengutip sejumlah pejabat yang mengkritik pemerintahan Trump, menyebut bahwa pesan pemerintah bukanlah: “ini bukan Irak, bukan perang tanpa akhir, dan bukan perang pilihan.”

Namun, bahkan kerangka terbatas itu dinilai menjadi kabur akibat pernyataan Trump kepada wartawan dan unggahan media sosialnya yang justru melemahkan hampir setiap penjelasan resmi.

Pejabat pemerintahan menyebut konflik ini dipicu oleh ambisi nuklir Iran, kemampuan rudal balistiknya, atau ancaman terhadap Israel.

Namun, sekutu Trump memperingatkan bahwa waktu semakin sempit bagi Gedung Putih untuk menjelaskan secara jelas posisinya kepada para pendukung paling loyal presiden.

“Saya tidak melihat garis waktu, saya melihat jumlah korban,” ujar seorang mantan pejabat Trump yang enggan disebutkan namanya. “Itu menjadi narasi di media yang menggerus perasaan publik terhadap perang ini.”

Menurut laporan tersebut, sedikitnya enam personel militer AS telah tewas sejak serangan dimulai pada Sabtu lalu, menambah tekanan terhadap tantangan komunikasi pemerintahan.

Kekhawatiran Politik

Kampanye agresi AS-Israel ini memunculkan kekhawatiran di kalangan Republikan MAGA, yang mendesak agar fokus tetap pada isu domestik dan memperingatkan bahaya perang berkepanjangan yang dapat mendorong kenaikan harga bensin serta merusak pesan kampanye Trump soal keterjangkauan menjelang pemilu November.

Agenda America First Trump, yang dibangun di atas skeptisisme terhadap intervensi neokonservatif, turut mempersulit upaya pemerintahannya. Sejumlah komentator konservatif dan sekutu Trump, termasuk Tucker Carlson, Megyn Kelly, dan Matt Walsh, mengkritik agresi terhadap Iran dan mempertanyakan rasionalitas kebijakan tersebut.

“Sebagian besar basis mungkin tetap bersamanya apa pun yang ia lakukan, tetapi ada suara-suara yang berkembang dalam koalisi ini,” kata ahli strategi Partai Republik Matthew Bartlett. “Jika situasi berlangsung lebih lama atau memburuk, pertanyaan-pertanyaan itu akan semakin besar, begitu pula kekhawatiran dan skeptisisme mereka.”

Perkembangan Militer dan Korban

Kepala kebijakan Pentagon, Elbridge Colby, meyakinkan Komite Angkatan Bersenjata Senat bahwa perang terhadap Iran “terbatas dalam cakupannya” dan tidak bertentangan dengan agenda America First.

“Sejauh yang kami pahami dari [Trump] dan tujuan kampanye militer ini, ini jelas bukan pembangunan bangsa (nation building),” kata Colby. “Ini tidak akan berlangsung tanpa akhir.”

Namun Trump membuat pernyataan yang saling bertentangan, dengan menulis di media sosial bahwa perang bisa berlangsung “selamanya”, sementara di kesempatan lain menyebut operasi itu bisa selesai dalam hitungan hari atau beberapa minggu.

Sementara itu, operasi balasan Iran memaksa AS menutup kedutaan, mengevakuasi warga negara, dan mengamankan kapal tanker minyak, menunjukkan bahwa pemerintahan AS tidak sepenuhnya mengendalikan garis waktu perang.

Risiko terhadap Dukungan Politik

Menurut laporan tersebut, ketidakmampuan pemerintahan untuk secara jelas mengartikulasikan cakupan perang berisiko mengasingkan basis politik Trump.

Suara-suara konservatif menegaskan bahwa dukungan MAGA hanya akan bertahan jika konflik berlangsung cepat, terbatas, minim korban, dan tidak berkembang menjadi perang darat berkepanjangan.

“Ini harus selesai cepat, kalau tidak, ini mimpi buruk,” kata seorang pejabat dekat Gedung Putih. “Bahkan sekarang sudah menjadi mimpi buruk karena koalisi MAGA mulai retak.”

Beberapa pejabat juga mencatat bahwa Trump belum menyampaikan pidato resmi untuk menjelaskan operasi tersebut, melainkan hanya mengandalkan wawancara singkat dan pernyataan video pendek.

Dalam konteks ini, Senator AS Elizabeth Warren menyampaikan kekhawatirannya melalui unggahan di platform X, menyebut perang terhadap Iran sebagai ilegal dan “berdasarkan kebohongan”.

Setelah menghadiri pengarahan tertutup dengan pemerintahan Trump, ia mengatakan bahwa pemerintah “tidak memiliki rencana di Iran” dan presiden belum memberikan “satu pun alasan yang jelas untuk perang ini, serta tampaknya tidak memiliki rencana untuk mengakhirinya.”

“Saya marah atas apa yang dilakukan Donald Trump, dan berduka atas mereka yang telah tewas dalam konflik yang tidak perlu ini,” tulis Warren.

“Perang ilegal ini didasarkan pada kebohongan dan diluncurkan tanpa adanya ancaman langsung terhadap negara kita,” lanjutnya.

Dalam pernyataan serupa, Senator AS Mark Warner mengatakan bahwa “tidak ada ancaman langsung terhadap Amerika Serikat dari Iran; ancaman itu ditujukan kepada Israel.”

Ia menambahkan, “Jika kita menyamakan ancaman terhadap Israel dengan ancaman langsung terhadap Amerika Serikat, maka kita memasuki wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Warner sebelumnya juga membuat komentar serupa. Menurut laporan sebelumnya oleh The Wall Street Journal, ia menyebut pemerintahan Trump “menyalahartikan intelijen” untuk membenarkan serangan terhadap Iran. (*)

Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA