Search

Kekacauan Suriah di Bawah Kepemimpinan Jolani

Jurnalis senior Indonesia, Dede Azwar. (Dok. Berita Alternatif)

Oleh: Dede Azwar*

Kita lihat, memang kondisi di Suriah saat ini lumayan kacau. Semrawut betul. Kalau diibaratkan, seperti kemacetan lalu lintas—ramai, ruwet, campur aduk. Tapi justru dari kekacauan ini, terbuka satu tabir yang selama ini tersembunyi: bahwa Suriah tidak semudah itu untuk ditaklukkan oleh Zionis. Bahkan ketika yang mereka hadapi hanyalah sebuah rezim boneka.

Tentu, rezim boneka ini bukan boneka langsung dari Zionis. Tapi lebih tepatnya, bonekanya Turki. Dan kita tahu, secara politik Turki itu satu frekuensi dengan Zionis. Bahkan secara etnis, mereka memiliki akar yang sama—yakni dari suku Khazar. Suku ini berasal dari wilayah yang katanya sekarang sudah hilang dari peta, entah di antara Ukraina dan daerah-daerah sekitar sana.

Yang menarik, Suriah ini ternyata sangat plural. Dan justru karena pluralitas itulah, negara ini sulit ditaklukkan. Salah satu buktinya bisa dilihat dari komunitas Druze. Mereka adalah penduduk lama di sana. Selama ini posisinya memang tidak jelas: apakah pro-Zionis atau pro-Suriah. Tapi kalau kita lihat komunitas Druze di Lebanon, sebagian besar dari mereka justru anti-Zionis dan mendukung agar tetap tergabung dengan Suriah. Bukan tergabung dalam kerangka sektarian, tapi dalam kerangka kebangsaan. Inilah yang membuat semuanya makin rumit dan di luar kendali.

Apa yang diinginkan oleh Zionis sebenarnya jelas: mereka ingin Suriah menjadi bagian dari proyek besar mereka—Israel Raya. Dari Sungai Nil sampai ke Eufrat, dari Tel Aviv sampai Damaskus. Ini berdasarkan mitos kekanak-kanakan mereka. Tapi dalam realitasnya, ada banyak aktor lain di medan ini. Misalnya Turki, Yordania, dan lain sebagainya.

Yordania, meskipun terkenal pengecut, tetap licik. Dan kepengecutan itu sering menyimpan agenda tersembunyi. Misalnya, baru-baru ini ada beberapa kepala suku di perbatasan yang menyatakan bahwa jika Zionis terus membombardir saudara-saudara Badui mereka di Suriah, maka mereka akan ikut turun tangan membela. Ini mengindikasikan bahwa ketegangan sedang meningkat. Bahkan bisa memicu benturan antarkomunitas, termasuk kemungkinan konflik dengan Druze, yang sebagian di antaranya punya akar di wilayah Israel dan bahkan ada yang menjabat sebagai panglima militer di sana.

Kerumitan ini bisa jadi memang hasil desain Zionis, atau bisa juga merupakan bentuk alami dari tekstur demografis Suriah yang sangat majemuk. Tapi yang pasti, kondisi ini sangat rumit.

Kalau kita mengacu pada istilah dalam Alquran, ada ungkapan “zabadun rabi“. Artinya, buih yang mengapung di atas air. Apa sifat dari buih? Ia ruwet, tidak jernih, tidak bermanfaat. Sedangkan air itu jernih dan memberikan manfaat. Buih itu pada akhirnya akan hilang, dan yang tersisa hanyalah air sejati. Dalam konteks ini, kerumitan yang kita lihat saat ini bisa jadi hanyalah buih. Ia bersifat sementara dan akan menghilang.

Buktinya? Sekarang kita lihat tokoh-tokoh seperti Jolani sudah mulai panik. Mereka kabur ke Idlib, bahkan ada rumor ke Turki. Ini menunjukkan mereka tidak stabil. Suriah sendiri saat ini bisa dibilang sudah tidak memiliki pemerintahan yang stabil. Dalam istilah Bung Karno, situasinya sudah “zonder pemerintahan”—vakum kekuasaan.

Ketakutan Jolani bukan tanpa alasan. Kalau wilayah Suriah dibiarkan terbuka, maka potensi perlawanan dari rakyat akan semakin tumbuh. Padahal, keberadaan Jolani itu justru untuk mengontrol agar tidak muncul poros perlawanan baru. Ini termasuk bagian dari permainan Turki. Maka, kalau Jolani tumbang, ruang bagi poros perlawanan akan semakin terbuka lebar. Dan itu tentu menakutkan bagi mereka yang selama ini ingin mempertahankan kendali.

Dalam kehidupan modern yang sangat terkoneksi satu sama lain, globalisme sudah menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Termasuk dalam urusan politik. Maka ketika ada satu atau dua negara yang menyatakan mereka lebih mementingkan kepentingan dalam negeri, pada dasarnya mereka sedang memutus koneksi mereka dari panggung global. Dan itu sebenarnya adalah tanda kelemahan. Retorika semacam itu menunjukkan bahwa negara tersebut tidak mampu bermain di level geopolitik internasional.

Contoh nyata dari retorika kelemahan ini bisa kita lihat dari sosok Jolani. Dia seolah-olah sudah menerima bahwa tidak mungkin bisa berhadapan langsung dengan rezim Zionis. Ketidakmungkinan itu muncul dari berbagai sisi: dari sisi kekuatan militer, dari sisi historis (karena kelompoknya didanai oleh pihak-pihak eksternal), dan juga dari sisi ideologis. Kita tahu, jaringan teroris yang selama ini aktif seperti Tahrir al-Sham, An-Nusra, dan lainnya, memiliki kaitan dengan kekuatan besar di belakangnya—salah satunya adalah Turki.

Turki ini, pada dasarnya, tidak berbeda jauh dari rezim Zionis. Hanya berbeda wajah dan nama. Yang satu bernama “Setanyahu”, dan yang satu bernama “Erdogan”. Namun pada prinsipnya, keduanya memainkan peran yang sama: menjaga agar wilayah seperti Suriah tetap lemah, tetap terfragmentasi, dan tidak menjadi ancaman bagi kepentingan Zionis.

Yang kita lihat sekarang adalah situasi Suriah yang berada di titik nadir. Rezim yang dipimpin oleh Jolani hanya mencoba bertahan dalam kondisi sangat lemah, sekadar untuk tidak sepenuhnya runtuh. Tapi tidak boleh juga terlalu kuat. Kenapa? Karena kalau terlalu kuat, maka perlawanan bisa tumbuh lebih luas. Maka peran Jolani di sini hanya untuk menjaga eksistensi kelompoknya secara nominal. Ia ada hanya karena dibutuhkan, sesuai pesanan, untuk menjaga agar tidak muncul gerakan yang benar-benar bisa mengancam Israel.

Jolani dan kelompoknya hanya berfungsi sebagai penghalang, bukan pembela rakyat. Buktinya? Saat Homs bangkit, dan sebagian wilayah Idlib menunjukkan perlawanan, justru yang terjadi adalah kehilangan legitimasi dari Jolani. Ia tidak lagi punya dasar sosial di bawahnya. Tidak ada rakyat yang mendukung, hanya kerumunan teroris. Jolani tidak pernah benar-benar turun ke bawah, tidak mengerti kondisi rakyatnya. Tidak ada perhatian pada ekonomi, inflasi, atau kebutuhan dasar masyarakat.

Faktanya, Suriah hari ini sebenarnya sudah runtuh secara esensial. Tapi citra dan tampilan media dijaga supaya terlihat masih ada kendali. Ini dilakukan supaya tidak memberi peluang kepada pihak-pihak yang ingin melawan. Padahal sudah banyak keluhan dari dalam, bahkan dari kalangan suku-suku sendiri yang dulu mungkin mendukung. Mereka mulai bicara, “Seharusnya dulu kami dengar kata Iran.” Itu adalah bentuk nostalgia yang sangat subversif terhadap rezim yang sekarang berkuasa.

Keluhan semacam itu saja sudah menjadi ancaman bagi Zionis. Karena kalau nostalgia ini berkembang menjadi struktur pemikiran dan kemudian jadi gerakan, maka itu akan menjadi tantangan nyata. Maka yang dilakukan Zionis dan sekutunya adalah menjaga ilusi kendali—agar lawan tidak punya ruang untuk bangkit secara sistemik.

Sebenarnya, apa yang kita saksikan hari ini adalah sebuah parodi besar. Parodi terhadap para penguasa monarki, para diktator, dan elit-elit boneka yang disulap dari satu peran ke peran lain. Bisa jadi ini terjadi karena setelah kegagalan mereka di Yaman, Irak, Lebanon, dan apalagi terhadap Iran, mereka seperti sedang kehabisan cara. Kepala mereka dibenturkan ke tembok, dan tembok itu bukan hanya diam, tapi malah membalas dan memukul balik sampai berdarah—itulah Iran.

Kalau kita perhatikan lebih dalam, ini adalah sebuah panggung politik yang sudah disulap menjadi game. Politik hari ini bukan lagi soal ideologi atau perjuangan, tapi sekadar permainan. Dan permainan ini bukan berasal dari budaya Timur, tapi dari infiltrasi budaya Barat yang kini sudah menjalar hingga ke sistem kekuasaan negara-negara Muslim.

Apakah mereka sedih? Saya rasa tidak. Karena semua ini sudah dikendalikan oleh “teori permainan” (game theory) yang meresap ke dalam sistem pengambilan keputusan politik mereka.

Dulu, ketika Taliban dibentuk oleh rezim Amerika untuk menghadang pengaruh Soviet dari utara, mereka bermain serius. Ada tujuan strategis dan perencanaan matang. Bahkan Perdana Menteri Inggris kala itu ikut campur langsung ke Afghanistan. Serius, habis-habisan. Tapi sekarang?

Tidak perlu. Cukup satu tokoh badut seperti Trump menulis sesuatu di media sosial, dan dunia langsung geger. Itulah pola baru mereka. Mengelola kekuasaan dan geopolitik bukan lagi lewat perang besar atau diplomasi panjang, tapi lewat drama dan panggung teater politik.

Jolani, si badut terlatih ini, adalah eksperimen terbaru mereka. Dari seorang yang tadinya tampil garang, menyeramkan, kini dipoles menjadi seperti manusia “beradab”, bahkan ingin diakui sebagai pemimpin. Ia berubah peran dengan sangat cepat, seperti badut dalam film horor yang tiba-tiba jadi aktor utama dalam drama keluarga.

Dulu, membentuk sebuah kekuatan politik seperti Taliban butuh waktu puluhan tahun. Tapi hari ini, cukup dengan naskah yang pas, kamera yang tepat, dan framing media, mereka bisa memunculkan tokoh-tokoh boneka dengan kecepatan luar biasa. Inilah budaya pemuja kecepatan. Mereka akselerasi konflik dan pergantian aktor politik sedemikian cepat, sampai masyarakat tak sempat berpikir.

Dan ketika masyarakat sudah tak sempat berpikir, yang tersisa adalah hipnosis politik. Ini bukan cuma propaganda biasa. Ini ilusi massal. Halusinasi. Orang-orang diajak lupa pada kenyataan. Mereka lupa bahwa Palestina sudah terjajah 77 tahun. Mereka lupa bahwa Iran telah berkali-kali mempermalukan Zionis. Mereka lupa bagaimana Yaman merobek-robek pertahanan jantung Zionis. Mereka lupa pada kekuatan Hasd al-Shaabi yang membangun tembok perlawanan di Irak.

Semua itu terlupakan hanya karena satu panggung boneka seperti Jolani. Yang hari ini jadi “presiden”, besok jadi “jongos”, lusa jadi “korban”. Skenarionya berubah-ubah, dan masyarakat diminta mengikuti alurnya. Inilah panggung kekacauan global yang disengaja.

Jadi jika kita terus mengikuti arus mereka, kita hanya akan hanyut dalam genangan ilusi itu. Maka yang harus dilakukan adalah melawan. Bukan dengan ikut bermain dalam dramanya, tapi dengan tetap fokus pada Gaza, pada Iran, dan pada munculnya generasi baru di Suriah yang dipenuhi semangat perlawanan. Itulah satu-satunya jalan untuk keluar dari labirin permainan mereka. (*Jurnalis senior Indonesia)

Sumber: Disarikan dari Bincang Berita Maula TV

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA