BERITAALTERNATIF.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur (Kaltim) menyampaikan gambaran mengenai luasan lahan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kaltim. Berdasarkan data yang diterima BPBD dari sejumlah instansi, total luasan kebakaran telah mencapai sekitar 5.000 hektare.
Kepala BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan menyebut sektor kehutanan atau kawasan konsesi menyumbang sekitar 1.500 hektare berdasarkan data dari Dinas Kehutanan.
Sementara itu, data dari sektor perkebunan yang telah masuk sementara tercatat sekitar 38 hektare. Adapun lebih dari 2.000 hektare lainnya berada di lahan masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran di lahan masyarakat berpotensi meluas apabila tidak segera ditangani, terutama ketika kondisi lahan kering dan sumber air terbatas.
Karena itu, Buyung mengimbau seluruh pihak, termasuk media, untuk terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya membuka lahan dengan cara membakar.
“Efeknya bakalan kecil, bisa luas sekali. Saya juga mengucapkan terima kasih sama teman-teman media ini, penggerak, polisi, Polda, Kodam, dan teman-teman semua dari OPD, BPBD, dan juga relawan-relawan,” katanya kepada awak media di halaman Kantor BPBD Kukar pada Jumat (11/9/2026).
Dia menilai peran media sangat penting dalam memberikan informasi dan mengingatkan masyarakat mengenai potensi meluasnya kebakaran selama musim kemarau.
Ia juga mengapresiasi konsistensi media dalam menyampaikan informasi mengenai karhutla dan dampaknya terhadap masyarakat.
“Teman-teman media yang sudah konsisten menyampaikan untuk mengurangi dampaknya,” ujarnya.
Buyung menyebut jumlah titik api di Kukar memang tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan beberapa daerah lain. Akan tetapi, luasan lahan yang terdampak kebakaran cukup signifikan.
“Memang kita ini terkendala dengan lokasi dan luasan yang terdampak ya, luas sekali. Memang di Kukar ini tidak terlalu banyak titiknya, tapi luasannya lumayan,” ujarnya.
Dia mengungkapkan bahwa kebakaran di kawasan sekitar Bandara APT Pranoto Samarinda yang sebelumnya telah berhasil dipadamkan, tetapi kembali memunculkan titik api.
“Seperti yang kemarin ditunjukkan, sampai 340 hektar. Yang kadang memang ini. Itu yang kemarin di daerah APT Pranoto, ini sudah mati, muncul lagi barusan,” jelasnya.
Selain itu, wilayah Desa Saliki, Kecamatan Muara Badak, juga menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian dalam penanganan karhutla.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap hujan lokal yang mulai turun di sejumlah wilayah sebagai tanda bahwa musim kemarau telah berakhir.
Buyung mengatakan hujan yang terjadi di beberapa wilayah Kaltim masih bersifat lokal. Kondisi tersebut belum menunjukkan bahwa Kaltim telah memasuki musim penghujan.
“Jadi memang ada indikasi hujan di beberapa wilayah Kalimantan Timur, yang sifatnya lokal. Dan ini juga menimbulkan beberapa euforia memang ya, dikirakan musim kemarau akan berakhir,” katanya.
Dia mengingatkan masyarakat agar tetap merujuk pada informasi dan perkiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Menurutnya, hujan yang turun di tengah musim kemarau patut disyukuri karena menjadi berkah bagi masyarakat. Namun, hujan tersebut belum dapat dijadikan indikator bahwa musim kemarau telah berakhir.
“Informasi dari BMKG kemarin mengingatkan kembali bahwa hujan itu adalah berkah buat kita. Bonus atau berkah, insyaallah seperti itu. Tapi bukan berarti kita sudah memasuki musim penghujan,” ujarnya.
Ia menyebut Kaltim masih menghadapi potensi kemarau panjang yang diperkirakan dapat berlangsung hingga akhir Oktober dalam kondisi normal.
“Memang kalau dari perkiraan Oktober sudah mulai ada hujan, tapi masih dalam status yang masih rendah,” jelasnya.
Buyung menambahkan, kemungkinan kondisi cuaca berubah lebih cepat tetap terbuka. Namun, berdasarkan perkiraan yang tersedia saat ini, masyarakat masih perlu bersiap menghadapi kemarau.
Di tengah kondisi kemarau, dia menyampaikan apresiasi terhadap penanganan karhutla di Kukar.
Dia menyebut koordinasi antarpihak di Kukar berjalan cukup baik. Setiap titik api yang terdeteksi mendapat respons dari pemerintah daerah dan unsur terkait.
“Artinya semua titik api bisa diselesaikan hari itu juga. Walaupun kemudian muncul lagi,” katanya.
Namun, penanganan karhutla masih menghadapi tantangan berupa kondisi lokasi dan luas wilayah terdampak yang cukup besar.
Selain ancaman karhutla, kebakaran lahan juga berpotensi memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah Kaltim.
Ia mengatakan kondisi kualitas udara dapat berubah-ubah tergantung perkembangan kebakaran dan kondisi cuaca, termasuk hujan yang turun di sejumlah daerah.
Buyung mencontohkan kondisi pada 9 September 2026, ketika hujan sempat turun dan membuat kondisi udara di Kaltim relatif lebih bersih.
BPBD Kaltim pun mengingatkan masyarakat agar tidak lengah meskipun hujan mulai turun di beberapa wilayah. Selama musim kemarau belum dinyatakan berakhir, potensi karhutla tetap perlu diantisipasi melalui pencegahan, pemantauan titik api, serta respons cepat ketika kebakaran muncul. (*)
Penulis: Arif Rahmansyah
Editor: Ufqil Mubin











