Search

Kandidat Hadiah Perdamaian di Jalur Menuju Perang

Agenda perdamaian yang selama ini diklaim Donald Trump kini runtuh oleh kebijakan-kebijakan perang yang ia lakukan sendiri, sehingga seorang tokoh yang pernah dinominasikan untuk Hadiah Perdamaian justru berubah menjadi faktor risiko baru bagi stabilitas global. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF – Setelah memenangkan pemilu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut dirinya sebagai “Presiden Perdamaian” dan mengumumkan bahwa ia berusaha menandatangani serangkaian kesepakatan untuk menciptakan perdamaian dunia demi martabat dan stabilitas umat manusia. Namun setelah beberapa bulan menjabat, dukungannya terhadap kejahatan dan genosida Israel di Gaza, dorongannya agar Ukraina terus berperang serta meningkatnya penjualan senjata ke negara itu, hasutannya kepada Israel untuk menyerang Iran secara militer dan kemudian menyerang Iran demi menyelamatkan rezim Zionis, mengganti nama Departemen Pertahanan menjadi Departemen Perang, menguji rudal balistik antarbenua Minuteman III, dan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan uji coba nuklir, semuanya menunjukkan bahwa Amerika di bawah Trump sedang bergerak ke arah yang merusak perdamaian dunia. Dalam konteks ini, memperhatikan poin-poin berikut dapat memperjelas tujuan Trump dalam mengarahkan dunia menuju perang.

  1. Menteri Perang AS, Pete Hegsett, mengatakan pada Jumat 7 November di National War College: “Berkat upaya Presiden Trump, kami telah mencapai level tertinggi penjualan senjata militer ke luar negeri. Presiden sedang menandatangani serangkaian kontrak untuk membawa pemasukan besar bagi para produsen senjata Amerika.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa menjaga kepentingan para kartel produsen senjata menjadi prioritas utama Trump dalam mempertahankan atmosfer perang di dunia. Menurut Menteri Perang AS, peningkatan penjualan senjata ke berbagai negara dunia, terutama kawasan Arab, membuat Amerika mencapai rekor tertinggi penjualan militer luar negeri selama masa kepresidenan Trump.
  2. Amerika Serikat menggunakan taktik psikologis yang biasa dipakai rezim Zionis untuk meyakinkan negara-negara Arab agar membeli lebih banyak senjata; misalnya melalui gagasan “Israel Raya”, disertai serangan Israel ke Qatar, Suriah, dan Lebanon, serta ancaman terhadap Mesir dan Yordania. Semua ini menciptakan suasana kekhawatiran bagi negara-negara Arab hingga mereka merasa perlu membeli lebih banyak senjata demi keamanan mereka. Selain itu, perang-perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dengan dalih memerangi terorisme atau perdagangan narkoba pada dasarnya bertujuan meningkatkan ekspor senjata.
  3. Mempertahankan atmosfer perang dunia—seperti keputusan Trump memulai kembali uji coba nuklir yang melanggar standar internasional, termasuk Perjanjian Pelarangan Uji Coba Nuklir Komprehensif—juga dilakukan untuk membuat negara-negara lain cenderung membeli senjata penangkal. Padahal kebijakan seperti ini tidak hanya menimbulkan kekhawatiran serius bagi komunitas internasional, tetapi juga dapat mendorong negara-negara seperti Rusia, Tiongkok, India, Pakistan, Korea Utara, dan bahkan sebagian negara Eropa untuk melakukan uji coba nuklir. Tidak diragukan lagi, jika tujuan komersial AS dalam melanjutkan uji coba nuklir benar-benar dijalankan, hal itu akan menjadi ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan internasional dan dapat mendorong negara-negara non-nuklir untuk memperkuat kemampuan deterensi mereka.
  4. Sementara mempertahankan suasana perang di dunia, Trump mencoba memperbaiki citra haus perangnya melalui sejumlah tindakan simbolis dan pencitraan sebagai pencinta perdamaian, seperti mengadakan konferensi perdamaian Kaukasus, menjadi mediator antara Thailand dan Kamboja, atau mempromosikan rencana perdamaian di Gaza. Trik paling jelas terlihat di KTT Sharm el-Sheikh, ketika Trump menampilkan diri sebagai “penguasa perdamaian” melalui manuver propaganda dengan mengumpulkan sejumlah kepala negara untuk menutupi berbagai kekurangan pribadinya, termasuk sifat narsistik. Padahal KTT Sharm el-Sheikh bukan saja gagal menghasilkan perdamaian yang adil dan berkelanjutan, tetapi justru menjadi lampu hijau bagi Israel untuk melanggar gencatan senjata dan melanjutkan genosida di Gaza.

Banyak akademisi di seluruh dunia meyakini bahwa Trump, dengan gaya kepemimpinannya seperti ini, berbahaya bahkan bagi rakyat Amerika sendiri. Mereka menilai bahwa sudah saatnya pemerintah dan bangsa-bangsa dunia berdiri bersama menolak tindakan-tindakan ilegal dan egois Trump yang terus mengancam stabilitas global. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA