BERITAALTERNATIF.COM – Farida dilahirkan pada 10 September 1979 dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai petani di Kelurahan Karya Merdeka, Kecamatan Samboja Barat, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.
Kedua orang tuanya bernama Muhammad Rustam dan Siti Aminah. Mereka berasal dari Sulawesi Selatan. Ayahnya lahir di Kabupaten Sinjai. Sementara ibunya dilahirkan di Kabupaten Bone.
Dia merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara: Sumiati, Ruqiya, Ahmad Rustam, Megawati, dan Muhammad Waris.
Kehidupan sebagai petani tak membuat keluarga Farida memiliki kehidupan yang layak. Dia pun mengingat masa-masa sulit tersebut.
“Waktu saya kecil itu, kami petani yang sangat kekurangan. Kekurangan dalam hal mau makan saja susah, apalagi kami mau punya ini dan itu,” ungkapnya kepada awak media Berita Alternatif di Kantor DPRD Kukar pada Rabu (14/5/2025).
Kedua orang tuanya menanam padi di lahan yang mereka rintis secara mandiri di Samboja.
Rustam dan Aminah kemudian beralih menanam merica. Selain bertani, mereka juga menjadi pedagang komoditas yang pernah berjaya di Kukar tersebut.
Setelah kedua orang tua Farida beralih profesi sebagai pedagang merica saat dia duduk di bangku SMA, kesejahteraan keluarganya pun meningkat pesat.
“Akhirnya berkembang sampai saya punya suami dan anak,” bebernya.
Era keemasan merica tak bertahan lama. Seiring waktu berjalan, permintaan terhadap komoditas ini turun secara pesat.
Saat Awang Faroek Ishak menjadi gubernur Kalimantan Timur, orang tua Farida ditawarkan untuk menanam kelapa sawit. Tawaran ini pun diterima oleh mereka dengan lapang karena para petani diberikan pupuk dan bibit gratis oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
“Kebetulan Bapak saya yang jalankan. Bapak saya sebagai ketua kelompok. Disalurkanlah kepada kelompok-kelompok. Alhamdulillah sampai sekarang berkembang,” ungkapnya.
Peralihan komoditas yang ditanam para petani atas dukungan pemerintah daerah ini membuat ayah Farida juga beralih dari pedagang merica menjadi pengusaha kelapa sawit. “Alhamdulillah sampai sekarang masih (menjadi pengusaha kelapa sawit),” terangnya.
Farida menyaksikan sendiri berbagai gelombang kehidupan yang dilalui oleh kedua orang tuanya: petani padi, merica, hingga pengusaha kelapa sawit.
“Pokoknya yang dialami petani sudah kami rasakan semua. Jadi, kalau orang bilang dari dulu enak, sekarang enak lagi, salah sebenarnya. Kami sebenarnya betul-betul dari nol. Ada pasang surutnya,” jelas Farida.
Jalan terjal itu dibayar tunai dengan kesuksesan material yang mereka rasakan saat ini. Kedua orang tua Farida masih sehat. Sementara saudara-saudaranya sudah menikah serta memiliki profesi yang beragam: pegawai negeri, pengusaha, dan politisi.
Enam saudaranya telah memiliki usaha secara mandiri. Mereka hidup berkecukupan dari segi materi. “Semuanya sudah mandiri,” katanya.
Kesuksesannya dalam mencapai tangga sebagai politisi yang duduk sebagai wakil rakyat selama dua periode tak terlepas dari nilai-nilai kehidupan yang diajarkan kedua orang tuanya, yang menekankan kemandirian dan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan.
Kedua orang tuanya menjadi pendukung yang sangat getol yang mendorong Farida memiliki pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan ayah dan ibunya.
“Kalau bisa itu menjalankan pendidikan lebih di atas mereka. Kan semua orang tua harapannya begitu,” ucapnya.
Nilai kehidupan ini pula yang akan diajarkannya kepada anak-anaknya. Farida menginginkan anak-anaknya memiliki prestasi yang lebih tinggi dibanding dirinya. “Kalau bisa anak-anak saya lebih lagi dibandingkan saya,” katanya.
Farida juga memberikan kebebasan kepada anak-anaknya. Mereka diberikan keleluasaan untuk memilih jalan hidup dan profesi yang ingin mereka geluti.
“Kalau saya arahkan ke lain dan tidak sesuai ekspektasinya dia, saya nanti kecewa karena dia tidak bersungguh-sungguh,” ujarnya.
Sekolah dan Pernikahan
Farida tak pernah mengenyam pendidikan di taman kanak-kanak. Dia langsung memasuki gerbang pendidikan di SDN 022 Samboja, SMP Samboja, dan SMK Kartika Balikpapan.
Ia merupakan generasi yang merasakan aktivitas jalan kaki menuju sekolah. Farida tak memiliki kendaraan apa pun sehingga harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk menuju sekolah.
“Sepeda pun enggak punya. Jadi, kami sering jalan kaki. Jarak rumah ke sekolah itu sekitar 5-6 kilo,” ungkapnya.
Farida kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Tridharma Balikpapan setelah menikah dan memiliki tiga orang anak.
“Karena kami enggak punya kendaraan, jadi kami ambil (kampus) yang terdekat. Yang penting saya bisa kuliah. Jangan sampai hanya ijazah SMA,” katanya.
Dia menikah di usia yang sangat muda. Pernikahannya dilakukan atas dorongan kedua orang tuanya.
Kebiasaan ini berakar dari keputusan kedua orang tuanya yang kerap menikahkan anak-anak perempuan mereka setelah lulus SMA.
Ia menjalankan mahligai rumah tangga bersama suaminya yang bernama Amrin. Keduanya kemudian dikaruniai tiga orang anak: dua orang perempuan dan satu orang laki-laki.
Farida tak memaksa anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya sebagai politisi. Namun, dia kerap membawa anak laki-lakinya untuk mengikuti sosialisasi dan kampanye saat Pileg 2024.
“Pokoknya ke mana saya sosialisasi, dia ikut. Biar dia tahu gitu loh kayak apa jenjangnya untuk menjadi anggota DPRD. Perkenalannya bagaimana? Pendekatan ke masyarakat itu seperti apa? Tidak mudah langsung menjadi anggota DPRD,” ungkapnya.
Dari Honorer ke Parlemen
Farida tak memiliki cita-cita untuk menjadi politisi. Semula ia berprofesi sebagai pegawai honorer. Dorongan para pendukungnya yang mayoritas bergelut di dunia pertanian kelapa sawit membuatnya memberanikan diri untuk bersaing mendapatkan kursi DPRD Kukar.
Pada periode 2019-2024, dia mencalonkan diri sebagai anggota legislatif lewat Partai Golkar.
Meski menghadapi persaingan yang sangat ketat, ia tetap bisa melenggang ke parlemen Kukar.
Farida menjalankan tugas dengan baik saat duduk di DPRD Kukar. Bandul politik Kukar yang berubah membuat dia juga mengambil keputusan yang memungkinkannya untuk tetap memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Belum genap satu periode menjabat sebagai wakil rakyat, dia kemudian memutuskan untuk berpindah perahu politik dari Partai Golkar ke Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan.
PDI Perjuangan, kata dia, menjadi partai yang memiliki kader yang menjabat sebagai bupati dan wakil bupati Kukar.
Kala itu, Edi Damansyah dan Rendi Solihin, yang merupakan dua tokoh lokal PDI Perjuangan, telah menjabat sebagai bupati dan wakil bupati Kukar.
Farida menyebut para pendukung beserta relawan yang mengantarkannya ke kursi legislatif Kukar mendukung keputusan tersebut.
Walau begitu, dia harus bekerja keras untuk kembali memperkenalkan diri sebagai calon anggota legislatif dari PDI Perjuangan pada Pileg 2024.
Ia mesti mendatangi warga dari rumah ke rumah untuk kembali mengambil hati mereka agar memilihnya lagi sebagai anggota dewan meski berasal dari partai yang berbeda dibanding periode sebelumnya.
Usaha kerasnya berbuah hasil. Farida terpilih kembali sebagai anggota legislatif setelah mendapatkan 8.700 suara dari Dapil V yang meliputi Kecamatan Loa Kulu dan Loa Janan.
“Saya mencapai suara kedua tertinggi di Kabupaten Kutai Kartanegara. Itu belum per dapil. Kalau di dapil, saya paling tinggi,” bebernya.
Perolehan suara yang tinggi serta dedikasinya terhadap PDI Perjuangan membuatnya dipercaya sebagai ketua sementara DPRD Kukar periode 2024-2029.
“Saya tidak melanjutkan sampai definitif, sehingga terpilihlah bang Junaidi almarhum. Saya legawa saja. Yang namanya partai, kami menjalankan tugas ini sesuai arahan partai. Saya tidak masalah. Yang penting saya masih menjadi anggota DPRD Fraksi PDI Perjuangan,” katanya.
Almarhum Junaidi yang kala itu dipercaya sebagai ketua DPRD Kukar kemudian memberikan kepercayaan kepada Farida untuk memimpin Komisi III yang membidangi pembangunan.
“Apa pun perintah partai, saya taat dan patuh selama saya masih bisa membangun wilayah saya sendiri. Saya juga bisa menjalankan sesuai ketentuan partai. Itu saja yang ada di benak saya sekarang,” ucapnya.
Didukung Para Petani
Saat Dapil V masih meliputi Loa Kulu, Loa Janan, dan Samboja, Farida mendapatkan dukungan dari mayoritas petani yang kerap menjual kelapa sawit kepadanya.
Dia banyak didukung oleh para petani yang bermukim di Jalan Poros Samarinda-Balikpapan.
Permintaan para petani tersebut dijawabnya dengan kerja keras. Ia mendapat suara mayoritas di Kelurahan Karya Merdeka, Sungai Merdeka, dan Bukit Merdeka.
Farida kemudian mendapatkan suara paling tinggi di dapil tersebut. “Tiga kelurahan ini mayoritas (pemilihnya) larinya ke saya semua. Makanya saya bisa jadi karena saya juga dikenal sebagai pengusaha kelapa sawit dan berkecimpung di dunia pemerintahan,” katanya.
Dukungan publik yang mengalir kepadanya tak terlepas dari kebiasaannya yang kerap berkumpul dengan para petani di wilayah tersebut.
Orang tua, saudara-saudara, suami, anak-anak, beserta keluarga besarnya juga mendukungnya untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kukar.
“Support dari keluarga dan masyarakat itu sehingga saya bisa menjadi anggota DPRD,” ucapnya.
Walau begitu, dia tetap menggunakan pendekatan ilmiah dalam persaingan memperebutkan kursi anggota legislatif Kukar. “Kemarin saya survei dulu. Ada enggak pendukung saya ini kalau saya maju? Kan saya butuh suara,” jelasnya.
Perjalanan yang Tak Mulus
Farida mengakui perjalanan hidupnya tak semulus yang dibayangkan banyak orang. Saat duduk di bangku SD, dia berangkat ke sekolah tanpa sepatu.
Kala berusia belia, ia menyimpan rasa “iri” terhadap keluarganya yang berkecukupan secara finansial.
“Kapan saya bisa seperti itu? Bagaimana caranya saya juga bisa begitu? Mau minta uang selalu ada. Mau beli ini, ada,” katanya.
Hal ini pula yang membuatnya memiliki spirit untuk mendapatkan kehidupan yang sejahtera di masa depan.
Keberuntangan pun berpihak kepadanya. Usaha yang digeluti kedua orang tuanya berkembang dari waktu ke waktu.
Meski begitu, kemajuan yang dirasakan keluarganya tak didapatkan dengan muda. Orang tua Farida mengajarkannya hidup mandiri sejak kecil.
“Pulang sekolah, kami bantu dulu orang tua. Kalau merica itu prosesnya panjang baru bisa dijual. Harus diputik dulu. Direndam dulu selama tujuh hari. Habis itu dicuci lagi. Dijemur lagi, baru bisa dijual,” terangnya.
Motivasi sebagai Anggota Dewan
Kata Farida, setiap anggota dewan berjuang untuk memajukan dapil mereka masing-masing.
Perjuangan untuk menyampaikan aspirasi warga yang diwakilinya merupakan kebanggaan tersendiri baginya saat aspirasi tersebut terwujud dalam bentuk program pembangunan dan pemberdayaan.
“Ketika saya jadi anggota DPRD, jalanan sebelumnya yang enggak bisa dilewati mobil, bisa. Jembatan yang dipakai untuk motor, motornya jatuh ke bawah, sekarang saya sudah buatkan jembatan,” katanya.
Sebelum menjadi anggota DPRD Kukar, wilayah yang diwakilinya tak mendapatkan porsi anggaran pembangunan yang memadai dari pemerintah.
Dia berjuang keras untuk meningkatkan pembangunan di Dapil V. Ia memperjuangkan pembangunan sekolah, rumah ibadah, serta sarana dan prasarana publik.
“Ketika saya hadir menjadi anggota DPRD, kalau saya bilang maksimal, tidak ada kata maksimal untuk pembangunan. Tapi setidaknya sentuhan kepada masyarakat yang prioritas, itu yang saya utamakan,” ucapnya.
Farida akan berusaha meningkatkan anggaran untuk pembangunan di daerah yang diwakilinya.
Dia mengaku memiliki komunikasi yang baik dengan Bupati dan Wakil Bupati Kukar terpilih di Pilkada 2025: Aulia Rahman Basri dan Rendi Solihin.
“Dengan Bupati Edi Damansyah juga komunikasi saya baik. Saya sering dikasih anggaran Rp 1 miliar sampai Rp 2 miliar dari APBD. Walaupun kontraktornya yang bekerja, saya tidak masalah. Yang penting usulan saya masuk,” ungkapnya.
Menurut Farida, setiap pemuda memiliki peluang untuk berjuang di parlemen. Namun, pemuda harus berkecimpung di organisasi terlebih dahulu.
Cara lain, pemuda bisa membangun jejaring lewat dunia usaha. Langkah ini diambil oleh Farida. “Petani saya banyak. Itu yang membuat saya terpilih,” ujarnya.
Bagi politisi muda yang tak berkecimpung di dunia usaha, dia menyarankannya untuk berkarier di organisasi.
Ia juga menyarankan calon politisi untuk terlebih dahulu memperbaiki lingkungan di sekitarnya sebelum berjuang di arena yang lebih luas.
Calon politisi, sambung Farida, mesti memberikan sumbangsih positif untuk warga di sekitarnya sehingga mendapatkan simpati.
Dia tak menampik bahwa politisi harus memiliki modal finansial yang cukup. Pendekatan apa pun tanpa dukungan keuangan, politisi akan gagal melenggang ke kursi legislatif.
“Mungkin bisa, tetapi kurang maksimal. Jadi, harus didukung dua-duanya. Finansialnya masuk, pendekatan ke masyarakat juga masuk. Tanpa keduanya ini, tidak akan berjalan mulus,” katanya.
Selain jejaring dan finansial, ia menekankan kepada calon politisi untuk menjaga pergaulannya sehingga tidak terjerumus dalam aktivitas minum-minuman keras dan narkoba.
“Sekuat apa pun kamu, punya anggaran dan massa, tetap gugur juga. Itu yang harus dijaga,” pungkasnya. (*)
Penulis & Editor: Ufqil Mubin












