Search

IRGC: Ruang Komando Musuh dari 10 Badan Intelijen Menargetkan Iran Pasca Perang 12 Hari

Orang-orang menghadiri prosesi pemakaman 100 syuhada perlawanan nasional, termasuk personel keamanan dan warga sipil yang gugur selama kerusuhan yang dipimpin pihak asing, di Teheran pada 14 Januari 2026. (Foto oleh Tasnim)

BERITAALTERNATIF – Organisasi Intelijen Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merilis sebuah pernyataan yang menguraikan apa yang disebut sebagai “arena perjuangan” melawan “musuh jahat asing” serta menjelaskan langkah-langkah penanggulangan yang dilakukan selama kerusuhan baru-baru ini.

Pernyataan yang dikeluarkan pada hari Jumat itu bertepatan dengan bulan Islam Syaban dan peringatan Hari Pasdar, yang didedikasikan untuk menghormati para anggota Korps Garda Revolusi Islam. Pernyataan tersebut juga menyampaikan solidaritas kepada keluarga para syuhada dari apa yang disebut sebagai “hasutan Amerika-Zionis baru-baru ini.”

“Insiden-insiden teroris ini dirancang sebagai kelanjutan dari perang 12 hari dan dipengaruhi oleh kegagalan strategis kekuatan global yang berkuasa, serta dilakukan secara tergesa-gesa,” demikian isi pernyataan tersebut.

Pernyataan itu menambahkan bahwa bagian dari rencana besar Amerika-Zionis—yang berhasil digagalkan oleh lembaga keamanan Iran dan kewaspadaan rakyat Iran—adalah pembentukan sebuah “ruang komando musuh” segera setelah berakhirnya perang 12 hari.

Ruang komando ini, menurut pernyataan tersebut, terdiri dari sepuluh badan intelijen musuh yang ditugaskan untuk melaksanakan aksi-aksi teroris di wilayah Iran.

Tinjauan terhadap dokumen dan informasi yang diperoleh dari ruang komando tersebut menunjukkan bahwa kerusuhan internal, intervensi militer, dan aktivitas pergerakan kelompok merupakan tiga poros utama operasi yang dirancang untuk menciptakan ancaman eksistensial terhadap Iran Raya.

Sebagai tanggapan, Organisasi Intelijen IRGC menyatakan bahwa mereka meluncurkan “intervensi kognitif dan serangkaian operasi intelijen” guna mencegah dan mengelola tingkat intensitas, kedalaman, serta cakupan potensi ancaman dan kerusuhan.

Dari tanggal 26 Juni hingga awal Desember, organisasi tersebut mengatakan telah menerapkan rencana operasional terarah untuk menghadapi dua komponen yang diidentifikasi sebagai inti dari kerusuhan, yaitu kekacauan internal dan aktivitas kelompok.

Organisasi itu menyebut bahwa operasi-operasi tersebut berujung pada penangkapan dan pemanggilan ratusan individu yang terkait dengan jaringan anti-keamanan, serta pembinaan terhadap ribuan individu lain yang dianggap rentan.

IRGC juga melaporkan peningkatan kesadaran di kalangan kelompok sosial, serikat profesi, dan kelompok masyarakat berisiko, serta penyitaan ratusan senjata api ilegal, termasuk senjata militer dan senjata berburu.

Pernyataan tersebut menambahkan bahwa IRGC telah mengidentifikasi dan memanfaatkan informasi dari 46 anggota jaringan yang bekerja sama dengan badan intelijen asing.

IRGC menggambarkan kerusuhan baru-baru ini sebagai bentuk lemah dan rekayasa ulang dari operasi gabungan musuh asing yang menargetkan sistem Islam serta persatuan identitas dan geografi Iran.

Disebutkan bahwa jalur lapangan dari kerusuhan tersebut, yang diberi sandi “Operasi Serangan Kilat,” mencakup penggabungan perusuh dengan demonstran, dukungan langsung dan keterlibatan tokoh politik dan keamanan asing, manipulasi algoritma media sosial serta konten jaringan satelit untuk menghasut aksi kekerasan, serta penggunaan unsur-unsur kriminal seperti preman, perampok bersenjata yang pernah dihukum, dan para pengedar.

Kerusuhan itu juga melibatkan pembunuhan terhadap warga sipil, pasukan keamanan, aparat penegak hukum, serta anggota Basij melalui bentrokan yang brutal dan berdarah.

Pernyataan tersebut kemudian menguraikan sejumlah prioritas yang masih berlangsung di dalam Organisasi Intelijen IRGC.

Prioritas tersebut meliputi pelacakan dan penyusupan terhadap infrastruktur komunikasi yang digunakan oleh para perusuh untuk berkoordinasi dengan pemimpin jaringan asing, pengawasan operasional terhadap elemen-elemen utama jaringan musuh di wilayah perbatasan, serta pemanfaatan individu-individu yang tersesat dan terlibat dalam kerusuhan baru-baru ini di dalam jaringan musuh.

Pernyataan itu juga menjelaskan adanya operasi kognitif terhadap para perancang dan pelaksana operasi gabungan melalui agen-agen yang telah disusupkan, serta kelanjutan identifikasi dan tindakan tegas terhadap jaringan-jaringan yang menyediakan dukungan mobilisasi di tingkat jalanan, dengan kerja sama warga dan kelompok-kelompok sosial.

IRGC menyatakan keyakinannya bahwa di bawah kepemimpinan Panglima Tertinggi dan dengan kerja sama komunitas intelijen negara serta rakyat, Iran akan berhasil mengalahkan seluruh skema musuh asing.

“Kami yakin bahwa dengan berkah Imam Mahdi—semoga Allah menyegerakan kemunculannya—di bawah kepemimpinan Panglima Tertinggi dan dengan sinergi komunitas intelijen negara serta kerja sama tanpa lelah dari rakyat tercinta, sebagaimana kami telah menggagalkan kemenangan musuh dalam pertempuran militer, kami juga akan mengalahkan rancangan jahat mereka dalam perang teror dan separatisme terhadap Islam dan Iran tercinta, insya Allah,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Dalam pengumuman terkait, Kementerian Intelijen Iran menyatakan bahwa 16 orang yang digambarkan sebagai preman dan penjahat aktif dalam insiden teroris bulan Desember di Teheran telah ditangkap.

Kementerian tersebut mengatakan bahwa penangkapan dilakukan dalam 24 jam terakhir melalui operasi gabungan antara Organisasi Intelijen Teheran dan Kepolisian Republik Islam Iran.

Delapan orang ditahan di kawasan Sattarkhan, Marzdaran, dan Golestan Shahr, dengan salah satu di antaranya dilaporkan berada dalam keadaan mabuk alkohol, terlibat bentrokan dengan pasukan keamanan, dan tertembak di bagian kaki.

Pihak berwenang menyatakan bahwa delapan tersangka tersebut termasuk pelaku utama dalam serangan terhadap personel keamanan serta dalam aksi pembakaran kendaraan pemerintah dan swasta.

Mereka juga menyebut bahwa pasukan keamanan menyita lebih dari 40 senjata tajam, termasuk parang berlumuran darah, pakaian yang dicuri dari aparat kepolisian dan pasukan Basij, amunisi senjata militer, narkotika, serta sejumlah besar minuman beralkohol.

Kementerian itu juga melaporkan bahwa sebagian dari mereka yang ditangkap tergolong berkecukupan secara finansial, termasuk seorang pemilik pabrik.

Pasukan intelijen Teheran juga menahan delapan individu tambahan yang terlibat dalam pembuatan dan penggunaan bom rakitan, pembakaran kendaraan, serta penyerangan terhadap aparat keamanan di wilayah timur, selatan, dan barat daya Teheran, khususnya di kawasan Baharestan.

Kementerian tersebut menegaskan bahwa penangkapan ini memperkuat pesan Organisasi Intelijen IRGC bahwa operasi terhadap jaringan-jaringan yang mengoordinasikan kerusuhan yang didukung pihak asing masih terus berlangsung. (*)

Sumber: Presstv.ir
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA