Search

Iran, China, dan Rusia Akan Menggelar Latihan Angkatan Laut Bersama

Foto arsip ini menunjukkan angkatan laut Iran, Rusia, dan China yang menggelar latihan bersama berskala besar di wilayah utara Samudra Hindia dan Laut Oman pada 27–30 Desember 2019.  (Presstv.ir).

BERITAALTERNATIF – Iran, Rusia, dan China dijadwalkan akan menggelar latihan angkatan laut bersama di wilayah utara Samudra Hindia pada akhir Februari mendatang, di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington.

Latihan tersebut diberi nama latihan “Maritime Security Belt” atau Sabuk Keamanan Maritim, dan akan melibatkan unit-unit dari Angkatan Laut Iran, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta angkatan laut China dan Rusia.

Menurut para pejabat, latihan ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan maritim dan memperkuat kerja sama di antara negara-negara peserta latihan. Latihan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan koordinasi operasional di laut serta memperkuat kemampuan bersama dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan maritim di kawasan.

Latihan Maritime Security Belt pertama kali diluncurkan pada tahun 2019 oleh Angkatan Laut Iran. Sejak saat itu, latihan ini telah digelar sebanyak tujuh kali, yang menunjukkan berlanjutnya koordinasi militer antara Teheran, Beijing, dan Moskow, baik di perairan regional maupun internasional.

Dalam pelaksanaan latihan-latihan sebelumnya, sejumlah operasi telah dilakukan, termasuk misi pencarian dan penyelamatan, manuver pengamanan laut, latihan pengawalan kapal, serta latihan koordinasi antarangkatan laut dari negara-negara peserta. Latihan-latihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kesiapan operasional dan kemampuan kerja sama dalam menjaga keamanan jalur pelayaran internasional.

Latihan yang akan datang ini berlangsung di tengah meningkatnya secara tajam retorika ancaman dari Washington, serta pengerahan besar-besaran kekuatan militer Amerika Serikat di wilayah sekitar dan lepas pantai Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa pengerahan militer tersebut bertujuan untuk menekan Teheran agar mau kembali ke meja perundingan. Ia juga memperingatkan bahwa kegagalan untuk mencapai kesepakatan akan memicu serangan militer yang disebutnya akan “jauh lebih buruk” dibandingkan serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025.

Iran berulang kali menolak ancaman dan tekanan semacam itu. Teheran menegaskan bahwa diplomasi tidak akan pernah berhasil jika dilakukan di bawah tekanan atau intimidasi militer. Iran menyatakan siap untuk melakukan pembicaraan jika perundingan tersebut berlangsung secara adil dan didasarkan pada rasa saling menghormati.

Pada saat yang sama, Iran juga memperingatkan bahwa setiap serangan militer oleh Amerika Serikat atau sekutu-sekutunya terhadap kepentingan Iran akan dibalas dengan respons yang cepat dan tegas. Para pejabat Iran menegaskan bahwa negara tersebut memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri dan melindungi kedaulatan serta keamanan nasionalnya.

Sebuah gugus tempur angkatan laut Amerika Serikat telah berada di perairan Timur Tengah sejak hari Senin. Presiden Trump juga memperingatkan bahwa kekuatan tersebut “siap, bersedia, dan mampu” untuk menyerang Iran jika dianggap perlu.

Dalam konteks inilah, latihan angkatan laut bersama antara Iran, China, dan Rusia dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama keamanan dan menunjukkan kesiapan bersama dalam menjaga stabilitas maritim di kawasan yang sangat strategis bagi perdagangan dan keamanan global.  (*)

Sumber: Presstv.ir
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA