Oleh: Muhammad Jawad*
Kerumitan-kerumitan yang terjadi saat ini sebenarnya memang diharapkan oleh Zionis. Mereka menginginkan agar semua pihak di sekitarnya hidup dalam kondisi tidak stabil, penuh kekacauan, dan saling mencurigai. Karena pada dasarnya Zionis hanya menginginkan stabilitas untuk dirinya sendiri, sementara negara-negara di sekitarnya dibiarkan porak-poranda, bahkan sengaja didorong untuk jatuh ke dalam ketidakstabilan yang permanen.
Inilah yang menjadi peringatan penting, seperti yang disampaikan oleh tokoh-tokoh Angkatan Bersenjata, yang menegaskan bahwa jika Suriah dibiarkan dalam kondisi seperti ini, maka negara-negara Arab lainnya pun akan mengalami hal serupa. Tidak ada jaminan bahwa negara mana pun akan aman dari skenario destabilisasi yang sedang dijalankan oleh Zionis.
Namun di balik itu semua, muncul juga sisi ironi. Kerumitan dan kekacauan yang mereka ciptakan itu, jika tidak terkendali, bisa menjadi bumerang bagi mereka sendiri. Karena kejahatan yang terus-menerus dilakukan akan melahirkan kejahatan baru, dan pada akhirnya menjadi pusaran kekacauan yang sulit dikendalikan, bahkan oleh penciptanya sendiri.
Zionis kini berada dalam dilema besar di Suriah. Membiarkan Jolani menguat berbahaya, karena dia bisa berubah arah. Tapi menjatuhkan Jolani juga berbahaya, karena bisa memicu lahirnya kekuatan perlawanan yang sesungguhnya. Keadaan seperti ini ibarat jebakan yang mereka buat sendiri: membiarkan para kekuatan ekstrem saling mencakar, berharap hancur dari dalam, tapi justru dari puing-puing itu bisa muncul kekuatan sejati yang solid, seperti yang pernah terjadi di Lebanon.
Kita tahu bagaimana serangan Zionis ke Lebanon pada 1992 justru menyulut perang saudara, tapi dari situ muncul kekuatan baru, yaitu kekuatan perlawanan sejati yang kokoh dan bersatu, dan akhirnya mampu berdiri melawan agresor eksternal.
Itulah yang kini menjadi ketakutan utama Zionis: mereka tak lagi punya roadmap yang jelas. Karena sejak awal, mereka bergerak bukan berdasarkan visi politik jangka panjang, tapi dari kebencian, dendam, dan kepentingan jangka pendek. Maka kejahatan yang mereka lakukan bisa saja berbalik arah, dan menghantam mereka sendiri.
Mereka pun kini terlihat limbung: menyerang kelompok perlawanan, lalu berusaha merangkul, kemudian menyerang lagi. Di sisi lain, mereka ingin merangkul Jolani karena rezimnya lemah dan bisa dikendalikan. Tapi mereka juga sadar, memelihara boneka seperti Jolani sama saja seperti memelihara binatang buas. Entah itu macan, hyena, atau serigala—suatu saat mereka bisa diterkam balik.
Itulah nasib dari kejahatan yang tidak berorientasi pada tujuan mulia. Kejahatan hanya melahirkan kekacauan tanpa arah. Berbeda dengan poros perlawanan, yang sejak awal memiliki tujuan tunggal dan jelas: membebaskan tanah air, membela yang tertindas, dan menegakkan keadilan. Itulah mengapa poros ini bisa bersatu dan terus tumbuh.
Sementara di kubu lawan, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka seperti Libya pasca-intervensi—terjerat dalam tribalisme, terpecah belah, dan saling menghancurkan. Kita lihat sendiri hari ini: mutilasi, kekejaman antarkelompok, dan kehancuran sipil terus berlangsung. Dan semua itu perlahan menciptakan jebakan kebingungan bagi Zionis itu sendiri.
Kini mereka seperti penjagal yang takut disergap binatang buas yang mereka besarkan sendiri. Mereka menabur makar, dan akhirnya akan menuai kehancuran.
Seperti firman Tuhan: “Mereka membuat makar, dan Allah membalas makar mereka. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas makar.”
Akhir dari semua ini, mungkin hanyalah kehancuran. Kehancuran bagi para pembuat makar itu sendiri—Zionis. Dan kita ingin tahu juga bagaimana reaksi para pemimpin, terutama presiden.
Apa yang terjadi di Suriah dan kelompok-kelompok jalanan itu, sebenarnya lebih tepat disebut sebagai retorika semata. Tidak ada revolusi sungguhan, tidak pula pemerintahan yang sah. Semua yang mengklaim sebagai bagian dari revolusi atau pemerintahan hanyalah geng-geng kecil—kelompok bandit yang justru tumbuh subur dalam kekacauan.
Para bandit itu tidak pernah berniat membangun negara, apalagi mengurus rakyat. Mereka hidup dari mencuri, merampok, dan menciptakan kekacauan. Dalam situasi damai, mereka tidak bisa eksis. Maka mereka terus mengupayakan kekacauan sebagai habitat alami mereka.
Berbeda jauh dengan Revolusi Islam Iran, yang sejak awal telah menunjukkan kesungguhan dan keberaniannya. Tidak banyak retorika—mereka langsung memutuskan hal-hal besar. Seperti saat Imam Khomeini memutuskan untuk mengusir kedutaan besar Zionis dari Teheran, atau ketika Republik Islam Iran memutuskan hubungan total dengan kekuatan-kekuatan dunia yang menindas. Itu bukan basa-basi. Itu revolusi yang sesungguhnya.
Hubungan antara rakyat dan revolusi Iran pun nyata dan kokoh. Rakyat Iran mendukung pemerintahan dan perjuangan revolusi mereka dengan penuh kesadaran. Berbeda dengan Suriah, yang katanya revolusi, tapi tidak pernah benar-benar terlihat ada gerakan rakyat yang kuat dan menyeluruh. Paling hanya segelintir orang yang bersorak, tertipu oleh janji-janji, dan kini mereka adalah orang-orang yang paling menyesal. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana kelompok-kelompok bersenjata itu saling membunuh dan merusak kehidupan.
Bandit-bandit yang mengklaim sebagai pejuang revolusi itu justru menjadi pelaku pembantaian terhadap rakyat sipil. Maka sangat kontras jika dibandingkan dengan Iran. Revolusi Iran adalah revolusi sejati, sementara Suriah hanyalah revolusi-revolusian.
Memang benar bahwa apa yang terjadi saat ini adalah bentuk pengalihan fokus dunia dari Palestina. Ketika menyangkut Iran, perhatian tetap terhubung ke Palestina. Tapi jika topiknya Suriah, Palestina justru diletakkan di halaman belakang. Dunia dibuat lupa.
Ini semua bagian dari permainan kekuatan Barat. Sebelum ini, dunia internasional sedang intens menyaksikan genosida yang dilakukan oleh Zionis di Palestina, sekaligus kekalahan mereka dalam menghadapi Hamas. Maka, untuk menciptakan “sensasi kemenangan”, mereka perlu mencari sasaran yang lemah.
Suriah adalah titik terlemah dari poros perlawanan. Menghadapi Iran? Terlalu berisiko. Zionis tahu, bermain-main dengan Iran bisa berakhir dengan kehancuran. Maka yang dicari adalah musuh yang tidak bisa melawan—yang lemah, seperti Suriah hari ini.
Secara geopolitik, posisi Suriah sangat strategis. Ia berada di tengah pusaran konflik: di utara ada Turki, di timur ada Iran dan kawasan Kaukasus, di selatan ada Irak, dan di barat ada Lebanon serta wilayah pendudukan Zionis. Maka secara posisi, Suriah sangat penting. Tapi karena ia lemah, kekuatan-kekuatan luar melihatnya sebagai objek yang bisa dikuasai.
Namun, tampaknya Zionis sendiri ragu untuk langsung terjun ke wilayah itu. Mereka sudah kapok mengerahkan tentaranya secara langsung. Maka yang dilakukan adalah menggunakan pihak ketiga—yang disebut sebagai “sekutu”, “saudara tua”, dan sebagainya. Ini strategi mencari selamat dengan mengorbankan pihak lain.
Ironisnya, negara-negara Arab di sekitar mereka justru masih mempercayai Zionis. Padahal jika satu per satu sudah menjadi korban, maka giliran mereka pun akan datang, kecuali jika mereka dihentikan oleh Iran terlebih dahulu.
Ini adalah pengalihan fokus dunia dari isu utama, yaitu Palestina. Kalau kasusnya Iran, orang masih mengaitkannya dengan Palestina, sehingga Palestina tetap menjadi fokus perhatian. Tapi ketika menyangkut Suriah, orang seolah-olah melihat isu Palestina berada di halaman belakang. Yang jadi sorotan justru Suriah.
Ini semua permainan kekuatan-kekuatan Barat. Beberapa waktu sebelumnya, dunia sedang menyoroti genosida brutal di Palestina, dan saat itu posisi Zionis sangat buruk. Mereka bukan hanya disorot sebagai pelaku genosida, tapi juga mengalami kekalahan dari Hamas. Maka, Zionis ingin mencari semacam “sensasi kemenangan” untuk mengangkat moral dan citra mereka.
Tapi di mana mereka bisa menang? Mereka tahu Iran bukan lawan main-main. Iran itu berbahaya, dan menghadapi Iran bisa membawa kehancuran bagi mereka. Jadi, mereka butuh lawan yang lemah—dan Suriahlah yang paling lemah dalam poros perlawanan. Maka, Suriah dijadikan sasaran untuk memperoleh kemenangan palsu itu. Sudah terlalu lama mereka tidak merasakan kemenangan.
Dari sisi posisi strategis, memang Suriah ini berada di titik penting. Di utara ada Turki, di timur ada Iran dan wilayah Kaukasus, di selatan ada Irak, dan di barat ada Lebanon serta wilayah pendudukan Zionis. Jadi, Suriah berada di pusaran geopolitik. Karena posisinya yang lemah, wajar kalau dijadikan target kekuasaan.
Namun, tampaknya Zionis sendiri masih ragu untuk masuk langsung ke wilayah itu. Mereka mungkin sedang mencari cara aman, dengan mengambil bagian-bagian perbatasan saja. Pasukan mereka sendiri sudah kapok. Jadi sekarang mereka lebih suka memanfaatkan aktor-aktor lain yang disebut sebagai saudara tua, sahabat, dan sebagainya. Padahal, ini hanya strategi cari selamat.
Apa yang terjadi sekarang adalah kumpulan rekayasa dan kejahatan yang bertumpuk-tumpuk. Maka aneh jika masih ada negara-negara Arab di sekitarnya yang mempercayai Zionis. Karena pada akhirnya, mereka sendiri akan menjadi target selanjutnya. Jika belum dihancurkan oleh Iran, maka akan dimakan satu per satu oleh sistem itu.
Lalu muncul pertanyaan lanjutan: bagaimana sebenarnya kondisi pasukan Suriah, terutama dalam menghadapi situasi di Suwayda dan bagaimana keterlibatan kelompok Badui atau suku-suku lokal? Jawabannya cukup jelas—mereka tidak punya motivasi ideologis yang kuat. Mereka tidak memiliki orientasi perjuangan yang jelas. Apa yang mereka lakukan hanyalah demi bertahan hidup, demi keselamatan wilayah mereka sendiri.
Yang penting bagi mereka, wilayah kecil tempat mereka menggembala kambing tidak terganggu. Mereka tidak peduli untuk membantu Palestina, atau berjuang dalam konteks yang lebih luas. Tidak ada semangat itu. Mereka hanya mencari aman.
Kalaupun bertempur, itu hanya karena ingin mengalahkan musuh yang lebih lemah dari mereka sendiri. Maka yang terjadi adalah saling memakan di antara kelompok-kelompok di Suriah sendiri. Inilah rantai kehancuran yang akan menghancurkan mereka semua. Ujung dari semua ini adalah kehancuran.
Kecuali kalau ada kebangkitan. Kalau muncul kembali gerakan perlawanan. Dan ini sebenarnya sudah diprediksi, bahkan oleh pemimpin seperti Imam Khamenei. Suatu saat Suriah akan bangkit dari reruntuhan. Tapi bukan oleh generasi tua ini—generasi yang sudah letih bertempur, tidak punya motivasi, dan hanya ingin selamat. Generasi ini akan tersingkir.
Mereka yang masih mengandalkan semangat kesukuan akan digantikan oleh generasi muda yang lebih segar, yang punya visi perjuangan yang lebih jelas. Jika itu terjadi, maka Suriah bisa diharapkan kembali menjadi bagian penting dalam poros perlawanan melawan Zionis dan sekutunya, termasuk Amerika. (*Pengamat Timur Tengah)
Sumber: Disarikan dari Bincang Berita Maula TV












