Search

Ibnu Ridho Ungkap Fakta dan Tantangan dalam Gerakan Mahasiswa Kukar

Ketua BEM Universitas Kutai Kartanegara Muhammad Ibnu Ridho saat menjadi narasumber dalam program KartaPods: Menyorot Bersama Persma yang tayang di akun Instagram Persma Unikarta pada Sabtu, 11 Mei 2025. (Berita Alternatif/Ulwan Murtadho)

BERITAALTERNATIF.COM – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Muhammad Ibnu Ridho mengungkap sejumlah fakta, masalah dan tantangan di balik gerakan mahasiswa Kukar.

Ridho mengaku tak mudah untuk membangun gerakan di Kukar. Pasalnya, hal ini memerlukan perencanaan yang matang dan sistematis yang dibangun melalui kerja keras untuk memantik semangat mahasiswa agar mau turun ke jalan.

Dia kerap merasa kecewa melihat kenyataan bahwa banyak mahasiswa yang sebenarnya sadar terhadap berbagai persoalan sosial dan kebijakan politik yang tidak berpihak pada kepentingan publik namun enggan bergerak di lapangan.

Menurut Ridho, Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Anggaran berpotensi memangkas anggaran pendidikan dan ekonomi demi Program Makan Bergizi Gratis yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo.

Meskipun banyak mahasiswa yang mengungkapkan keresahan mereka melalui unggahan di media sosial seperti Instagram Story dan status WhatsApp, mereka enggan menunjukkan keberpihakan nyata dalam aksi di lapangan.

Kesadaran tanpa tindakan, kata dia, hanyalah kebisingan yang sia-sia. Unggahan di media sosial tanpa kehadiran fisik dalam aksi tidak akan banyak menghasilkan perubahan dalam bentuk kebijakan.

“Saya selalu mengatakan begini: ketika melihat ada mahasiswa yang posting itu dan enggak melihat wajahnya di lapangan, saya merasa agak heran,” ucapnya saat menjadi narasumber dalam program KartaPods: Menyorot Bersama Persma yang tayang di akun Instagram Persma Unikarta pada Sabtu (11/5/2025).

Ridho mengaku kecewa karena mahasiswa hanya berani bersuara di balik layar, namun tidak tampil ketika dibutuhkan untuk bersuara di lapangan.

Meski begitu, dia tetap menghargai keputusan apa pun yang diambil mahasiswa dalam pergerakan sosial karena itu merupakan hak pribadi setiap mahasiswa.

Namun, ketika para mahasiswa sudah sadar terhadap ketidakberesan suatu kebijakan, seharusnya kesadaran itu menjadi pemantik bagi mereka untuk turut membersamainya dalam menjalankan setiap gerakan.

Ridho juga menyayangkan masih banyak mahasiswa Unikarta yang belum sepenuhnya sadar dan enggan mengambil peran dalam gerakan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Di tengah upayanya menyuarakan keresahan publik dan mengkritik kebijakan pemerintah, ia sering menghadapi berbagai bentuk intimidasi, tekanan, hingga godaan berupa suap.

Dalam beberapa gerakan, Ridho sering diganggu oleh oknum yang tidak senang dengan gerakan yang dipeloporinya. Ancaman ini berbentuk verbal, digital, hingga fisik.

Dia mengaku pernah mendapat pesan ancaman melalui nomor tak dikenal yang kerap kali menerornya dalam berbagai kesempatan.

“Banyak intimidasi masuk. Pernah diancam untuk dibunuh, dimaki oleh nomor WhatsApp yang tidak dikenal. Ada yang mengancam: ‘Hati-hati. Aku punya datamu. Aku tahu orang tuamu,’” jelasnya.

Ia menyebut ancaman-ancaman semacam ini bukan sekadar gertakan kosong yang tidak membahayakan. Hal ini juga sebagai penanda bahwa terdapat masalah yang disoroti para aktivis mahasiswa dalam instansi yang mereka kritisi.

Pada suatu malam, ia bersama rekan-rekannya didatangi orang tak dikenal yang meminta mereka segera mengosongkan sekretariat mahasiswa. Perintah tersebut mereka tolak karena diyakini sebagai upaya pembungkaman.

Jika uang tidak mampu membungkam suara mahasiswa, maka intimidasi terhadap mahasiswa akan meningkat dan cenderung lebih agresif.

Semua bentuk tekanan yang dialaminya menjadi bukti kuat bahwa kritik yang mereka sampaikan menyentuh titik sensitif dari masalah yang tengah ditutupi oleh pemerintah.

Semakin keras tekanan yang diterimanya bersama rekan-rekanya, maka semakin besar pula indikasi bahwa ada masalah serius di balik isu tersebut.

Ridho menyayangkan lemahnya semangat kebersamaan mahasiswa yang berkuliah di Unikarta dalam memperjuangkan isu-isu sosial dan kebijakan yang berpihak pada kepentingan publik.

Menurutnya, gerakan mahasiswa saat ini, terutama di Kukar, masih jauh dari kata masif. Banyak mahasiswa yang bersikap oportunis dan lebih peduli pada urusan pribadi.

Sikap cuek terhadap masalah di daerah dan nasional, lanjut dia, merupakan hal biasa yang kerap dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa.

Padahal, katanya, peluang untuk membangun idealisme merupakan kesempatan bagi mahasiswa karena jarang ditemukan saat memasuki dunia kerja.

“Ketika mereka sadar, seharusnya mereka turun dan saya rasa banyak mahasiswa yang belum sadar di Unikarta,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA