BERITAALTERNATIF.COM – Harga minyak goreng rakyat (Minyakita) di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, tercatat lebih rendah dari Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata harga Minyakita di wilayah tersebut berada pada angka Rp15.350 per liter, lebih murah dari HET nasional sebesar Rp15.700.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan bahwa penurunan harga Minyakita tercatat sebesar 0,14 persen pada minggu kedua Juni 2025 dibandingkan bulan sebelumnya. Tren penurunan ini terjadi di sekitar 36,11 persen wilayah di Indonesia, menunjukkan adanya perbaikan dalam distribusi dan stabilitas pasokan minyak goreng rakyat di sejumlah daerah.
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang digelar Kementerian Dalam Negeri secara daring, Pudji menjelaskan bahwa Kabupaten Probolinggo bukan satu-satunya daerah di Pulau Jawa yang mencatat harga Minyakita di bawah HET. Kabupaten Blitar juga menunjukkan harga yang lebih rendah, yaitu Rp15.500 per liter. Secara keseluruhan, terdapat 18 kabupaten/kota di Pulau Jawa yang menjual Minyakita di bawah harga tertinggi yang diatur pemerintah.
Lebih lanjut, BPS mencatat dari total 491 kabupaten/kota yang dipantau melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) per 14 Juni 2025, sebanyak 59 kabupaten/kota memiliki harga Minyakita di bawah Rp15.700 per liter. Dari jumlah tersebut, 41 di antaranya berada di luar Pulau Jawa. Beberapa daerah dengan harga terendah di luar Jawa antara lain Kota Batam, Kabupaten Sidenreng Rappang, Kota Pare-Pare, Kabupaten Majene, Kabupaten Polewali Mandar, serta Kabupaten Mamuju dan Mamuju Tengah di wilayah Sulawesi.
Namun, tidak semua daerah menunjukkan tren positif ini. Sebanyak 432 dari 491 kabupaten/kota tercatat masih menjual Minyakita di atas HET. Di Pulau Jawa sendiri terdapat 100 kabupaten/kota dengan harga di atas HET, termasuk Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta Barat, Bekasi, Jakarta Pusat, Tasikmalaya, Kuningan, dan Bandung.
Di luar Jawa, ketimpangan harga lebih mencolok. Kabupaten Intan Jaya di Papua Tengah mencatat harga tertinggi mencapai Rp60.000 per liter, disusul Kabupaten Pegunungan Bintang sebesar Rp48.333 dan Kabupaten Puncak Jaya dengan harga Rp47.500 per liter. Lonjakan harga ini menunjukkan tantangan besar dalam hal logistik dan distribusi di wilayah-wilayah terluar Indonesia.
Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah dalam upaya menjaga kestabilan harga bahan pokok strategis seperti minyak goreng rakyat. Kabupaten Probolinggo pun menjadi salah satu contoh positif dalam pengendalian harga, dan menunjukkan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga ketersediaan serta keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi masyarakat. (*)
Sumber : ANTARA
Editor : M.Anshori












