BERITAALTERNATIF.COM – Harga cabai rawit di Pasar Mangkurawang Tenggarong mengalami kenaikan mencapai Rp 75 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram pada Sabtu (12/9/2026).
Salah seorang pedagang, Yuladi Maulidfi Atmaja, mengatakan harga cabai rawit saat ini berada di kisaran Rp 80 ribu per kilogram untuk pembelian eceran.
Sementara pembelian dalam jumlah lebih besar dapat memperoleh harga yang lebih rendah.
“Kalau misalnya orangnya beli harga kantongan per 5 kilo mungkin bisa lebih murah lagi, harga Rp 75.000 mungkin kami bisa kasih,” kata Yuladi kepada awak media Berita Alternatif.
Menurutnya, harga cabai mengalami kenaikan secara bertahap. Sebelumnya, cabai tersebut sempat berada di kisaran Rp 30 ribu per kilogram.
Kenaikan terjadi beberapa kali dengan selisih sekitar Rp 5 ribu hingga akhirnya mencapai Rp 75 ribu–Rp 80 ribu per kilogram.
Selain cabai rawit, harga cabai keriting juga berada di kisaran Rp 60 ribu per kilogram.
Dia menyebut perubahan harga cabai dipengaruhi pasokan dari daerah pemasok. Sebagian pasokan yang masuk ke Tenggarong berasal dari Samarinda.
Ia juga mendengar adanya kendala pengiriman cabai dari Sulawesi akibat kapal pengangkut mengalami hambatan untuk bersandar.
“Relatif dari Samarindanya sih kadang memang turun naik. Mereka kan ada kemarin itu saya dengar ada kendala karena distributornya dari Sulawesi,” jelasnya.
Kenaikan harga tersebut turut memengaruhi pola pembelian masyarakat.
Yuladi mengatakan sebagian konsumen yang sebelumnya membeli cabai dalam jumlah lebih banyak mulai mengurangi pembelian karena menyesuaikan dengan harga.
“Mereka awalnya biasanya beli setengah kilo mungkin mereka bisa ngurangi jadi beli harga Rp 10.000,” katanya.
Menurut dia, pemerintah perlu memperhatikan rantai distribusi komoditas agar perubahan harga di tingkat pemasok tidak terlalu membebani pedagang maupun konsumen.
Ia berharap pemerintah dapat memantau harga dari distributor hingga pedagang di tingkat bawah.
“Harapannya untuk pemerintah dia mungkin bisa memperhatikan harga dari distributornya,” ujarnya.
Yuladi menilai pedagang di tingkat pengecer pada dasarnya hanya menyesuaikan harga jual dengan harga pembelian dari pemasok.
“Kalau harga ngambilnya relatif mahal, mungkin kami jualnya ya pasti lebih mahal dari harga modal,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Devi Nila Sari











