BERITAALTERNATIF.COM – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Muhammad Ibnu Ridho menyoroti penurunan spirit aksi mahasiswa dalam menyuarakan isu-isu sosial saat ini.
Dia membeberkan sejumlah penyebab dan solusi yang dapat diupayakan oleh para aktivis sosial, pemuda, dan mahasiswa untuk mengembalikan marwah pergerakan agar isu-isu yang disuarakan mahasiswa dapat memberikan pengaruh yang signifikan serta suara mereka didengar oleh pemerintah.
Menurutnya, fenomena apatisme di kalangan mahasiswa menjadi salah satu faktor utama, namun hal itu bukan satu-satunya penyebab. Ridho menilai bahwa perubahan zaman, terutama kehadiran teknologi 5.0, telah mengubah cara pandang masyarakat, khususnya kaum muda, dalam membangun gerakan sosial.
Dia berpendapat bahwa metode gerakan yang digunakan pada masa 1998, seperti demonstrasi besar-besaran, kini kurang relevan untuk diterapkan. Kondisi zaman telah berubah sehingga diperlukan pendekatan baru yang lebih sesuai dengan konteks saat ini.
Ridho mengungkapkan bahwa efektivitas gerakan mahasiswa yang hanya mengandalkan aksi turun ke jalan tanpa strategi pengawalan berkelanjutan hanya mencapai sekitar 30 persen hingga 40 persen. Hal ini menyebabkan banyak isu penting sering kali hanya disuarakan oleh segelintir orang serta tidak mendapat perhatian maksimal dari pihak berwenang.
Sebagai contoh, dia menyebutkan peristiwa tahun 2021, di mana banyak mahasiswa terluka saat aksi menentang pengesahan Omnibus Law.
Meskipun banyak mahasiswa yang terlibat dalam demonstrasi tersebut, setelah kebijakan itu disahkan, usaha mahasiswa mengawal isu ini terlihat semakin turun. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kelanjutan perjuangan mereka.
Ridho mengatakan, pengawalan isu-isu tersebut yang tak dilakukan secara konsisten menjadi penyebab utama tuntutan masyarakat yang dibawa oleh mahasiswa kerap tidak diwujudkan.
Karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut, dia menekankan pentingnya penyesuaian strategi gerakan mahasiswa.
Dia mendorong para aktivis muda mulai mengembangkan metode baru yang lebih efektif dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Pergerakan hari ini harus benar-benar dimasifkan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman,” ucap Ridho saat diundang menjadi narasumber dalam Program Kartapods: Menyorot Bersama Persma yang tayang dalam siaran langsung di Instagram Pers Mahasiswa Unikarta pada Sabtu (11/5/2025).
Salah satu pendekatan yang ditekankannya adalah pemanfaatan media massa sebagai alat utama penyampai aspirasi.
Di era digital ini, media bisa menjadi penyalur yang sangat efektif untuk memengaruhi opini publik guna menekan pengambil kebijakan.
Kata Ridho, mahasiswa mesti mengadopsi metode gerakan yang sedikit anti arus utama (mainstream) seperti yang pernah dipelopori oleh Mahatma Gandhi, sosok tersohor yang berjasa mendalangi kemerdekaan India dari penjajahan Inggris.
Dia menyarankan mahasiswa untuk mengadopsi prinsip-prinsip perjuangan Gandhi, yakni gerakan tanpa kekerasan atau Nonviolent Direct Action (NVDA).
“Saya pernah terpikir akan metodelogi NVDA, yang di mana memperkenalkan gerakan melalui kampanye. Dia (Gandhi) hanya mengangkat tangan dan mogok makan dan itu diikuti banyak orang, sehingga apa yang dilakukan itu di-notice sama stakeholder,” ucapnya.
Baginya, prinsip-prinsip tersebut dapat dijadikan inspirasi bagi mahasiswa untuk mengembangkan gerakan yang lebih terstruktur, damai, dan tetap membawa perubahan.
Dalam gerakan ini, penggunaan kekerasan secara verbal maupun fisik bukanlah instrumen yang diterapkan oleh mahasiswa atau aktivis untuk meluapkan amarah dan protes mereka sebagaimana aksi mahasiswa selama ini.
Ridho menyebut gerakan ini lebih bersifat “aksi simbolik”, di mana para pendemo yang protes serta kontra terhadap suatu kebijakan melakukan aksi seperti mogok makan untuk menarik perhatian masyarakat.
Media sosial disebutnya penting untuk semakin memperluas penyebaran kampanye-kampanye yang disimbolkan metode pergerakan tersebut.
Dia menyarankan mahasiswa agar menggunakan gerakan turun ke jalan sebagai opsi terakhir apabila propaganda dan metode lain tidak efektif seperti kampanye pergerakan serta kritik lewat sosial media.
Ia menilai sebagian besar mahasiswa yang mengklaim dirinya sebagai aktivis kerap kurang peka terhadap isu yang selama ini dirasakan masyarakat.
Ridho menyebut mahasiswa dan aktivis saat ini terlalu fokus pada isu-isu berskala besar, politik, dan kebijakan, sehingga isu seperti kenaikan harga bahan pokok kurang disoroti bahkan dikesampingkan dalam gerakan mahasiswa.
“Saya yakin banyak aktivis yang enggak tahu harga-harga bahan pokok, sedangkan itu kebutuhan dasar masyarakat,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin












