BERITAALTERNATIF – Selama bertahun-tahun, Mediterania Timur telah menjadi arena persaingan dan ketegangan di antara para aktor kawasan, dengan tujuan utama menahan pengaruh Turki dan mengisolasi negara tersebut di perairan selatannya sendiri. Ankara, dengan memanfaatkan diplomasi aktif, memang berhasil melewati banyak tekanan ini. Namun kini situasinya berbeda, dan terdapat sejumlah indikasi kuat tentang terbentuknya sebuah front baru yang dipimpin oleh rezim Zionis untuk menghadapi Turki.
Kisah ini bermula ketika para pemimpin Israel, Yunani, dan Siprus Selatan berkumpul dalam pertemuan tiga pihak ke-10 mereka di Yerusalem Barat. Pertemuan ini sebenarnya bukan hal baru dan sudah pernah digelar sebelumnya, tetapi kali ini perhatian media regional dan internasional tertuju pada laporan tentang pembentukan “pasukan intervensi bersama”.
Berdasarkan berbagai laporan, pasukan gabungan ini akan terdiri dari sekitar 2.500 tentara, dengan rincian 1.000 personel dari Israel, 1.000 dari Yunani, dan 500 dari Siprus Selatan. Misi yang diumumkan secara resmi adalah “melindungi infrastruktur vital di Mediterania Timur”. Namun media Yunani dan Israel secara terang-terangan menafsirkan langkah ini sebagai bagian langsung dari upaya membendung Turki.
Hubungan Yunani dan Israel dari Masa ke Masa
Ini bukanlah kerja sama militer pertama antara Israel dan Yunani. Hubungan militer kedua pihak sudah dimulai sejak 2008 dan dalam beberapa tahun terakhir semakin diperdalam. Pada April 2025, kedua negara juga terlibat bersama dalam latihan militer internasional “Iniochos 2025” yang diikuti oleh lebih dari sepuluh negara.
Selain itu, pada 3 November 2025, angkatan udara kedua pihak untuk pertama kalinya melakukan latihan pengisian bahan bakar di udara secara bersama di atas wilayah Yunani.
Kini, kerja sama tersebut telah meningkat ke tingkat strategis dan menimbulkan kekhawatiran serius bagi Ankara. Pasalnya, menurut sejumlah laporan, Benjamin Netanyahu, perdana menteri rezim Zionis, berupaya menarik Washington untuk bergabung dalam koalisi anti-Turki ini.
Sumber-sumber Israel bahkan mengklaim bahwa Netanyahu berniat mengangkat isu tersebut dalam pertemuannya dengan Donald Trump.
Namun pertanyaan kuncinya adalah: apakah Amerika Serikat bersedia secara terbuka masuk ke dalam front semacam ini melawan Turki, yang pada kenyataannya merupakan salah satu anggota NATO?
Jawabannya tidak sepenuhnya negatif. Sebab, dalam praktiknya Washington saat ini juga aktif dalam berbagai proyek di Mediterania Timur yang bertujuan membatasi peran Turki, dan secara terbuka menentang kehadiran Ankara dalam eksplorasi gas di kawasan tersebut.
Di sisi lain, dimensi energi juga berada di pusat persaingan ini. Selama bertahun-tahun, Turki berupaya keras untuk menjadikan dirinya sebagai pusat utama dan hub transit energi dari Timur ke Barat. Dengan memanfaatkan infrastruktur yang luas, Ankara berusaha menguasai jalur transit gas dan minyak dari Timur Tengah dan Asia Tengah menuju Eropa.
Israel Menghidupkan Kembali Proyek “EastMed”
Sebagai tandingan, proyek yang dikenal dengan nama “EastMed” didesain dengan dukungan Amerika Serikat dan partisipasi Israel, Siprus Selatan, serta Yunani. Tujuannya adalah menyalurkan gas Mediterania Timur ke Eropa tanpa harus melewati wilayah Turki. Meski proyek ini sebelumnya praktis dibekukan akibat biaya pelaksanaan yang sangat besar dan terbatasnya cadangan gas yang telah terbukti, kini Israel berusaha menghidupkannya kembali.
Eli Cohen, menteri energi Israel, bulan lalu melakukan kunjungan ke Athena dengan tujuan tersebut. Dalam pertemuan dengan para mitranya dari Amerika Serikat, Yunani, dan Siprus Selatan, ia membahas isu pengaktifan kembali proyek ini. Dalam wawancara dengan surat kabar The Jerusalem Post, Cohen menyatakan bahwa proyek EastMed kembali masuk dalam agenda pembahasan.
Kesimpulan dan Gambaran Umum
Secara keseluruhan, pergerakan terbaru Israel dapat dipahami sebagai bagian dari strategi besar untuk membendung kehadiran regional dan internasional Turki. Pembendungan ini tidak hanya terbatas pada Mediterania Timur. Dari pesisir Mediterania Timur hingga Suriah utara, dari isu Gaza hingga upaya pencegahan politik di lembaga-lembaga Barat, Tel Aviv secara nyata sedang menarik garis-garis merah di hadapan Ankara.
Israel selama bertahun-tahun mendukung penguatan kelompok-kelompok bersenjata Kurdi di Suriah utara, sebuah langkah yang oleh Ankara dipandang sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya. Di Gaza, penolakan terbuka Israel terhadap kebijakan Turki dan dukungan terang-terangan Ankara terhadap Hamas turut memperdalam jurang perbedaan di antara kedua pihak. Pada saat yang sama, di Mediterania Timur, berbagai skema seperti aliansi keamanan tiga pihak dengan Yunani dan Siprus Selatan dirancang secara jelas untuk membatasi kehadiran Turki.
Selain itu, penolakan tidak resmi Tel Aviv terhadap penyerahan jet tempur canggih F-35 kepada Turki merupakan salah satu tanda paling jelas dari konfrontasi tersembunyi namun berkelanjutan ini. Isu tersebut bahkan secara implisit disinggung dalam pertemuan terbaru para pemimpin Israel, Yunani, dan Siprus Selatan.
Dengan menyusun semua kepingan teka-teki ini, dapat dikatakan bahwa hubungan Turki dan Israel telah memasuki fase yang sensitif dan multidimensi dari persaingan geopolitik. Sebuah persaingan yang arenanya tidak hanya terbatas pada Timur Tengah, tetapi juga meluas dari pesisir Mediterania hingga struktur NATO dan dinamika energi global. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












