Search

Eskalasi Konflik AS–Israel vs Iran, HMI Kukar Dorong Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan Nasional

Ketua Umum HMI cabang Kutai Kartanegara, Zulhansyah. (Berita Alternatif/Ulwan Murtadho)

BERITAALTERNATIF.COM – Eskalasi konflik militer di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat-Israel dan Iran dinilai berpotensi memicu dampak luas terhadap stabilitas keamanan global, termasuk Indonesia.

Situasi tersebut mendorong Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kutai Kartanegara (Kukar) meminta pemerintah memperkuat kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Ketua Umum HMI Cabang Kukar, Zulhansyah, mengatakan konflik bersenjata yang terjadi sejak akhir Februari 2026 telah menyebabkan korban jiwa dalam jumlah signifikan serta meningkatkan risiko instabilitas di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, eskalasi tersebut tidak hanya berdampak pada aspek kemanusiaan, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global, ketahanan energi, serta keamanan maritim dunia.

“Perang di kawasan Timur Tengah bukan sekadar konflik regional. Dalam sistem keamanan global yang saling terhubung, setiap eskalasi militer memiliki implikasi strategis yang dapat memengaruhi stabilitas negara-negara lain, termasuk Indonesia,” ujarnya dalam keterangannya di Tenggarong, Senin (9/3/2026).

HMI Kukar menilai terdapat sejumlah potensi efek domino yang perlu diantisipasi pemerintah. Pertama, potensi gangguan terhadap stabilitas energi global akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang merupakan salah satu pusat distribusi minyak dunia.

Ketergantungan Indonesia terhadap impor energi membuat fluktuasi harga minyak global berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian nasional.

Kedua, meningkatnya ketegangan geopolitik juga dapat memengaruhi stabilitas keamanan maritim internasional.

Sebagai negara kepulauan yang berada di jalur strategis perdagangan dunia seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok, Indonesia memiliki kepentingan langsung dalam menjaga keamanan jalur pelayaran global.

“Gangguan terhadap stabilitas kawasan dapat meningkatkan risiko keamanan maritim, mulai dari terganggunya jalur perdagangan hingga meningkatnya aktivitas militer di kawasan Indo-Pasifik,” katanya.

Selain aspek ekonomi dan keamanan, ia juga mengingatkan adanya potensi dampak sosial di dalam negeri. Konflik internasional kerap dimanfaatkan sebagai bahan propaganda yang dapat memicu polarisasi ideologi maupun penyebaran narasi ekstremisme di ruang digital.

Karena itu, menurutnya, stabilitas nasional perlu dijaga melalui penguatan literasi geopolitik masyarakat, pengawasan terhadap propaganda digital, serta pendekatan moderasi dalam menyikapi konflik internasional.

Zulhansyah menegaskan bahwa sikap Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik global harus tetap berlandaskan konstitusi.

Dia menyebut pembukaan UUD 1945 menegaskan komitmen Indonesia untuk turut serta menjaga perdamaian dunia yang berdasarkan pada kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

“Politik luar negeri bebas aktif harus diwujudkan melalui diplomasi yang aktif, kontribusi terhadap upaya perdamaian dunia, serta penguatan kerja sama regional dalam menjaga stabilitas keamanan global,” jelasnya.

Sebagai organisasi kader bangsa, HMI Cabang Kukar juga menyatakan komitmennya untuk membangun kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai keterkaitan antara konflik global dan ketahanan nasional.

Zulhansyah berharap pemerintah terus memperkuat kesiapsiagaan nasional, baik dalam aspek diplomasi, ekonomi, energi, maupun pertahanan, guna mengantisipasi dampak konflik global yang terus berkembang.

“Konflik global harus menjadi pengingat bahwa ketahanan nasional tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh stabilitas ekonomi, energi, dan sosial. Indonesia perlu mempersiapkan diri menghadapi dinamika geopolitik yang terus berubah,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA