BERITAALTERNATIF.COM – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memfokuskan program pengembangan peternakan tahun 2026 pada budi daya ayam petelur. Program tersebut disiapkan untuk meningkatkan produksi telur lokal sekaligus mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distanak Kukar, Muhammad Rifani, mengatakan pengembangan ayam petelur dipilih karena kebutuhan telur di Kukar masih banyak dipenuhi dari luar daerah. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang untuk meningkatkan produksi peternak lokal.
“Kalau untuk 2026 kita fokus pada pengadaan ayam-ayam petelur. Tahun ini kita fokus ke ayam petelur karena dalam rangka mendukung program nasional yaitu MBG,” ucapnya kepada awak media Berita Alternatif pada Jumat (10/7/2026).
“Harapannya nanti dapur-dapur MBG tidak perlu lagi mendatangkan telur dari luar, sehingga telur yang dihasilkan merupakan produksi Kukar,” sambungnya.
Rifani menjelaskan bantuan akan disalurkan kepada sejumlah kelompok tani dan kelompok peternak di beberapa kecamatan.
Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan skala usaha peternak, dari yang sebelumnya hanya memiliki kandang berkapasitas sekitar 100 hingga 200 ekor menjadi lebih besar.
Menurutnya, target pemerintah bukan hanya memenuhi kebutuhan telur untuk dapur MBG, tetapi juga memperkuat ketersediaan telur di tingkat lokal agar masyarakat tidak lagi terlalu bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Ia mengungkapkan, selama ini sebagian besar kebutuhan telur masyarakat Kukar masih dipasok dari daerah lain. Karena itu, peningkatan produksi lokal dinilai akan memberikan banyak manfaat, baik dari sisi kualitas maupun harga.
“Kalau diproduksi di sini tentu lebih fresh karena tidak terpengaruh pengiriman, dan mudah-mudahan harganya juga bisa lebih murah,” jelasnya.
Selain ayam petelur, pemerintah juga memberikan paket bantuan yang lengkap kepada kelompok penerima.
Bantuan tersebut meliputi pembangunan kandang, penyediaan ayam petelur yang telah siap memasuki masa produksi, pakan, hingga obat-obatan untuk satu siklus pemeliharaan.
Rifani menegaskan bantuan tersebut bukan dimaksudkan sebagai bantuan yang membuat peternak bergantung kepada pemerintah, melainkan sebagai pemicu agar usaha peternakan terus berkembang secara mandiri.
“Bantuan yang diberikan ini adalah stimulus. Jadi, kita tidak memberikan ikan, tapi memberikan pancing. Harapannya peternak bisa mengembangkan ternaknya; jangan stagnan pada yang sudah dibantu,” tegasnya.
Kelompok penerima bantuan diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan telur di lingkungan sekitarnya, tetapi juga dapat memperluas pemasaran ke wilayah lain sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak.
“(Bantuan ini diharapkan) bisa meningkatkan kesejahteraan peternak,” tutupnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin












