BERITAALTERNATIF.COM – Kebakaran yang melanda kawasan Jalan A.M. Alimuddin, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), tidak hanya menghanguskan bangunan rumah, tetapi juga menyisakan kehilangan mendalam bagi keluarga yang telah puluhan tahun menempati rumah tersebut.
Salah seorang warga, Kiki (50), terlihat membersihkan puing-puing rumah milik orang tuanya yang terbakar. Rumah tersebut merupakan bangunan kayu yang telah ditempati keluarganya sejak 1985.
Dia menuturkan, saat kebakaran terjadi, tidak ada seorang pun anggota keluarganya yang berada di rumah. Ibunya sedang berada di Samboja bersama Kiki, sementara kakaknya berada di Balikpapan.
“Waktu kebakaran kita tidak ada di rumah, termasuk orang tua. Jadi, begitu kita tahu ada berita kebakaran, kita langsung ke sini karena posisi lagi di Samboja,” ujarnya saat ditemui awak media Berita Alternatif di lokasi, Selasa (6/10/2026) sore.
Menurutnya, rumah tersebut sebenarnya masih ditempati oleh ibunya bersama salah seorang kakaknya. Namun, pada hari kejadian, ibunya kebetulan pergi ke Samboja karena Kiki bekerja di wilayah tersebut. Sementara kakaknya sedang berada di Balikpapan.
Rumah yang sebagian besar terbuat dari kayu ulin itu akhirnya tidak dapat diselamatkan setelah api menjalar ke bangunan.
Ia memperkirakan bangunan rumah tersebut memiliki lebar sekitar 20 meter dengan panjang ke belakang sekitar 16 hingga 18 meter.
Namun, Kiki mengaku tidak mengetahui secara pasti ukuran keseluruhan rumah yang telah menjadi tempat tinggal keluarganya selama puluhan tahun tersebut.
Menjadi Rumah sejak 1985
Bagi Kiki dan keluarganya, rumah tersebut bukan sekadar tempat tinggal. Rumah itu menjadi bagian penting dari perjalanan hidup keluarganya.
Dia mengatakan keluarganya mulai menempati rumah tersebut sejak 1985.
Ia memang tidak lahir di rumah itu, tetapi menghabiskan sebagian besar masa kecil hingga menyelesaikan pendidikan SMA di sana.
“Dari 1985 itu tinggal di sini. Kita lahirnya enggak di sini, cuma besar di sini. Saya sampai SMA, kuliah di Samarinda,” tuturnya.
Selama puluhan tahun, rumah tersebut menjadi tempat berkumpul keluarga. Dari lima bersaudara, kini hanya tersisa tiga orang karena dua kakaknya telah meninggal dunia.

Kondisi tersebut membuat kehilangan rumah akibat kebakaran terasa semakin berat bagi Kiki. Terlebih, rumah itu merupakan peninggalan orang tuanya sekaligus menyimpan banyak kenangan bersama keluarga. “Karena dari kecil itu tadi, kita di sini semua ngumpul,” ungkapnya.
Ayah Kiki juga telah lama meninggal dunia. Sang ayah wafat pada 1987 ketika Kiki masih duduk di kelas tiga sekolah dasar.
Karena itu, rumah tersebut menjadi salah satu peninggalan yang menyimpan kenangan tentang sang ayah.
“Karena papa saya sudah enggak ada. Jadi, kenang-kenangan dari bapaklah ceritanya,” ujarnya.
Tak Berada di Lokasi saat Kebakaran
Dia mengaku mengetahui kebakaran setelah mendapat telepon dari kakaknya yang berada di Balikpapan. Saat itu, dirinya bersama sang ibu sedang berada di Samboja.
“Saya ditelepon kakak yang di Balikpapan, katanya di belakang rumah itu kebakaran,” katanya.
Awalnya, keluarga masih memantau perkembangan kebakaran dari jauh. Namun, api semakin mendekati rumah mereka.
“Semakin ke sini kok apinya sudah sampai di sini,” tuturnya.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, api diduga berasal dari bagian belakang kawasan rumah tersebut dan kemudian menjalar ke bangunan lain.
Kiki mengatakan rumah keluarganya turut terdampak karena konstruksi bangunan yang sebagian besar menggunakan material kayu.
Berharap Ada Bantuan
Setelah kebakaran, dia dan keluarganya mulai memikirkan bagaimana membangun kembali rumah tersebut.
Ia mengatakan pembangunan akan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan keluarga. “Pelan-pelan kita bangun. Karena masih ada ibu,” katanya.
Ibunya, yang kini berusia sekitar 82 tahun, masih menjadi salah satu alasan keluarga untuk kembali membangun rumah tersebut.
Bagi Kiki, rumah itu juga memiliki fungsi penting sebagai tempat berkumpul keluarga.
“Karena di sinilah home base point-nya kita, anak-anaknya, tempat ngumpul,” ujarnya.
Karena itu, dia berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah maupun pihak lain untuk meringankan beban keluarganya setelah musibah tersebut. “Semoga bisa dibantu,” ucapnya.
Ia menegaskan, apabila bantuan diberikan, keluarganya akan menerimanya dengan baik karena bantuan tersebut dapat sedikit meringankan proses pemulihan.
“Kita terima. Karena sedikit membantu meringankan,” katanya.
Meski kehilangan rumah yang menyimpan kenangan selama lebih dari empat dekade, Kiki berusaha menerima keadaan tersebut dan menatap ke depan.

Dia berharap rumah keluarganya dapat kembali dibangun, meski tidak harus dilakukan sekaligus.
“Kalau dibangun kembali, kita usahakan bangun kembali pelan-pelan,” tutupnya.
Lebih dari 50 Rumah Terbakar
Kebakaran hebat melanda permukiman warga RT 33, Kelurahan Melayu tersebut terjadi pada Senin (5/10/2026) sore.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 17.00 Wita tersebut menghanguskan sekitar 50 rumah warga. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, meski sejumlah warga dilaporkan harus mendapat perawatan di rumah sakit karena mengalami sesak napas.
Berdasarkan laporan kejadian, kerugian material akibat kebakaran tersebut ditaksir mencapai sekitar Rp 10 miliar.
Api pertama kali diketahui muncul dari bagian dapur rumah kontrakan bangsalan milik Tamino. Rumah tersebut diketahui dihuni oleh Nami, seorang penjual kue keliling.
Saat kebakaran terjadi, Nami sedang tidak berada di rumah. Sejumlah saksi yang berada di sekitar lokasi kemudian melihat kepulan asap tebal disertai kobaran api yang menjulang tinggi.
Warga berupaya melakukan pemadaman secara mandiri. Namun, api dengan cepat membesar sehingga sulit dikendalikan. Warga kemudian meminta bantuan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kukar.
Sekitar pukul 17.20 Wita, tim pemadam kebakaran tiba di lokasi dan langsung melakukan upaya pemadaman dengan mengerahkan unit serta peralatan yang tersedia.
Pemadaman juga dibantu sejumlah relawan dari berbagai wilayah di Kabupaten Kukar serta relawan Balakarcana dari Kota Samarinda.
Kobaran api cepat meluas karena kondisi cuaca panas dan angin kencang. Selain itu, lokasi kejadian merupakan kawasan permukiman yang cukup padat dengan mayoritas bangunan rumah berbahan kayu.
Kondisi tersebut membuat petugas pemadam menghadapi kesulitan untuk mengendalikan api agar tidak semakin meluas ke rumah-rumah warga lainnya.
Setelah dilakukan pemadaman selama kurang lebih tiga jam, api akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 20.00 Wita.
Sejumlah unit dikerahkan dalam proses pemadaman, di antaranya satu unit AWC Sat Samapta Polres Kukar, lima unit truk pemadam kebakaran Kabupaten Kukar, serta tiga unit truk BPBD Kukar.
Selain itu, turut dikerahkan dua unit mobil pikap dan satu unit Viar dari Relawan Sangaji Tenggarong, satu unit mobil pikap Relawan Mangkuraja Loa Lemas, serta masing-masing satu unit mobil pikap dari Relawan Revolusi Samarinda, Relawan RNY Samarinda, dan Relawan Cempaka Samarinda.
Relawan dari wilayah Kabupaten Kukar dan Kota Samarinda juga turut membantu proses pemadaman.
Dugaan Korsleting Listrik
Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan. Namun, berdasarkan keterangan awal yang diperoleh dari sejumlah saksi, kebakaran diduga bermula dari korsleting arus listrik yang berasal dari rumah kontrakan milik Tamino. Rumah tersebut dihuni oleh Nami yang saat kejadian sedang tidak berada di lokasi.
Untuk memastikan penyebab kebakaran, Tim Inafis Polres Kukar melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) pada Selasa (6/10/2026).
Petugas juga telah melakukan sejumlah langkah penanganan, mulai dari mendatangi lokasi kejadian, meminta keterangan para saksi, membantu proses pemadaman, mengamankan barang bukti, hingga membuat laporan kejadian.
Barang bukti yang diamankan sementara berupa puing-puing bangunan rumah yang telah terbakar.
Korban masih Didata
Data sementara mencatat puluhan pemilik rumah terdampak kebakaran. Di antaranya Subaidah, Saluki, Tamino, Mispan, Parmin, Gema, Eko, Rokim, Rusdi, Misruha, Nurti, Iswanto, Budi Utomo, keluarga almarhum Suwanto, Mamak Bilkis, Rusmono, Suparmin, Supriadi, Madsudi, Ardiansyah, Iliansyah, Parmin, Ibu Epi, Mama Ade, Bapak Diva, Roby, Edo, Nami, Abdul Munib, Husaini, Zahran, Budi, Imah, Dewi Koto, Normiati, Kadariah, Arik, Suharto, Bejo, Wiwid, Barul, Alby, Yanto, Bapak Deni, dan Bapak Omat.
Zahran diketahui merupakan pemilik rumah kontrakan bangsalan yang terdiri dari lima pintu. Sementara Rusmono tercatat memiliki kos putri yang turut terdampak dalam kebakaran tersebut.
Jumlah korban terdampak masih memungkinkan bertambah. Sebab, proses pendataan dan pengumpulan keterangan dari warga yang mengalami musibah belum sepenuhnya selesai.
Meskipun tidak terdapat korban jiwa, beberapa warga dilaporkan dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami sesak napas akibat dampak kebakaran dan asap.
Pihak terkait masih melakukan pendataan terhadap warga terdampak serta memastikan kondisi pascakebakaran.
Tim Inafis Polres Kukar melakukan olah TKP untuk memastikan titik awal dan penyebab kebakaran.
Hingga kini, penyebab kebakaran masih berstatus dalam penyelidikan.
Pendataan Korban masih Berlanjut
Pendataan Pemerintah Kelurahan Melayu pada Selasa (6/10/2026) pagi masih berlangsung. Hingga pukul 02.16 Wita, tercatat 50 KK terdampak dengan total 151 jiwa.
Lurah Melayu Muhammad Hafiz mengatakan data tersebut dihimpun melalui Posko Keluarga Melayu dan masih dapat bertambah setelah pendataan terhadap rumah sewaan dan bangunan lainnya selesai dilakukan.
“Jumlah yang kami himpun di Posko Keluarga Melayu, jumlah KK terdampaknya itu ada 50 KK, terdiri dari 151 jiwa,” ungkapnya.
Dari 151 jiwa tersebut, tiga di antaranya merupakan anak yang belum bersekolah, 16 orang masih berstatus pelajar SD, empat siswa SMP, delapan siswa SMA, serta 10 mahasiswa.
Untuk bangunan, sementara tercatat 27 rumah pribadi terdampak. Angka tersebut belum mencakup rumah sewaan, rumah petak maupun bangsal yang berada di kawasan terdampak.
“Untuk sementara data yang kami terima, rumah pribadi yang terdampak ini ada 27 rumah. Itu belum termasuk dengan rumah sewaan, rumah petakan atau bangsalan,” jelasnya.
Hafiz memperkirakan jumlah keseluruhan rumah terdampak dapat mencapai sekitar 50 unit setelah rumah pribadi dan rumah sewaan seluruhnya didata.
Pemerintah Kelurahan Melayu masih melakukan verifikasi data di lapangan. Pembaruan jumlah rumah terdampak, terutama rumah sewaan, direncanakan dilakukan kembali pada Selasa siang.
“Insyaallah nanti siang akan kami update lagi untuk rumah sewanya, kepastian berapa rumah yang terdampak,” ucapnya.
Di tengah beredarnya informasi mengenai adanya warga yang meninggal dunia akibat sesak napas, dia memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran tersebut.

Ia membenarkan terdapat satu warga yang mengalami sesak napas dan sempat dibawa ke rumah sakit. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan paparan asap kebakaran.
“Informasi itu memang benar, ada satu warga di sini yang sesak napas, akibat mungkin dari asap,” ungkapnya.
Namun, warga tersebut tidak meninggal dunia. Saat dikonfirmasi mengenai adanya korban jiwa, Hafiz menegaskan tidak ada warga yang meninggal akibat kebakaran. “Tidak ada,” tegasnya.
Kebakaran terjadi di kawasan permukiman Kelurahan Melayu pada Senin sore. Sejumlah laporan awal menyebut kebakaran berdampak terhadap puluhan bangunan di kawasan tersebut.
Adapun angka bangunan terdampak yang sempat diberitakan mencapai sekitar 75 bangunan. Namun, data tersebut berbeda dengan pendataan sementara yang dihimpun Pemerintah Kelurahan Melayu.
Dia menyebut pihak kelurahan sementara memperkirakan sekitar 50 rumah terdampak berdasarkan pendataan 50 KK. Angka tersebut belum final karena rumah sewaan, rumah petak dan bangsal masih dalam proses pendataan.
Perbedaan angka tersebut terjadi karena pendataan di lapangan masih berjalan. Pemerintah Kelurahan Melayu akan kembali memperbarui data setelah seluruh bangunan dan warga terdampak berhasil diidentifikasi. (*)
REDAKSI BERITA ALTERNATIF











