BERITAALTERNATIF – Mengutip laporan Al Jazeera, strategi yang sering disampaikan oleh Deng Xiaoping kepada rakyatnya untuk mencapai kebangkitan nasional adalah: “Lihatlah dengan tenang, hadapi masalah dengan ketenangan, sembunyikan sinarmu seperti pedang dalam sarung, bekerja dalam diam, dan tunggu kesempatan datang.”
Dalam laporannya, Al Jazeera merujuk pada pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden Cina Xi Jinping dan sejumlah kesepakatan teknis yang dihasilkan. Media tersebut menegaskan bahwa kesepakatan teknis itu hampir pasti akan berhadapan dengan tembok tinggi politik dan kompleksitas masalah strategis yang ada, sehingga tidak mungkin menyelesaikan seluruh perbedaan antara kedua negara. Yang dapat dicapai dalam jangka pendek hanyalah mencegah memburuknya hubungan ekonomi, sementara perbedaan strategis akan tetap tertunda.
Cina, Negara yang Lebih dari Sekadar Pesaing bagi Amerika Serikat
Menurut Al Jazeera, pembicaraan tentang kompetisi biasa antara Cina dan Amerika Serikat kini tidak lagi memadai. Hal ini karena Amerika Serikat mengklasifikasikan potensi musuhnya dalam tiga tingkatan—pesaing, tantangan, dan ancaman—dan saat ini Cina sudah ditempatkan sebagai sumber ancaman utama.
Apa yang terjadi antara Cina dan AS adalah perlombaan untuk mencapai puncak kekuasaan global. Dalam medan ini, kemampuan Cina menunda konfrontasi langsung adalah sebuah pencapaian besar, sebab waktu berlangsung di pihak Beijing. Seluruh indikator ekonomi, politik, dan militer menunjukkan hal tersebut. Karena itu, semakin lama Cina mampu menunda benturan langsung, semakin kecil pula kerugian yang ditanggung.
Perang Dingin antara AS dan Cina
Al Jazeera menggambarkan “Perang Dingin” antara AS dan Cina sebagai konflik yang lebih berbahaya dan lebih dalam dibanding Perang Dingin sebelumnya antara AS dan Uni Soviet. Pada masa itu, ukuran ekonomi Uni Soviet hanya sekitar 40 persen dari ekonomi AS. Saat ini, ekonomi Cina mendekati ekonomi Amerika Serikat, bahkan menurut sejumlah perkiraan, jika menghitung nilai tukar dan daya beli yuan, ekonomi Cina sudah melampaui Amerika.
Pada era Perang Dingin dahulu, banyak negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik. Namun sekarang, hampir semua negara akan terpengaruh, karena keterhubungan ekonomi internasional jauh lebih besar dan efek ketegangan ini akan menyebar ke seluruh dunia.
Perbedaan Model Pemerintahan Amerika Serikat dan Cina
Perang Dingin baru antara Cina dan Amerika Serikat adalah konflik yang telah berubah menjadi persaingan multilateral di mana setiap pihak berupaya melemahkan yang lain. Cina ingin tampil sebagai kekuatan utama di dunia. Meski demikian, Cina tidak ingin meniru pola hegemoni Amerika Serikat. Falsafah kepemimpinan global AS dibangun atas “prinsip kekuatan” yang ditegaskan oleh teori realisme dalam hubungan internasional. Sebaliknya, Cina ingin menegakkan “teori ketergantungan” yang menekankan kerja sama dan integrasi agar semua pihak dapat mencapai formula “win-win”.
Mereka Menuai Apa yang Mereka Tanam
Cina berhasil “men-Cina-kan” perdagangan internasional hingga Amerika Serikat sendiri hidup dalam dunia ekonomi yang dibentuk oleh Cina. Di sisi lain, AS berpendapat bahwa ancaman yang kini mereka hadapi adalah hasil perbuatannya sendiri. Presiden Nixon dan Menteri Luar Negeri Henry Kissinger adalah pihak yang pertama kali membawa pabrik-pabrik Amerika ke Cina untuk memisahkannya dari Uni Soviet.
Bill Clinton kemudian mendukung Cina bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia, dan di era itu semakin banyak pabrik Amerika dan Barat berpindah ke Cina. Tren tersebut terus berlanjut selama pemerintahan George W. Bush hingga Barack Obama.
Cina Kini Menguasai 30 Persen Industri Global
Pada tahun 1989, ekonomi Cina hanya bernilai 347 miliar dolar. Namun pada tahun 2024, angkanya melampaui 20 triliun dolar—meningkat lebih dari 57 kali lipat dalam tiga dekade. Sebagian besar ekonomi Cina bertumpu pada ekspor, dan negara itu menguasai sekitar 30 persen nilai tambah industri global. Artinya, 30 persen industri dunia bersumber dari Cina, jumlah yang sangat besar. Ekspor Cina juga tumbuh tiga kali lebih cepat dibanding pertumbuhan perdagangan internasional.
Pertumbuhan Militer Cina Mengungguli Seluruh Dunia
Cina sedang melakukan modernisasi militer tercepat, bukan hanya pada era modern, tetapi dalam seluruh catatan sejarah. Mereka memberi perhatian khusus pada pengembangan kekuatan maritim. Saat ini Cina memiliki sekitar 380 kapal perang, lebih banyak dari Amerika Serikat yang memiliki sekitar 300 kapal.
AS menuduh Cina melakukan spionase ekonomi di dalam dan luar negeri, termasuk di Kanada dan Meksiko, serta menuduh Beijing merekrut politisi senior dari beberapa negara tersebut. Selain itu, Washington juga menuduh Cina melancarkan serangan siber terhadap institusi-institusi Amerika dan ingin menguasai pabrik-pabrik AS dan Eropa di Cina, yang nilainya mencapai triliunan dolar. Hal ini membuat kemungkinan terjadinya perang militer langsung hampir mustahil.
Cina Menguasai 80 Persen Unsur Tanah Jarang Dunia
Lebih dari 80 persen unsur tanah jarang—17 unsur penting yang tujuh di antaranya sangat vital untuk industri modern mulai dari ponsel, mobil listrik, hingga drone—berada di bawah kendali Cina. Beijing bahkan melarang ekspor tujuh unsur tersebut ke AS.
Arah Konvergensi Cina, India, dan Rusia dan Risikonya bagi AS
Al Jazeera menyebutkan bahwa terdapat banyak indikasi munculnya poros baru antara Moskow, Beijing, dan New Delhi. Beberapa minggu sebelum pertemuan trilateral di Tianjin, Perdana Menteri India melakukan kunjungan pertamanya ke Cina setelah tujuh tahun tegang akibat konflik perbatasan. Cina memperkuat hubungan dagangnya dengan India, mempermudah visa, serta membuka kembali penerbangan setelah bertahun-tahun tertutup.
Pengiriman minyak Rusia ke India tidak berhenti meski ada sanksi AS, bahkan meningkat drastis. Hal ini membuat John Bolton mengatakan bahwa ancaman terbesar bagi AS di abad ke-21 bukan hanya Cina, tetapi poros tiga negara Cina–Rusia–India.
Dalam pidatonya di PBB, Donald Trump juga menuding Cina dan India membantu pendanaan Rusia dalam perang Ukraina, serta memperingatkan tentang koalisi baru yang terbentuk antara tiga negara tersebut. Faktor-faktor inilah yang membuat Trump semakin berfokus pada Asia dalam upaya mencari solusi bagi dilema panjang AS dalam menghadapi Cina. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












