BERITAALTERNATIF.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong Desa Sumber Sari menjadi salah satu percontohan pengelolaan data desa berbasis digital.
Dorongan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan desa dalam mengumpulkan data, tetapi juga bagaimana data tersebut diolah menjadi informasi yang dapat dimanfaatkan untuk melihat kondisi masyarakat dan potensi wilayah.
Anggota Tim Pembinaan Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) BPS Kukar, Muhammad Rafi, mengatakan salah satu praktik yang dikembangkan di Sumber Sari ialah penyajian data melalui peta interaktif.
Melalui peta interaktif pada situs Desa Sumber Sari, lokasi rumah atau keluarga warga dapat dipetakan. Informasi mengenai keluarga juga dapat ditampilkan dalam peta tersebut.
Selain data kependudukan, UMKM yang berada di wilayah Sumber Sari turut didata dan dipetakan berdasarkan lokasi serta alamatnya.
“Di Sumber Sari itu ada peta interaktif di website-nya. Jadi mengetahui titik-titik rumah penduduk keluarga. Kemudian di situ sudah ada informasi-informasi terkait keluarga itu,” ujar Rafi kepada awak media Berita Alternatif di kantornya pada Rabu (9/9/2026).
“Terus ada UMKM-UMKM juga yang sudah didata dan sudah ada alamatnya, ada titik-titiknya di peta interaktif,” lanjutnya.
Menurutnya, pengembangan tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan data yang ingin diperluas ke tingkat pemerintahan yang lebih tinggi.
BPS Kukar, kata dia, berharap praktik pengelolaan data yang telah dilakukan di Sumber Sari dapat direplikasi pada tingkat kecamatan maupun kabupaten.
Ia menjelaskan, Desa Cantik pada dasarnya diarahkan agar pemerintah desa mampu mengelola data secara mandiri.
Sebab, selama ini masih terdapat desa yang mampu melakukan pendataan, tetapi belum mampu mengolah hasil pendataan tersebut menjadi informasi yang dapat digunakan.
“Tujuan utamanya itu memang agar desa itu bisa mengolah datanya secara mandiri,” katanya.
Karena itu, pembinaan tidak hanya menyentuh proses pengumpulan data. Desa juga dibimbing untuk memahami proses pengelolaan data dari hulu hingga hilir.
Tahapannya dimulai dari perencanaan, pengumpulan, pengolahan, analisis hingga penyajian dan publikasi kepada masyarakat.
Dengan proses tersebut, data mengenai penduduk, pertanian, usaha maupun kondisi desa lainnya diharapkan dapat disajikan dalam bentuk informasi yang mudah digunakan.
Salah satu aspek yang dinilai dalam Desa Cantik ialah keberadaan agen statistik di tingkat desa.
Agen tersebut menjadi pihak yang memahami pengelolaan data sehingga masyarakat atau pihak lain yang membutuhkan informasi tidak lagi harus berpindah dari satu perangkat desa ke perangkat lainnya untuk mencari data.
Rafi mengatakan bahwa Sumber Sari memiliki enam agen statistik. Mereka disiapkan untuk menjaga keberlanjutan pengelolaan data apabila salah satu agen mengalami perpindahan tugas. “Kalau satu pindah, masih ada yang melanjutkan,” ujarnya.
Dia berpendapat, pengalaman pembinaan sebelumnya menunjukkan pentingnya keberlanjutan tersebut.
Pada 2022, BPS pernah membina desa yang hanya memiliki satu agen statistik. Ketika agen tersebut berpindah, pengelolaan statistik di desa itu kembali harus dibangun dari awal.
Karena itu, keberadaan beberapa agen di Sumber Sari diharapkan membuat pengetahuan mengenai data tidak bergantung pada satu orang saja.
Pengelolaan data dari tingkat desa juga berkaitan dengan upaya membangun data yang lebih terintegrasi dari tingkat pemerintahan paling bawah.
Ia menjelaskan, konsep tersebut sejalan dengan agenda besar BPS dalam mendorong Satu Data Indonesia.
Menurutnya, data seharusnya dibangun dari unit pemerintahan terkecil. Jika data di desa telah dikelola dengan baik, pemerintah di tingkat kecamatan dapat menggunakannya sebagai dasar agregasi tanpa harus melakukan pendataan ulang.
“Nanti kabupaten menjumlahkan kecamatan, nanti provinsi menjumlahkan kabupaten. Nah, nanti datanya itu pasti sama,” jelasnya.
Rafi mencontohkan data penduduk. Jika data setiap desa telah akurat, jumlah pada tingkat kecamatan dapat diperoleh dengan menjumlahkan data dari desa-desa di dalamnya.
Pola tersebut diharapkan dapat mengurangi perbedaan data antarlevel pemerintahan karena seluruh angka berasal dari sumber yang sama di tingkat bawah.
BPS Kukar telah melakukan pembinaan Desa Cantik di 10 desa sejak 2022. Program tersebut hanya dapat diikuti satu kali oleh setiap desa agar pembinaan dapat menjangkau wilayah lain secara lebih merata.
Dia menyebut pengalaman Desa Batuah menjadi salah satu contoh praktik yang kemudian dikembangkan di wilayah lain.
Desa Batuah yang sebelumnya dibina dalam program Desa Cantik dan meraih peringkat keenam nasional, lanjutnya, kemudian direplikasi oleh Kecamatan Kembang Janggut.
Praktik yang sebelumnya dilakukan di Desa Batuah dikembangkan dalam cakupan satu kecamatan.
Ia menyebut hasil replikasi tersebut kemudian masuk dalam penilaian inovasi di tingkat provinsi.
Rafi menegaskan, pola tersebut menjadi gambaran bahwa pengelolaan data tidak harus berhenti pada satu desa. Praktik yang sudah berjalan dapat dikembangkan lebih luas sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
“Apa yang dilakukan di Desa Batuah itu (bisa ditiru oleh desa-desa lain di Kukar),” pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Devi Nila Sari











