Berita Utama

Petani Desa Giri Agung Protes Harga Jagung Pipil Rp 4.000 Per Kilogram

Kukar, beritaalternatif.com – Harga Eceran Tertinggi (HET) jagung pipil “yang hanya Rp 4.000 per kilogram” menjadi hambatan tersendiri bagi Pemerintah Desa (Pemdes) Giri Agung dalam mendorong para petani memperluas lahan untuk penanaman jagung.

Perusahaan swasta yang digandeng pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) sejatinya bersedia menampung dan membeli jagung para petani dengan harga tersebut.

Berapa pun jumlah jagung yang dipanen para petani Giri Agung, walau kuantitas jagungnya mencapai 1.000 ton, perusahaan tersebut bersedia membelinya.

Namun, harga itu menuai protes dari para petani. Mereka berpatokan pada harga jagung di pasar lokal yang mencapai Rp 7.000 per kilogram.

Perusahaan pun memberikan peluang kepada petani Giri Agung menjual jagung mereka di tempat lain bila menemukan harga di atas Rp 4.000 per kilogram.

Meski telah dibukakan peluang untuk menjual jagung mereka di tempat lain, para petani tak menemukan pembeli yang bersedia membeli jagung pipil dalam jumlah besar.

“Itu sedikit tantangan kita. Petani kita dibayang-bayangi harga Rp 7.000 per kilogram,” jelas Kepala Desa Giri Agung Supriyadi kepada beritaalternatif.com saat ditemui baru-baru ini di Kantor Desa Giri Agung, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kukar.

Para petani, lanjut dia, yang tergiur dengan harga jagung di pasar yang mencapai Rp 7.000 per kilogram belum satu pun menemukan pembeli di Kukar yang bersedia membeli jagung mereka dengan harga tersebut dalam jumlah besar.

“Sekali beli paling dua sampai tiga kuintal. Kalau dijual 3 ton dengan harga Rp 7.000, pembelinya enggak mau beli. Karena kan pasar lokal,” ucapnya.

Sebelumnya, para petani telah memanen jagung di atas lahan seluas 14 hektare. Mereka menjualnya kepada perusahaan yang menjadi mitra pemerintah daerah tersebut.

Supri mengungkapkan, dalam satu hektare lahan, rata-rata jagung pipil yang dihasilkan sebanyak 4 ton, sehingga petani bisa meraup Rp 16 juta per hektare. “Hasil segitu sangat menguntungkan bagi petani kita,” ujarnya.

Kata dia, harga Rp 4.000 per kilogram sejatinya telah diperhitungkan secara matang oleh perusahaan yang menampung dan membeli jagung dari para petani di Giri Agung.

Manajemen perusahaan tersebut bahkan menyediakan pupuk, bibit, hingga obat jagung untuk para petani yang bersedia menanam jagung di Giri Agung.

Bantuan tersebut diberikan kepada para petani pada penanaman awal. Berikutnya, petani harus membeli sendiri pupuk, bibit, dan obat jagung. “Hal-hal seperti ini yang belum dipikirkan petani kita di sini,” ucap Supri. (*)

Penulis: Ufqil Mubin

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

To Top