Search

ABI Nyatakan Sikap atas Kesyahidan Imam Ali Khamenei, Serukan Solidaritas dan Konsolidasi Umat Islam

Ketua Umum DPP ABI, Habib Zahir bin Yahya. (Dok. Berita Alternatif)

BERITAALTERNATIF.COM – Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (ABI) menyampaikan pernyataan sikap resmi terkait wafatnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei, yang syahid pada 11 Ramadan 1447 H bertepatan dengan 1 Maret 2026.

Dalam pernyataannya, yang ditandatangi Ketua Umum DPP ABI Ustadz Zahir Yahya, ABI menyebut peristiwa tersebut sebagai akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel serta sebagai “kehilangan besar bagi umat Islam dan seluruh kekuatan yang konsisten menentang hegemoni global.”

Pernyataan itu dibuka dengan kutipan Surah Al-Ahzab ayat 23 yang menegaskan keteguhan orang-orang beriman dalam menepati janji kepada Allah, dilanjutkan dengan ungkapan duka cita, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”

ABI menilai Imam Ali Khamenei bukan sekadar pemimpin politik, tetapi juga simbol keteguhan prinsip, konsistensi ideologis, dan keberanian menghadapi dominasi kekuatan global, khususnya AS dan Israel.

Kepemimpinan beliau, menurut ABI, merepresentasikan garis perlawanan yang menegaskan kemandirian dan martabat bangsa.

ABI memandang peristiwa tersebut sebagai kejahatan politik yang mencederai prinsip kedaulatan negara serta norma dasar kemanusiaan dan agama.

Serangan terhadap pemimpin negara berdaulat sekaligus rujukan keagamaan bagi jutaan umat dinilai sebagai preseden berbahaya yang berpotensi menggerus fondasi hukum internasional.

“Praktik imperialisme modern tampak dalam bentuk yang nyata melalui tindakan tersebut,” demikian ditegaskan dalam pernyataan itu yang dikutip redaksi Berita Alternatif pada Minggu (1/3/2026).

ABI menekankan bahwa dalam sejarah Islam dan perjalanan bangsa-bangsa merdeka, kesyahidan tidak pernah memadamkan perjuangan. Sebaliknya, pengorbanan para syuhada disebut justru menguatkan tekad, memperluas kesadaran, dan memperdalam komitmen terhadap cita-cita keadilan.

Menurut ABI, gagasan tentang perlawanan terhadap penjajahan, keberpihakan kepada kaum tertindas (mustadh’afin), serta visi kemandirian umat yang diperjuangkan Imam Ali Khamenei tidak akan berhenti dengan wafatnya beliau.

“Ide tidak dapat dihancurkan oleh peluru. Prinsip tidak runtuh oleh bom. Keyakinan tidak sirna oleh tekanan militer,” tulis ABI dalam pernyataannya.

Dalam bagian akhir, ABI menyampaikan empat poin sikap resmi: Pertama, penghormatan tertinggi kepada seorang syahid umat. ABI menyatakan bahwa kesyahidan Imam Ali Khamenei merupakan kemuliaan dalam jalan perjuangan. Amanah kepemimpinan dinilai telah ditunaikan dengan konsistensi, keberanian, dan keteguhan hingga akhir hayat.

Kedua, penegasan sikap anti-penjajahan. ABI menegaskan komitmen menolak segala bentuk penjajahan, dominasi, dan intervensi asing terhadap bangsa mana pun. Perlawanan terhadap kezaliman disebut sebagai mandat moral yang tidak bergantung pada situasi.

Ketiga, konsolidasi solidaritas umat. ABI menyerukan kepada umat Islam, khususnya pengikut Ahlulbait di Indonesia, untuk memperkuat persatuan, meningkatkan literasi politik, serta memperkokoh barisan dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.

Keempat, seruan spiritualitas dan keteguhan. ABI mengajak penyelenggaraan majelis doa dan tilawah Alquran selama tujuh hari sebagai bentuk penghormatan dan penguatan ruhani. Kesedihan, menurut mereka, harus melahirkan keteguhan, bukan keputusasaan.

“Semoga Allah Swt menerima seluruh amal dan jihad beliau, menempatkannya bersama para Syuhada dan Shalihin, serta meneguhkan hati umat dalam melanjutkan perjuangan menegakkan keadilan dan martabat kemanusiaan,” tutup DPP ABI. (*)

Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA