BERITAALTERNATIF.COM – Dalam lebih dari tiga pekan terakhir, konflik antara Iran melawan aliansi Amerika Serikat dan Israel telah berubah secara fundamental. Apa yang semula tampak sebagai operasi militer cepat untuk melemahkan Iran, kini justru berkembang menjadi perang ketahanan (war of attrition) yang mahal, kompleks, dan sulit dikendalikan.
Jika ada satu kesimpulan utama dari 23 hari ini, maka itu adalah: tidak ada pihak yang benar-benar mampu menang cepat.
Pada fase awal, serangan terhadap fasilitas strategis Iran—termasuk situs nuklir—memberikan kesan bahwa AS dan Israel sedang menjalankan strategi “decapitation”: melumpuhkan lawan dengan menghantam pusat kekuatan. Namun, realitas di lapangan berkata lain.
Iran tidak runtuh. Justru sebaliknya, mereka merespons dengan: serangan rudal ke wilayah Israel, serangan ke pangkalan militer AS di kawasan, tekanan terhadap jalur energi global, bahkan, serangan terbaru telah melukai puluhan penduduk di Israel selatan akibat rudal Iran.
Ini menunjukkan bahwa kemampuan ofensif Iran masih utuh—bahkan adaptif. Perang yang dirancang sebagai “shock and awe” berubah menjadi perang saling menguras kekuatan.
Salah satu ciri paling mengkhawatirkan dari konflik ini adalah bergesernya target ke infrastruktur vital: fasilitas nuklir serta jalur energi dan potensi pembangkit listrik.
Ancaman terbaru dari Donald Trump untuk menghancurkan pembangkit listrik Iran mempertegas arah ini. Masalahnya jelas: ketika infrastruktur sipil menjadi target, maka batas antara militer dan kemanusiaan mulai kabur.
Dampaknya bukan hanya pada kemampuan perang, tetapi juga: kehidupan warga sipil, stabilitas sosial, dan krisis kemanusiaan jangka panjang.
Dalam banyak konflik modern, serangan terhadap infrastruktur justru memperpanjang perang, bukan mempercepat kemenangan.
Konflik ini juga memperlihatkan bagaimana Selat Hormuz berubah dari jalur ekonomi menjadi alat tekanan geopolitik. Iran tidak menutup total, tetapi membatasi akses bagi “musuh”. Dampaknya: harga energi global melonjak, ketidakpastian pasar meningkat, dan negara-negara besar mulai cemas.
Ini adalah bentuk perang asimetris: Iran mungkin kalah dari segi persenjataan, tetapi mampu mengguncang sistem global melalui satu titik strategis.
Dan di sinilah paradoks muncul—semakin besar tekanan militer terhadap Iran, semakin besar pula insentif bagi Iran untuk mengganggu Hormuz.
Yang paling mengkhawatirkan dari 23 hari ini bukan hanya intensitas konflik, tetapi arah eskalasinya. Iran telah menunjukkan kemampuan menjangkau target lebih jauh, bahkan diklaim bisa mencapai Eropa. Serangan telah meluas ke berbagai titik, termasuk pangkalan militer Barat. Negara-negara lain mulai terseret, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Korban jiwa telah mencapai ribuan dan jutaan orang terdampak. Ini bukan lagi konflik terbatas. Ini adalah embrio perang regional.
Menariknya, kedua pihak mengklaim posisi defensif: Iran menyatakan dirinya hanya membela diri dan siap untuk perang panjang. Sementara AS dan Israel mengklaim tindakan mereka sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman.
Dalam perang modern, narasi sama pentingnya dengan senjata. Dan ketika semua pihak merasa “benar”, maka ruang kompromi semakin sempit.
Setelah 23 hari, satu hal menjadi jelas: konflik ini telah keluar dari skenario awal. Tidak ada kemenangan cepat dan tidak ada pihak yang benar-benar dominan.
Risiko eskalasi terus meningkat. Perang ini kini bukan soal siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang mampu bertahan lebih lama—secara militer, ekonomi, dan politik.
Dan seperti banyak perang sebelumnya, bahaya terbesar bukan pada hari ke-1 atau ke-23, tetapi pada hari ketika semua pihak merasa tidak bisa mundur lagi. Karena pada titik itu, perang tidak lagi dikendalikan oleh strategi—melainkan oleh momentum. (*)
Penulis & Editor: Ufqil Mubin











