BERITAALTERNATIF – Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menegaskan pentingnya menjaga integritas dan menerapkan gaya hidup sederhana bagi seluruh aparatur sipil negara di lingkungan Kementerian Agama. Pesan tersebut disampaikan dalam rangka peringatan Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama yang digelar bersama jajaran Kantor Wilayah Kemenag Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (3/1/2026).
Pembinaan kepada ASN tersebut berlangsung secara sederhana di Aula Kanwil Kemenag DIY. Acara diisi dengan pemotongan tumpeng, istighasah, serta siraman rohani yang disampaikan oleh Gus Muwafiq, pengasuh Pesantren Minggir, Sleman. Dalam suasana kekeluargaan itu, Wamenag menyampaikan sejumlah pesan strategis terkait etos pengabdian ASN Kemenag.
Integritas sebagai Harga Mati
Romo Syafi’i menekankan bahwa ekspektasi umat terhadap Kementerian Agama sangat tinggi. Oleh karena itu, integritas harus menjadi prinsip utama yang tidak dapat ditawar dalam setiap pelaksanaan tugas dan tanggung jawab ASN.
Ia memaknai integritas sebagai “kesederhanaan yang mewah”, yakni sikap hidup sederhana yang justru menjadi kekuatan moral dalam mencegah perilaku menyimpang. Menurutnya, kesederhanaan dalam perilaku, penampilan, dan tutur kata merupakan cerminan nilai kesalehan yang melekat pada ASN Kemenag.
Wamenag menegaskan bahwa gaya hidup sederhana bukan bentuk kekurangan, melainkan kemewahan sejati yang mendatangkan ketenangan dalam bekerja serta keberkahan dalam pengabdian kepada negara dan umat.
Loyalitas dan Peningkatan Kapasitas ASN
Selain integritas, Romo Syafi’i juga menekankan pentingnya loyalitas ASN yang diiringi dengan peningkatan kapasitas teknis. ASN Kemenag diminta tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga mampu hadir sebagai solusi dalam kehidupan keagamaan masyarakat.
Ia mencontohkan bahwa ASN di lingkungan Kemenag, sesuai latar belakang agamanya, perlu memiliki kecakapan dasar dalam memimpin ibadah atau kegiatan keagamaan ketika dibutuhkan. Menurutnya, kesiapan tersebut merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam menjaga kekhidmatan dan keberlangsungan kehidupan beragama masyarakat.
Wamenag juga mengingatkan bahwa fasilitas dan kesejahteraan yang diberikan negara kepada ASN harus dibalas dengan dedikasi dan kinerja yang optimal. Dibandingkan dengan para tokoh terdahulu yang mengabdi dalam keterbatasan, ASN masa kini dinilai memiliki tanggung jawab lebih besar untuk memberikan pelayanan terbaik.
Arah Transformasi dan Toleransi Organik
Dalam kesempatan tersebut, Romo Syafi’i turut menyinggung transformasi kelembagaan Kementerian Agama, khususnya penguatan pendidikan vokasi. Ia menyampaikan visi pengembangan struktur pendidikan agar mampu mengakomodasi potensi santri dan siswa madrasah, terutama di bidang sains dan teknologi, tanpa meninggalkan penguatan nilai-nilai keagamaan.
Menutup arahannya, Wamenag menekankan pentingnya internalisasi toleransi yang bersifat organik di kalangan ASN Kemenag. Menurutnya, moderasi beragama harus tercermin dalam praktik kehidupan sehari-hari, terutama dalam hubungan sosial yang alami dan saling membantu tanpa sekat identitas.
Ia berharap nilai toleransi tersebut menjadi bagian dari karakter dan budaya kerja ASN Kemenag dalam menjaga kerukunan dan persatuan bangsa. (*)
Sumber: Kemenag.go.id
Editor: Ali Hadi Assegaf










