BERITAALTERNATIF.COM – Festival dan Pameran Konferensi Asia-Afrika (KAA) 2026 menghadirkan wajah baru diplomasi Indonesia melalui konsep multidiplomasi, sebuah pendekatan yang menempatkan kerja sama lintas sektor sebagai fondasi dalam menghadapi tantangan global abad ke-21.
Mengusung tema Reimajinasi Konferensi Asia-Afrika untuk Generasi Muda dan Jakarta Kota Global: Solidaritas, Multidiplomasi, dan Multinarasi Sejarah Dunia, festival ini menjadi ruang pertemuan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, pelaku industri kreatif, dunia usaha, media, organisasi masyarakat sipil, hingga generasi muda.
Konsep multidiplomasi yang diangkat dalam festival ini menegaskan bahwa diplomasi pada era modern tidak lagi menjadi domain eksklusif hubungan antarnegara. Perkembangan dunia yang semakin saling terhubung menuntut lahirnya pola kerja sama baru yang mampu mempertemukan berbagai aktor untuk membangun solusi bersama atas persoalan global, mulai dari pendidikan, kebudayaan, ekonomi kreatif, ilmu pengetahuan, teknologi, hingga inovasi perkotaan.
Melalui pendekatan tersebut, Festival dan Pameran KAA 2026 berupaya menghidupkan kembali Spirit Bandung sebagai warisan Konferensi Asia-Afrika 1955 yang tetap relevan dalam menghadapi dinamika geopolitik dan pembangunan global saat ini.
Rangkaian festival dikemas melalui tiga forum utama yang membahas berbagai dimensi diplomasi masa kini.
Forum pertama adalah Forum Ekonomi Kreatif dengan tema Reimajinasi Konferensi Asia-Afrika Melalui Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, dan Inovasi Perkotaan. Forum ini membahas bagaimana seni, desain, gastronomi, industri kreatif, serta teknologi berkembang menjadi instrumen diplomasi budaya sekaligus motor penggerak pembangunan ekonomi yang inklusif.
Forum kedua adalah Talkshow History bertajuk Konferensi Asia-Afrika dan Pusaka Diplomasi Internasional Soekarno untuk Generasi Muda. Diskusi ini mengajak peserta meninjau kembali kepemimpinan Indonesia dalam membangun solidaritas negara-negara Global South sekaligus menegaskan bahwa Spirit Bandung merupakan aset strategis diplomasi Indonesia yang masih memiliki relevansi kuat di tengah perubahan politik internasional.
Sementara itu, forum ketiga mengangkat tema Dari Konferensi Asia-Afrika 1955 ke Abad ke-21: Sister City Pendidikan sebagai Wahana Strategis Diplomasi Kota Jakarta–Moskow. Melalui forum ini, peserta diajak memahami berkembangnya diplomasi kota (city diplomacy) melalui kerja sama pendidikan, penelitian, inovasi, pertukaran mahasiswa, serta pengembangan sumber daya manusia sebagai bentuk baru hubungan internasional.
Rektor Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Prof. Yuda Turana, menekankan bahwa Spirit Konferensi Asia-Afrika harus diwujudkan dalam bentuk kerja sama konkret yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat.
Menurutnya, warisan Konferensi Asia-Afrika tidak cukup hanya dikenang sebagai peristiwa sejarah, tetapi harus diterjemahkan menjadi kolaborasi riset, pertukaran mahasiswa, inovasi sosial, serta pengembangan ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Spirit Konferensi Asia-Afrika harus diterjemahkan menjadi kerja sama riset, pertukaran mahasiswa, inovasi sosial, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Founder Aspirasi Jakarta, Budhi Haryadi, menilai generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam melanjutkan warisan Konferensi Asia-Afrika melalui pendekatan multidiplomasi.
Budhi mengatakan bahwa multidiplomasi menghubungkan sejarah, pendidikan, inovasi, kebudayaan, ekonomi kreatif, serta partisipasi masyarakat dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan memiliki jejaring internasional.
Menurut dia, Konferensi Asia-Afrika tidak hanya menjadi sumber inspirasi sejarah dan memori kolektif bangsa, tetapi juga merupakan ekosistem strategis diplomasi dan ekonomi kreatif yang mampu memperkuat solidaritas serta kerja sama negara-negara Asia-Afrika melalui sinergi antara kampus, pemerintah, komunitas, dan masyarakat.
Ketua Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Arthur Sanger, menilai keberagaman budaya merupakan kekuatan utama negara-negara Asia-Afrika.
Arthur mengingatkan bahwa hampir tujuh dekade lalu Konferensi Asia-Afrika di Bandung telah menunjukkan kepada dunia bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk bersatu, melainkan modal penting dalam membangun solidaritas, saling menghormati, dan menciptakan masa depan yang lebih baik.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Perluni UAJ, Ivor Pasaribu, yang menekankan pentingnya jejaring alumni sebagai modal sosial dalam mempertemukan dunia pendidikan tinggi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan komunitas internasional.
Menurutnya, alumni dapat menjadi simpul kolaborasi strategis yang mendukung pembangunan nasional sekaligus memperkuat hubungan internasional.
Dalam kesempatan terpisah, mantan Ketua MPR RI sekaligus ajudan Bung Karno, Sidarto Danusubroto, mengingatkan bahwa Spirit Bandung merupakan aset sejarah strategis bagi diplomasi Indonesia.
Dia menilai nilai-nilai yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika 1955 tetap memiliki posisi penting dalam membangun hubungan internasional Indonesia di tengah perubahan dunia.
Sementara itu, Co-Founder Youth for Global Solidarity, Rangga, menjelaskan bahwa diplomasi masa kini memerlukan ekosistem kolaboratif yang melibatkan negara, masyarakat, dunia usaha, sektor budaya, dan komunitas ilmu pengetahuan.
Dia berpendapat, multidiplomasi merupakan bentuk nyata evolusi Spirit Bandung yang berpijak pada nilai solidaritas, kesetaraan, serta penghormatan terhadap kemanusiaan.
“Diplomasi hari ini perlu mengintegrasikan peran negara, masyarakat, sektor bisnis dan ekonomi, budaya, dan pengetahuan dalam satu ekosistem strategis dan jaringan kolaboratif,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa multidiplomasi merupakan cerminan Spirit Bandung yang terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.
Festival dan Pameran KAA 2026 turut dihadiri Duta Besar Palestina, Duta Besar Ethiopia, serta Konselor Kebudayaan Iran.
Selain forum diskusi, penyelenggara juga menghadirkan pameran sejarah, arsip diplomasi, karya seni, sastra, serta berbagai instalasi tematik yang menggambarkan bagaimana diplomasi dapat tumbuh melalui narasi budaya, pengetahuan, kreativitas, dan inovasi masyarakat.
Pameran tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antarbangsa pada era modern tidak lagi dibangun semata melalui negosiasi politik, tetapi juga melalui pertukaran gagasan, kolaborasi akademik, karya budaya, serta inovasi teknologi.
Melalui pendekatan multidiplomasi, Festival dan Pameran KAA 2026 menegaskan bahwa Spirit Bandung terus berevolusi mengikuti perkembangan zaman.
Warisan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 kini diterjemahkan menjadi gerakan kolaboratif yang mempertemukan berbagai aktor untuk memperkuat solidaritas Global South, membangun perdamaian, serta melahirkan solusi inovatif atas berbagai tantangan dunia abad ke-21.
Festival ini sekaligus menegaskan bahwa Bandung bukan hanya sebuah peristiwa sejarah, melainkan sebuah gagasan yang terus hidup. Melalui ilmu pengetahuan, kebudayaan, kreativitas, dan kolaborasi lintas sektor, Spirit Bandung diharapkan tetap relevan sebagai inspirasi bagi masa depan hubungan antarbangsa di tengah perubahan global yang semakin kompleks. (*)
Editor: Ufqil Mubin












