Search

Waketum DPP ABI Dorong Budaya Kompetitif dan Penguatan Organisasi Melalui Upgrading

Waketum DPP ABI Ustadz Ahmad Hidayat menjadi narasumber dalam kegiatan upgrading kepengurusan yang dilaksanakan pada Jumat, 12 September 2026. (Berita Alternatif/Ufqil Mubin)

BERITAALTERNATIF.COM – Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI), Ustadz Ahmad Hidayat, menekankan pentingnya membangun budaya kompetitif di lingkungan organisasi sebagai salah satu upaya meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), memperkuat struktur, serta mendorong produktivitas organisasi.

Hal tersebut disampaikan Ustadz Hidayat dalam kegiatan upgrading organisasi yang digelar Departemen Organisasi DPP ABI pada Jumat (11/9/2026) malam.

Menurutnya, budaya kompetisi perlu dipahami sebagai dorongan positif agar setiap individu dan organisasi terus berkembang.

Dia menjelaskan, seseorang yang terbiasa berada dalam situasi kompetitif akan terdorong untuk melihat perkembangan pihak lain, memahami tantangan yang dihadapi, serta melakukan evaluasi terhadap kapasitas dirinya maupun kelompok atau organisasi tempatnya beraktivitas.

“Karena orang yang terbiasa berkompetisi, dia akan mencari tahu seperti apa lawan dihadapannya, seperti apa perkembangan orang di luar kelompoknya, seperti apa yang terjadi, akselerasi gerak dari kelompok yang ada di luar kelompoknya mengalami kemajuan,” ujarnya.

Ia berpendapat, budaya kompetitif yang dibangun sejak dini dapat membentuk pribadi yang lebih tangguh. Orang yang terbiasa menghadapi tantangan tidak mudah patah semangat, kehilangan arah, ataupun menyerah ketika menghadapi kegagalan.

“Orang yang dilatih dari kecil berkompetisi dalam hidup itu biasanya sukses dan tidak mudah patah semangat. Tidak mudah kehilangan atau mengalami disorientasi. Tidak mudah kecewa. Tidak mudah kehilangan kesempatan,” katanya.

Ustadz Hidayat menilai semangat kompetisi bukan sekadar keinginan untuk mengungguli pihak lain. Lebih dari itu, kompetisi dapat menjadi ruang pembuktian terhadap kompetensi, kapasitas, dan potensi yang dimiliki seseorang.

Orang yang terbiasa menghadapi tantangan, lanjutnya, akan selalu berusaha mencari cara terbaik untuk menyelesaikan persoalan yang ada di hadapannya.

“Orang yang selalu berada dalam situasi berkompetisi, selalu merasa ada tantangan di hadapannya dan ingin menyelesaikan tantangan itu dengan baik untuk membuktikan bahwa dirinya memang memiliki kompetensi, memiliki kapasitas, memiliki potensi,” ucapnya.

Upgrading sebagai Proses Menaikkan Level

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Hidayat juga menjelaskan makna upgrading dalam konteks organisasi. Secara terminologis, upgrading berarti meningkatkan atau menaikkan level berbagai aspek yang dimiliki organisasi.

Aspek tersebut tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kapasitas individu, tetapi juga menyangkut sistem kerja dan nilai-nilai yang menjadi landasan organisasi.

“Kalau kita lihat secara terminologis kata upgrading itu adalah menaikkan level. Level kapasitas organisasi, kapasitas sumber daya manusia, kapasitas sistem, dan kapasitas nilai yang dimiliki oleh organisasi terhadap setiap personalia yang ada di dalam,” jelasnya.

Karena itu, dia menilai kegiatan upgrading harus menghasilkan perubahan nyata. Apabila seseorang telah berulang kali mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas, maka seharusnya terdapat perkembangan dalam dirinya dan organisasi.

“Kalau sudah lima kali antum mengikuti upgrading organisasi ini, maka sejatinya, semestinya ada sesuatu yang berkembang, tumbuh dalam diri kita. Kapasitas kita sebagai SDM itu sendiri, apakah bertumbuh? Sistem yang kita anut di dalam organisasi ini apakah mengalami perbaikan?” katanya.

Selain kapasitas SDM dan sistem, ia juga menyoroti pentingnya penguatan nilai-nilai organisasi. Nilai tersebut harus semakin tertanam dan menjadi pedoman dalam menjalankan kerja-kerja organisasi secara sistematis.

Dengan demikian, keberhasilan upgrading dapat dilihat dari peningkatan kualitas kinerja organisasi dan kemampuan seluruh personalia dalam menuntaskan program kerja, mulai dari tingkat pusat hingga daerah.

“Baru kita mengetahui bahwa upgrading ini betul-betul mengantar organisasi ini dengan personalia yang bekerja di dalamnya melahirkan kinerja, di mana seluruh program bisa tuntas dilaksanakan mulai dari pusat, wilayah, daerah,” ujarnya.

Ustadz Hidayat mengatakan organisasi yang berkembang akan terlihat dari semakin kuatnya SDM, semakin kokohnya sistem, serta semakin tertanamnya nilai-nilai organisasi. Perkembangan tersebut pada akhirnya harus tercermin pula dalam produktivitas dan pencapaian program kerja.

Dia menekankan bahwa proses peningkatan kapasitas organisasi harus memiliki ukuran yang jelas. Setiap kegiatan upgrading perlu dapat dievaluasi melalui perubahan dan perkembangan yang terjadi setelah kegiatan tersebut dilaksanakan.

Ia memberikan contoh terkait pertumbuhan struktur organisasi di tingkat wilayah dan daerah. Sebuah wilayah yang sebelumnya hanya memiliki jumlah Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dalam jumlah minimal semestinya dapat mempercepat pembentukan struktur baru setelah melakukan penguatan organisasi.

“Sebut saja misalnya, apakah sebuah DPW yang dibentuk dengan minimal tiga DPD, setelah mengikuti upgrading, kemudian mempercepat pembentukan DPD di wilayahnya sehingga tumbuh menjadi lima, enam, tujuh dan seterusnya,” katanya.

Ukuran perkembangan organisasi, lanjutnya, juga dapat dilihat dari pendataan dan pertumbuhan jumlah anggota.

Apabila sebelumnya suatu wilayah telah memiliki sejumlah anggota yang terdata, maka organisasi harus mampu melihat apakah terdapat pertumbuhan yang signifikan pada periode berikutnya.

Tidak hanya soal jumlah, Ustadz Hidayat juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas anggota melalui berbagai program kaderisasi dan pengembangan SDM, termasuk Pendidikan Tingkat Dasar (PTD), Pendidikan Tingkat Menengah (PTM), serta program-program organisasi lainnya.

“Semua ini punya ukuran. Karena itu, upgrading akan menjadi sangat fungsional, sangat efektif ketika kita bisa mengembangkannya dengan baik,” ujarnya.

Menurutnya, upgrading pada dasarnya merupakan proses peningkatan yang dilakukan secara terstruktur dan terencana.

Melalui proses tersebut, organisasi diharapkan dapat berkembang dengan struktur yang semakin rapi dan kuat.

Struktur Kuat, SDM Berkapasitas

Dalam arahannya, Ustadz Hidayat menyebut kekuatan sebuah organisasi dapat diukur melalui seberapa kokoh struktur yang dimilikinya, mulai dari tingkat pusat hingga daerah.

Struktur tersebut, menurutnya, harus diisi oleh personalia yang memiliki potensi, kompetensi, dan kapasitas yang memadai agar seluruh program organisasi dapat dijalankan secara baik.

“Salah satu cara mengukur sebuah organisasi itu kuat atau tidak, kita lihat seberapa kokoh struktur organisasi itu dari pusat sampai daerah yang diisi oleh personalia pengurus yang memiliki potensi, kompetensi dan kapasitas yang mumpuni,” jelasnya.

Dia kemudian mengajak seluruh peserta untuk tidak hanya melihat ABI sebagai organisasi dalam pengertian administratif dan struktural sebagaimana organisasi konvensional.

Menurutnya, ABI memiliki nilai pembeda yang harus dipahami oleh seluruh pengurus dan anggotanya, yakni kesadaran teologis dan ideologis yang menjadi landasan dalam berorganisasi.

Organisasi, kata Ustadz Hidayat, memang dapat mengukur perkembangan dan pertumbuhannya dengan melihat organisasi-organisasi lain. Namun, ABI juga memiliki nilai dan prinsip tersendiri yang menjadi identitas dan kekuatan organisasi.

“Boleh kita mengatur, boleh kita mengukur tingkat pertumbuhan organisasi kita dengan mengukur pada organisasi-organisasi konvensional yang ada di Indonesia. Tetapi di saat yang sama ketika kita melakukan itu, mengukur itu kita juga harus sadar bahwa organisasi kita tidak sebatas disebut sebagai organisasi yang secara struktur dalam aturan-aturan organisasi yang diatur oleh negara kita tidak beda dengan organisasi konvensional,” katanya.

“Namun ada yang membedakannya pada sisi kesadaran teologis dan ideologis kita. Dan di sinilah nilai tambahnya. Di sinilah nilainya yang berbeda dengan organisasi-organisasi konvensional,” sambungnya.

Dia menilai kesadaran tersebut harus mendorong seluruh personalia organisasi untuk membangun struktur yang lebih baik, memperkuat kultur organisasi, serta meningkatkan komitmen dan loyalitas terhadap visi dan prinsip yang diyakini bersama.

Untuk menggambarkan hubungan antara struktur organisasi, personalia, dan kultur, Ustadz Hidayat menggunakan analogi tubuh manusia.

Menurutnya, struktur organisasi dapat diibaratkan sebagai tulang yang menopang tubuh. Sementara personalia yang terlibat di dalamnya merupakan otot dan darah yang menggerakkan organisasi.

Adapun kultur organisasi merupakan jiwa yang memberikan kehidupan dan arah bagi seluruh unsur tersebut.

“Struktur organisasi itu kalau kita ibaratkan anggota tubuh, struktur organisasi itu seperti tulang di dalam tubuh kita. Kulturnya adalah jiwa dari organisasi kita. Personalia yang terlibat di dalamnya adalah otot dan darah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, organisasi tidak akan berjalan optimal apabila hanya memiliki salah satu unsur yang kuat.

Struktur yang kokoh tidak akan cukup apabila tidak didukung oleh personalia yang memiliki kemampuan dan semangat kerja. Sebaliknya, SDM yang kuat juga membutuhkan struktur yang sehat dan mampu menopang seluruh aktivitas organisasi.

“Kalau tulang kokoh, tapi ototnya lemah, darahnya tidak lancar, lemas. Begitu juga kalau ototnya kokoh, darahnya lancar, tapi tulangnya keropos, roboh,” katanya.

Karena itu, seluruh unsur tersebut harus saling menguatkan dan berjalan secara seimbang.

Kultur organisasi, menurut Ustadz Hidayat, harus dibangun di atas prinsip dan nilai yang menjadi pedoman bersama. Salah satu prinsip yang ditekankan adalah istikamah terhadap visi organisasi.

“Kulturnya adalah jiwa yang memberikan vitamin kepada tulang dan otot. Kultur itu berdiri di atas prinsip-prinsip, nilai-nilai. Apa prinsipnya? Istikamah. Istikamah di mana? Istikamah pada visi,” tegasnya.

Melalui kegiatan upgrading tersebut, ia berharap seluruh pengurus dan personalia ABI dapat terus meningkatkan kapasitas diri, memperbaiki sistem kerja, memperkuat struktur organisasi, serta menjaga nilai dan visi yang menjadi dasar perjuangan organisasi.

Dengan penguatan yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan, ABI diharapkan mampu meningkatkan produktivitas organisasi sekaligus memastikan seluruh program dapat dijalankan secara efektif dari tingkat pusat hingga wilayah dan daerah. (*)

Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA