Search

Ustadz Ahmad Hidayat: Upgrading Harus Mampu Mengubah Problem Organisasi Menjadi Solusi

Waketum DPP ABI Ustadz Ahmad Hidayat menjadi narasumber dalam kegiatan upgrading kepengurusan yang dilaksanakan pada Jumat, 12 September 2026. (Berita Alternatif/Ufqil Mubin)

BERITAALTERNATIF.COM – Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI), Ustadz Ahmad Hidayat, menekankan pentingnya membangun budaya organisasi yang berlandaskan keikhlasan, disiplin, transparansi, konsistensi, profesionalitas, dan tanggung jawab.

Menurut Ustadz Hidayat, budaya kerja tersebut harus tumbuh dari kesadaran setiap personalia organisasi dalam menjalankan tanggung jawabnya. Kesadaran itu, kata dia, dapat dibangun melalui upaya mendekatkan diri kepada Rasulullah Saw, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, Sayyidah Fatimah az-Zahra, Imam Hasan, serta Ahlulbait.

“Teman-teman sekalian, mari kita bangun kesadaran itu,” ujarnya dalam kegiatan upgrading organisasi ABI yang diselenggarakan secara daring pada Jumat (11/9/2026) malam.

Dia menilai kesadaran tersebut dapat menjadi sumber lahirnya keikhlasan dalam bekerja. Dari keikhlasan yang dibangun secara konsisten akan tumbuh budaya kerja yang sehat dalam organisasi.

“Budaya kerja kebiasaan ikhlas, bersih hati, disiplin, transparan, konsisten, profesional, bertanggung jawab, dan seterusnya. Itu budaya kerja yang harus dimiliki oleh setiap personalia sumber daya organisasi,” katanya.

Ia mengatakan apabila budaya kerja tersebut dimiliki secara konsisten oleh setiap anggota, maka secara bertahap akan terbentuk budaya organisasi yang kuat.

Ustadz Hidayat menegaskan bahwa budaya organisasi tidak boleh memberikan ruang bagi seseorang untuk hanya menjadi penonton.

Dia mencontohkan bagaimana Rasulullah Saw membangun masyarakat Madinah dengan melibatkan setiap orang dalam berbagai aktivitas. Kepemimpinan Rasulullah juga ditandai dengan keterlibatan langsung dalam pekerjaan dan perjuangan bersama masyarakat.

“Kita tahu Rasulullah Saw membangun organisasi bernama masyarakat Madinah. Kemudian orang mengatakan negara Madinah. Pemimpinnya adalah Rasul. Dia angkat batu, berkeringat di medan perang,” ujarnya.

Ia juga mengutip pengalaman Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib yang menggambarkan keberadaan Rasulullah Saw di tengah para sahabat dalam menghadapi peperangan.

“Amirul Mukminin Ali mengatakan kalau kami berperang, kami berlindung di belakang Rasulullah Saw. Tidak pernah duduk manis Rasulullah,” katanya.

Karena itu, Ustadz Hidayat mengajak seluruh kader ABI untuk membangun budaya keterlibatan. Setiap orang harus bersedia bekerja dan mengambil bagian dalam kehidupan organisasi.

“Dalam organisasi ABI ini semua orang berkeringat, semua orang basah tangannya, bekerja. Ada keterlibatan. Ada konsistensi,” tegasnya.

Ujung Tombak Organisasi

Dia menyebut salah satu ciri budaya organisasi yang sehat adalah adanya konsistensi. Setiap persoalan yang muncul tidak boleh langsung dianggap sebagai jalan buntu.

Ustadz Hidayat mengutip ayat Alquran, “Fa idza faraghta fanshab, wa ila rabbika farghab”, sebagai gambaran mengenai pentingnya terus bekerja dan mengarahkan diri kepada Allah.

Ia juga mengutip prinsip yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib bahwa di balik sebuah persoalan terdapat banyak jalan keluar yang dapat ditemukan.

“Tidak pernah ada kata buntu. Tidak pernah ada kata mentok bagi seorang Syiah. Konsisten terus-menerus. Tidak ada kata berhenti,” ujarnya.

Menurutnya, setiap persoalan justru harus mendorong kader untuk berpikir kreatif dalam mencari solusi.

“Setiap ada satu problem, ada sebelas jalan keluar yang disiapkan oleh Allah. Siapkah kita kreatif? Jadi salah satu cirinya orang yang konsisten itu kreativitasnya muncul,” katanya.

Ustadz Hidayat juga menyoroti pentingnya perubahan pola kerja organisasi agar tidak selamanya bersifat top-down atau terpusat dari DPP.

Dia berharap ke depan kerja organisasi ABI dapat semakin mempertemukan kebutuhan dan kondisi nyata yang ada di wilayah serta daerah dengan kebijakan di tingkat nasional.

“Kalau mau lihat sehatnya organisasi, kita akan berhenti di satu kebijakan top-down. Kita akan paling tidak bertemu di tengah-tengah. Mempertemukan apa kepentingan, apa situasi, apa kondisi riil yang ada di wilayah dan daerah. Lalu kita kolaborasi jadi kerjaan nasional,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini sejumlah program masih banyak diinisiasi oleh struktur pusat, termasuk kegiatan upgrading serta pendidikan kader seperti Pendidikan Tingkat Dasar (PTD) dan Pendidikan Tingkat Menengah (PTM).

Namun, ia berharap pada tahun-tahun mendatang kapasitas tersebut dapat dibangun di tingkat wilayah dan daerah.

“Tahun-tahun yang akan datang kalau antum semua memang bertekad untuk membangun dan membuat organisasi ini, antum di DPD itu adalah ujung tombak,” tegasnya.

Ustadz Hidayat menganalogikan DPD sebagai kaki organisasi. Jika ingin mengetahui kuat atau tidaknya sebuah organisasi, salah satu indikatornya adalah kekuatan struktur di tingkat paling bawah.

“Karena salah satu ukuran organisasi kuat, tulangnya kuat, itu kalau kakinya kuat. Dan kaki organisasi itu ada di DPD,” ujarnya.

Dia menjelaskan, DPD memiliki posisi strategis karena menjadi tempat utama perekrutan dan pengelolaan anggota. Data keanggotaan kemudian diintegrasikan dalam sistem organisasi secara nasional.

“Karena DPD-lah yang punya anggota. Keanggotaan itu didaftar, direkrut dari DPD. Disimpan di database, sistem satu meja di DPP, menjadi satu anggota organisasi secara keseluruhan. Secara nasional,” katanya.

Untuk memperkuat kemandirian organisasi di daerah, ia berharap setiap DPD memiliki tenaga pelatih atau trainer yang mampu menjalankan program kaderisasi.

Dengan demikian, pelaksanaan PTD tidak selalu bergantung pada pengiriman instruktur dari DPP.

“Ke depan setiap DPD itu ada trainer-nya. Sehingga tidak harus kirim dari DPP untuk PTD, instruktur. Yang melaksanakan PTD adalah DPD, instrukturnya ada di DPD atau paling tidak ada di DPW,” jelasnya.

Sementara untuk PTM, Ustadz Hidayat mendorong agar pelaksanaannya dapat diperkuat di tingkat DPW. “Nanti PTL yang ada di DPP,” katanya.

Dia menyebut percepatan penguatan struktur dan kaderisasi tersebut tidak harus menunggu instruksi dari pusat.

“Akselerasinya ada di tangan kita, jangan tunggu orang lain. Ada di tangan kita. Buat percepatan, buat akselerasi pertumbuhan organisasi dari wilayah dan daerah,” tegasnya.

Ia menambahkan, DPW memiliki fungsi strategis sebagai penghubung dan penggerak organisasi di wilayah.

“DPW berfungsi untuk menstimulasi, memobilisasi, mendorong supaya DPD-DPD yang ada di wilayahnya aktif. Jadi DPW itu adalah wajah pusat di wilayah daerah. Dia kerjanya motivasi, mobilisasi, dan seterusnya,” ujarnya.

Upgrading Harus Menjadi Problem Solving

Ustadz Hidayat kemudian menjelaskan fungsi lain dari upgrading, yakni menjadi sarana problem solving bagi organisasi.

Menurutnya, kegiatan upgrading tidak boleh berhenti pada penyampaian materi. Setelah mengikuti kegiatan tersebut, setiap peserta harus mampu mengidentifikasi berbagai persoalan yang terjadi di dalam organisasi dan mencari jalan keluarnya.

“Fungsi upgrading itu untuk membangun, menemukan problem menjadi problem solving. Upgrading itu akan menjadi problem solving bagi organisasi,” katanya.

Dia meminta setiap struktur organisasi melaporkan persoalan yang dihadapi kepada jenjang di atasnya agar dapat dicarikan solusi secara bersama.

“Kirim laporannya ke DPW atau DPD. DPW, mereka laporan itu kirim ke DPP. Ada solusinya, ada jalan keluarnya,” ujarnya.

Ia menegaskan, apabila terdapat DPD yang mengalami stagnasi bahkan terancam tidak berjalan, persoalan tersebut tidak boleh dibiarkan.

“Kalau ada DPD yang hampir mau mati, cari jalan keluarnya, jangan dibiarin. Berikan catatan-catatannya, berikan problemnya, konfirmasi. Laporkan ke DPP, apa masalahnya, apa kendalanya, apa situasi yang sedang terjadi di daerah itu. Dan cari jalan keluar,” tegasnya.

Ustadz Hidayat mengatakan kegiatan upgrading seharusnya membantu organisasi mengetahui kelemahan internal dan memahami penyebab sebuah struktur tidak berjalan secara optimal.

“Sudah saatnya dengan upgrading ini kita tahu di mana kelemahan kita. Kita tahu kenapa organisasi ini tidak berjalan,” katanya.

Fungsi berikutnya dari upgrading, menurut Ustadz Hidayat, adalah menumbuhkan loyalitas. Loyalitas berarti kesetiaan. Namun, kesetiaan tersebut tidak dapat dibangun tanpa adanya keyakinan terhadap apa yang sedang diperjuangkan.

“Teman-teman sekalian, loyal ini setia. Setia itu hanya bisa kalau ada kepasrahan. Dan kepasrahan kalau kita yakin,” ujarnya.

Karena itu, dia mengajak seluruh kader ABI mempertanyakan kembali keyakinan mereka terhadap organisasi dan tujuan perubahan yang hendak dikawal.

“Pertanyaannya, yakinkah kita bahwa bersama dengan organisasi ini kita siap mengawal sebuah perubahan. Mengawal masyarakat untuk penantian Sahibul Asri waz-Zaman. Ini keyakinan yang harus kita tumbuhkan,” katanya.

Menurut Ustadz Hidayat, keyakinan tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun loyalitas kader. Dengan keyakinan yang kuat, setiap personalia diharapkan mampu menjalankan tugas organisasi secara konsisten, tidak mudah menyerah ketika menghadapi persoalan, serta bersedia mengambil bagian dalam proses penguatan organisasi.

Dia menilai, budaya organisasi yang kuat pada akhirnya harus melahirkan cara kerja yang efektif dan strategis. Dengan keterlibatan seluruh kader, penguatan DPD, fungsi koordinasi DPW, serta dukungan sistem dari DPP, ABI diharapkan dapat berkembang secara lebih merata di seluruh wilayah dan daerah.

Bagi Ustadz Hidayat, keberhasilan organisasi bukan hanya diukur dari keberadaan struktur secara administratif, tetapi dari seberapa aktif struktur tersebut bekerja, seberapa kuat kader terlibat, dan seberapa mampu organisasi menyelesaikan persoalan yang dihadapi.

Dengan demikian, upgrading diharapkan menjadi momentum untuk membangun organisasi yang tidak hanya memiliki struktur, tetapi juga memiliki budaya kerja yang hidup, kader yang loyal, sistem yang berjalan, serta kemampuan untuk menemukan dan menyelesaikan berbagai persoalan organisasi. (*)

Penulis & Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA