BERITAALTERNATIF.COM – Persoalan sampah plastik yang terus meningkat mendorong berbagai pihak untuk mencari solusi pengelolaan yang tidak hanya berorientasi pada kebersihan dan kelestarian lingkungan, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Upaya tersebut dilakukan oleh Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Pamulang melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Hibah BIMA Tahun 2026.
Kegiatan PKM tersebut mengusung judul “Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Kursi Bernilai Tinggi untuk Membangun UMKM Melalui Teknologi Eco Brick pada Kelompok Masyarakat Sehat Berseri Desa Tegal Kecamatan Kemang Bogor.”
Program ini dilaksanakan bersama Kelompok Masyarakat Sehat Berseri, Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, sebagai mitra dalam penerapan teknologi sederhana untuk mengolah sampah plastik menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai jual.
Kegiatan pembinaan direncanakan berlangsung secara bertahap selama tiga bulan. Kegiatan perdana dilaksanakan pada 2 Agustus 2026 dan dipusatkan di balai warga dengan melibatkan para ibu yang menjadi pegiat UMKM dari Kelompok Masyarakat Sehat Berseri.
Tim PKM Universitas Pamulang terdiri atas Sudiman, S.T., M.T. selaku ketua pengusul, serta dua anggota dosen sekaligus narasumber, yaitu Yanti Supriyanti, S.T., M.T. dan Aod Abdul Jawad, S.T., M.M. Kegiatan tersebut juga melibatkan dua mahasiswa, yakni Dimas Bayu Pangestu dan Muhamad Arya Kusuma.
Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
Sampah plastik menjadi salah satu persoalan lingkungan yang membutuhkan penanganan secara berkelanjutan. Karakteristik plastik yang sulit terurai secara alami menyebabkan material tersebut dapat bertahan di lingkungan dalam waktu yang sangat lama.
Apabila tidak dikelola dengan baik, penumpukan sampah plastik berpotensi mengganggu kebersihan lingkungan dan menimbulkan berbagai persoalan lainnya.
Melalui program PKM ini, tim Universitas Pamulang berupaya memperkenalkan pendekatan yang menghubungkan kepentingan lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sampah plastik yang sebelumnya dianggap sebagai limbah diolah menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Teknologi yang diperkenalkan adalah eco brick, yaitu metode pemanfaatan sampah plastik dengan memasukkan material plastik yang telah dipersiapkan ke dalam botol plastik bekas, kemudian dipadatkan hingga menghasilkan material yang kokoh dan stabil. Eco brick selanjutnya dapat dirangkai atau digabungkan untuk digunakan sebagai bagian dari produk tertentu, salah satunya kursi.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh materi mengenai konsep eco brick, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan praktik secara langsung. Dengan pendekatan teori dan praktik, peserta diharapkan mampu memahami proses pengolahan sampah plastik sekaligus memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif.
Ketua Tim PKM Buka Kegiatan
Rangkaian kegiatan perdana diawali dengan pembukaan oleh Ketua Pengusul PKM, Sudiman, S.T., M.T. Dalam sambutannya, Sudiman menyampaikan pentingnya kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam membantu masyarakat menghadapi persoalan yang ada di lingkungan sekitar.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi langkah awal dalam membangun kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat melalui penerapan teknologi yang relatif sederhana dan dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan mitra.
Program ini tidak hanya diarahkan agar masyarakat mampu mengurangi sampah plastik, tetapi juga agar sampah yang telah terkumpul dapat memiliki nilai tambah. Dengan demikian, pengelolaan sampah diharapkan dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi produktif yang mendukung terbentuknya UMKM berbasis lingkungan.
Ketua RW 014: Persoalan Sampah Membutuhkan Keterlibatan Bersama
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua Rukun Warga (RW) 014 Desa Tegal, Jumsan, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Dalam sambutannya, Jumsan menyampaikan bahwa persoalan sampah, khususnya sampah plastik, merupakan tantangan yang membutuhkan perhatian dan keterlibatan berbagai pihak.
Menurutnya, pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada satu pihak, tetapi membutuhkan kerja sama antara masyarakat, pemerintah desa, perguruan tinggi, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Dia menilai kegiatan PKM yang dilaksanakan Universitas Pamulang memiliki manfaat yang cukup luas. Selain membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan, kegiatan tersebut juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh keterampilan baru yang berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif.
Jumsan juga menekankan pentingnya keberlanjutan program setelah kegiatan pendampingan dari perguruan tinggi selesai. Menurutnya, hasil pelatihan perlu dikembangkan menjadi kegiatan usaha yang dapat dikelola secara bersama oleh masyarakat.
Kelompok Masyarakat Sehat Berseri diharapkan dapat menjadi salah satu kelompok penggerak dalam pengelolaan sampah sekaligus pengembangan produk kreatif berbasis lingkungan di Desa Tegal.
Di akhir sambutannya, Jumsan mengajak seluruh peserta dan masyarakat untuk memanfaatkan kesempatan yang diberikan melalui program PKM tersebut serta bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan.
Narasumber Kenalkan Konsep dan Teknik Eco Brick
Setelah pembukaan dan sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Yanti Supriyanti, S.T., M.T. dan Aod Abdul Jawad, S.T., M.M.
Dalam pemaparannya, kedua narasumber menjelaskan bahwa persoalan sampah plastik tidak hanya berkaitan dengan aspek kebersihan lingkungan. Sampah juga memiliki dimensi sosial dan ekonomi yang perlu diperhatikan.
Sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik dapat menumpuk dan membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai. Oleh sebab itu, masyarakat perlu memperoleh pengetahuan dan keterampilan mengenai cara mengurangi, memilah, menggunakan kembali, serta memanfaatkan sampah plastik melalui metode yang sederhana, aman, dan dapat diterapkan di tingkat rumah tangga maupun kelompok masyarakat.
Salah satu metode yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah eco brick. Peserta diberikan pemahaman mengenai prinsip dasar pembuatan eco brick, mulai dari pemilihan bahan hingga proses pemadatan.
Kualitas eco brick, menurut narasumber, sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kondisi botol yang digunakan, kebersihan dan kekeringan sampah plastik, jumlah material yang dimasukkan, serta tingkat kepadatan material di dalam botol.
Peserta juga diingatkan agar sampah plastik yang digunakan dalam proses pembuatan eco brick berada dalam kondisi bersih dan kering. Sampah yang masih mengandung sisa makanan atau air dapat menimbulkan bau, memicu pertumbuhan mikroorganisme, dan pada akhirnya menurunkan kualitas produk.
Peserta Praktik Membuat Eco Brick
Dalam sesi praktik, peserta diperkenalkan dengan tahapan dasar pembuatan eco brick. Proses tersebut dimulai dari pengumpulan sampah plastik yang sulit atau belum dapat didaur ulang.
Selanjutnya, sampah dipilah berdasarkan jenisnya, kemudian dibersihkan dan dikeringkan. Plastik yang telah siap dapat dipotong atau diremas agar lebih mudah dimasukkan ke dalam botol.
Material plastik kemudian dimasukkan secara bertahap ke dalam botol dan dipadatkan menggunakan alat bantu yang sesuai. Proses pemadatan dilakukan secara hati-hati agar botol tidak rusak.
Peserta diarahkan untuk memastikan botol memiliki tingkat kepadatan yang cukup serta bentuk yang stabil. Eco brick yang telah memenuhi kriteria kemudian dapat disusun dan digabungkan sesuai desain produk yang akan dibuat.
Pada tahap praktik, peserta memperoleh kesempatan untuk mencoba sendiri proses pengisian dan pemadatan sampah plastik ke dalam botol. Tim PKM memberikan pendampingan secara langsung untuk memastikan peserta memahami teknik yang benar.
Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan karena kualitas eco brick sangat menentukan kekuatan dan kualitas produk yang akan dibuat. Melalui praktik langsung, peserta diharapkan tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga mampu mengulangi proses tersebut secara mandiri setelah kegiatan selesai.
Eco Brick Dikembangkan Menjadi Produk Bernilai Jual
Selain memberikan keterampilan teknis, tim PKM Universitas Pamulang juga memberikan materi mengenai peluang pengembangan eco brick menjadi kegiatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Menurut narasumber, teknologi eco brick dapat dikembangkan melalui sistem usaha kelompok. Masyarakat dapat membagi peran dalam beberapa tahapan, mulai dari pengumpulan bahan baku, pemilahan dan persiapan sampah plastik, produksi eco brick, pembuatan produk, pengendalian kualitas, pemasaran, hingga administrasi usaha.
Pembagian tugas tersebut diharapkan dapat membuat kegiatan pengelolaan sampah menjadi lebih terstruktur. Dengan melibatkan lebih banyak anggota masyarakat, kegiatan yang semula berangkat dari persoalan lingkungan dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi produktif.
Produk kursi berbasis eco brick menjadi salah satu bentuk produk yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut. Produk tersebut diharapkan tidak hanya memiliki fungsi sebagai perabot, tetapi juga membawa nilai tambah karena memanfaatkan material sampah plastik yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi tinggi.
Membuka Peluang Pasar Produk Ramah Lingkungan
Dalam aspek pemasaran, tim PKM menjelaskan bahwa produk berbasis eco brick memiliki peluang untuk dikembangkan melalui berbagai saluran pemasaran.
Produk dapat dipasarkan secara langsung kepada masyarakat maupun melalui kanal digital. Pasar potensial juga dapat diarahkan kepada sekolah, komunitas, tempat wisata, taman, kafe, serta konsumen yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan dan produk ramah lingkungan.
Konsep tersebut membuka peluang bagi Kelompok Masyarakat Sehat Berseri untuk tidak berhenti pada aktivitas pengolahan sampah, tetapi mulai membangun rantai usaha yang mencakup bahan baku, produksi, desain produk, pengendalian kualitas, pemasaran, dan pengelolaan keuangan.
Dengan pendekatan tersebut, sampah plastik tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan yang harus dibuang, tetapi dapat diposisikan sebagai bahan baku alternatif yang dapat diolah menjadi produk kreatif.
Simulasi Pembuatan Kursi
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan eco brick dan simulasi pembuatan kursi. Peserta mengikuti proses tersebut dengan didampingi langsung oleh tim PKM.
Simulasi ini bertujuan memberikan gambaran kepada peserta mengenai bagaimana eco brick yang telah dibuat dapat dimanfaatkan menjadi bagian dari produk yang memiliki fungsi dan nilai jual.
Pendampingan dilakukan secara bertahap agar peserta memahami hubungan antara kualitas bahan baku, kualitas eco brick, desain, proses perakitan, hingga produk akhir.
Melalui simulasi tersebut, peserta diharapkan memperoleh gambaran mengenai kemungkinan pengembangan produk lain yang dapat dibuat dengan memanfaatkan eco brick sesuai dengan kreativitas dan kebutuhan pasar.
Tim PKM Serahkan Peralatan Penunjang kepada Mitra
Sebagai bagian dari dukungan terhadap keberlanjutan program, pada akhir kegiatan perdana tersebut Ketua PKM Hibah BIMA DIKTISAINTEK menyerahkan sejumlah properti dan peralatan penunjang kepada Ketua Kelompok Masyarakat Sehat Berseri sebagai mitra kegiatan.
Peralatan yang diserahkan antara lain mesin pencacah plastik, jemuran plastik, bak penampung, serta berbagai peralatan lain yang menunjang kegiatan pengolahan sampah plastik.
Penyerahan peralatan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat dalam melanjutkan kegiatan pengelolaan sampah setelah pelaksanaan pelatihan. Peralatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun fasilitas sederhana yang dapat mendukung proses produksi secara berkelanjutan.
Dengan adanya peralatan dan pendampingan, Kelompok Masyarakat Sehat Berseri diharapkan mampu mengembangkan keterampilan yang telah diperoleh menjadi kegiatan produktif berbasis kelompok.
Membangun UMKM Berbasis Lingkungan
Pelaksanaan PKM Program Hibah BIMA Tahun 2026 ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dikembangkan melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat. Teknologi eco brick yang relatif sederhana dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengolah sampah plastik sekaligus membuka peluang pengembangan produk kreatif.
Program ini juga memperlihatkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menghadirkan solusi terhadap persoalan lingkungan. Perguruan tinggi berperan dalam memberikan pengetahuan, teknologi, pendampingan, serta dukungan peralatan, sementara masyarakat menjadi pelaksana sekaligus pihak yang diharapkan dapat mengembangkan program secara mandiri.
Bagi Kelompok Masyarakat Sehat Berseri Desa Tegal, program tersebut diharapkan menjadi awal terbentuknya kegiatan usaha berbasis lingkungan yang dapat terus berkembang. Pengelolaan sampah plastik diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pengurangan limbah, tetapi dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai guna, nilai estetika, dan nilai ekonomi.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 2 Agustus 2026 tersebut menjadi tahap awal dari rangkaian pembinaan selama tiga bulan. Tim PKM Universitas Pamulang selanjutnya diharapkan dapat terus melakukan pendampingan, evaluasi, serta penguatan kapasitas mitra agar keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan secara konsisten.
Pada akhirnya, pemanfaatan sampah plastik melalui teknologi eco brick diharapkan mampu memberikan dua manfaat sekaligus, yakni mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Tegal.
Melalui pengelolaan yang terencana dan berkelanjutan, Kelompok Masyarakat Sehat Berseri diharapkan dapat berkembang menjadi kelompok masyarakat yang aktif dalam pengelolaan lingkungan sekaligus menjadi embrio UMKM kreatif berbasis ekonomi sirkular. (*)
Editor: Ufqil Mubin











