BERITAALTERNATIF.COM – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan sedang berupaya membentuk koalisi internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz, setelah blokade yang dilakukan Iran mendorong kenaikan harga minyak global.
Menurut laporan Axios yang mengutip beberapa sumber yang mengetahui masalah tersebut, Gedung Putih berharap dapat mengumumkan pembentukan koalisi tersebut pada akhir pekan ini.
Trump juga sedang mempertimbangkan kemungkinan “penyitaan” depot minyak utama Iran di Pulau Kharg jika kapal tanker terus diblokir di Teluk Persia, kata para pejabat AS. Operasi semacam itu akan memerlukan kehadiran pasukan Amerika di darat.
Blokade tersebut telah mendorong naik harga minyak dan gas global dengan membatasi ekspor dari negara-negara Teluk. Sementara itu, Iran tetap mengizinkan pengiriman minyak mentahnya sendiri ke negara-negara seperti China.
Sumber-sumber menyebut gangguan yang terus berlangsung ini membatasi pilihan Trump untuk mengakhiri konfrontasi, bahkan jika ia menginginkannya.
Trump Minta Dunia Mengatasi Dampak Kebijakannya
Selama akhir pekan, Trump menyerukan bantuan internasional untuk mengamankan Selat Hormuz.
Pada hari Sabtu (14/3/2026), ia menulis di platform Truth Social bahwa AS dan beberapa negara lain akan mengirim kapal perang untuk membuka kembali jalur pelayaran komersial.
Dia juga mendesak negara-negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk bergabung dalam upaya tersebut.
Pada hari Minggu (15/3/2026), saat berbicara kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump mengatakan ia “menuntut” anggota NATO dan para importir minyak besar lainnya untuk membantu mengamankan jalur tersebut.
Dia menambahkan bahwa pembicaraan sedang berlangsung dengan tujuh negara—beberapa di antaranya telah menolak—dan menggambarkan misi tersebut sebagai operasi “kecil”, dengan alasan kemampuan militer Iran telah melemah.
Trump dan pejabat senior pemerintahannya dilaporkan menghabiskan sebagian besar akhir pekan untuk berkoordinasi dengan sekutu di Eropa, Teluk, dan Asia.
Ia juga berbicara dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada hari Minggu, yang menandai perubahan sikap setelah sebelumnya Trump mengatakan Inggris “terlambat” untuk ikut serta.
Negara-negara yang berpartisipasi diharapkan menyumbangkan kapal perang, sistem komando dan kendali, drone, serta aset militer lainnya.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan tujuan utama pada tahap ini adalah mendapatkan komitmen politik, sementara keputusan mengenai logistik dan kontribusi pasukan akan dibahas kemudian.
Inggris Enggan Bergabung, Kirim Pasukan Minimal
Menanggapi seruan Trump agar negara-negara NATO dan sekutunya membantu membuka kembali Selat Hormuz, Inggris hanya mengerahkan kontingen kecil berjumlah delapan pelaut Royal Navy ke kawasan tersebut—menunjukkan pendekatan London yang berhati-hati.
Tim tersebut merupakan bagian dari Mine and Threat Exploitation Group (MTXG) milik Angkatan Laut Inggris. Mereka berangkat dari Portsmouth menuju Bahrain bulan lalu, tidak lama sebelum serangan AS–Israel terhadap Iran.
Meskipun dilengkapi teknologi pencari ranjau otonom, skuadron ini belum pernah diuji dalam pertempuran aktif, sehingga memunculkan pertanyaan tentang efektivitas operasionalnya.
Trump sebelumnya secara terbuka mendesak Inggris untuk menyumbangkan kapal dalam armada global tersebut, dengan mengatakan bahwa negara-negara yang “terdampak oleh pembatasan buatan ini” seharusnya membantu membuka kembali jalur strategis tersebut.
Namun pengerahan terbatas oleh Inggris masih jauh dari skala yang diharapkan oleh presiden AS.
Sementara itu, Jepang dan Australia telah menolak rencana untuk mengirim kapal perang ke kawasan tersebut. (*)
Sumber: Al Mayadeen












